
Biasanya Lucy duduk di belakang tapi kini dia duduk di depan, tepatnya di samping Yohan. Lucy menunggu Yohan selesai bicara melalui telpon, detik kemudian pemuda itu menyimpan HP-nya.
“Nona, kau mau berkemah?” tanyanya.
“Gila bagaimana kalau Pa-”
“Papa dan Abangmu pergi ke California untuk sebulan, barusan yang menghubungiku adalah Tuan Dion.”
“Apa katanya?”
“Katanya kau hanya boleh ke sekolah dan juga ke pusat perbelanjaan saja.”
“Terus kau mau mengajakku berkemah di pusat perbelanjaan atau di sekolah?”
“Di hutan jauh dari sini, ini kesempatankan?”
“Hah?”
Lucy mengurutkan keningnya, sebenernya ada beberapa yang ia takutkan, termasuk kenekatan Yohan yang tidak mengerti apa yang akan dia dapatkan jika melanggar aturan sampai sejauh ini.
“Yohan.”
“Iya?”
“Kau tahu kenapa aku terus terus berganti bodyguard?”
“Aku tahu, lebih tahu lebih darimu, Lucy”
Tatapannya dingin, tapi dia tidak melemparkan itu ke Lucy melainkan menghadap ke depan. Sedangkan gadis itu merinding hanya kerna Yohan memanggilnya dengan nama, bukan lebai tapi lihatlah tatapan kosong Yohan, dia seakan menyimpan sesuatu yang sulit untuk dipublikasikan.
“Nona, jadi 'kan kempingnya?” Raut dingin Yohan tiba-tiba langsung hilang dengan perubahan ekpresi pemuda itu, sepertinya dia sadar kalau barusan membuat Lucy takut.
“I-iya jadi.”
__ADS_1
.
.
Jauh semakin jauh, entah kemana Yohan akan membawa Lucy, Gadis itu sudah ngeri-ngeri sedap ketika melintasi jalanan aspal mulus namun tidak ada satupun kendaraan yang lewat kecuali mobil yang disetir oleh Yohan ini.
“Sudah lima jam, kita sebenarnya mau ke mana? Tak pernah dalam hidupku berada di tempat yang sejauh ini dari rumah.”
“Nona santai saja, kita akan ke tempat yang indah.”
“Yang kulihat hanya pemandangan pohon yang seram, sebentar lagi malam, pasti akan ada hantu yang bergelantungan di atas sana.” Lucy merinding sendiri.
“Ok mari kita turun.”
“Hah?”
“K-kau pasti ada niat membunuhku, ya?” Lucy ketakutan, wajar saja gadis mana yang akan berpikir positif dibawa ke tempat sepi begini. Sebentar lagi malam, sepertinya tempat ini sarang hantu, Lucy sangat takut hantu.
“Nona, tempatnya berada di dalam hutan, kau tenang saja aku sama sekali tidak ada niat jahat padamu.”
Yohan mengulurkan tangannya untuk di genggam oleh Lucy, uluran tangan itu Lucy terima walaupun ia ragu.
“Baiklah aku percaya padamu.”
Lucy mengalami kesulitan melangkah, ini pengalaman pertamanya menginjak tanah seperti ini. Yohan menebas-nebas semak menggunakan ranting, sedangkan Lucy berpegangan pada baju belakang Yohan.
__ADS_1
“Yohan, sudah gelap huhu,” Lucy menangis, semakin mengeratkan pegangan pada belakang Yohan, kakinya juga sudah sangat letih menelusuri jalanan tanah bersemak tinggi.
“Nona sini saya gendong.”
Lucy naik ke punggung Yohan, dia menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Yohan, wangi yang tidak asing dapat ia cium, Lucy merasa nyaman dan rasa takut pun menghilang.
“Kalau Nona mengantuk tidur saja, percaya pada saya.”
“Aku percaya padamu.”
Bukan tanpa sebab Lucy begitu mudah percaya, hanya saja Lucy merasakan kalau Yohan adalah mahluk yang di kirim Tuhan untuk melindunginya. Perasaan nyaman dan tidak asing ini berasa nostalgia entah dari kapan, Lucy tidak ingat.
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....
__ADS_1