Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 06


__ADS_3

Hari pertama bekerja harus memberi kesan profesional, Yohan membukakan pintu mobil mempersilahkan Tuan Putrinya masuk, bukannya mendapat respon bagus malah ejekan yang ia terima.


“Lebai! Aku bisa buka pintu sendiri,” kata Lucy memandang remeh Yohan. Biarpun begitu dia tetap masuk melalui pintu yang dibuka.


Tidak apa-apa, ini Lucy. Gadis kecil yang pernah ia rawat dan memandikan sampai menidurkan kembali, sifat menyebalkan Lucy yang sekarang bukanlah apa-apa bagi Yohan.


“Anda ingin singgah ke suatu tempat, Nona?” tanya Yohan setelah duduk di bangku kemudi.


“Kalau aku tidak ada bilang apa-apa berarti enggak ada!”


“Baiklah saya mengerti.”


Mobil pun melesat meninggalkan perkarangan rumah, dengan segala kesunyian, hanya terdengar suara mesin mobil di antara mereka.


Sesampainya di sekolah, Yohan kembali membukakan pintu mobil untuk Lucy, tidak perduli hinaan yang akan keluar dari mulut gadis itu. Yohan mengikuti langkah Lucy dari belakang, beberapa siswi berbisik-bisik melihatnya.


“Eh itu bodyguard Lucy, ya?”


“Abangnya kali, masa bodyguard seganteng itu?”

__ADS_1


“Aku pernah liat abangnya Lucy, bukan dia orangnya.”


“Berarti memang betul itu bodyguardnya, kalian tau sendiri 'kan Lucy selalu berganti-ganti bodyguard, dasar Nona Kaya Lebai.”


Memang ya orang cantik selalu jadi perbincangan. Lucy terkenal sebagai primadona sekolah, dia cantik dan kaya, laki-laki mana yang tidak mengidolakan Lucy? Ada, ada satu laki-laki yang tidak tertarik dengan Lucy, namanya Bagas, dia merupakan ketua OSIS di sekolah ini.


Ada beberapa hal yang membuat Bagas membenci Lucy, nanti saja kita bahas dia, kembali lagi ke Lucy.


“Kamu duduk di bangku belakang sana, bodyguardku yang dulu juga begitu.”


Yohan mengikuti arah telunjuk Lucy, ternyata memang ada satu kursi yang tampak berbeda, dikhususkan untuk bodyguard gadis itu. Setelah Yohan duduk di sana, barulah Lucy menghampiri Vivi sahabatnya yang tempat duduknya berada di samping tempat duduk Lucy.


“Bodyguard baru lagi ya, Cy?” tanya Vivi. “Kali ini masih muda ya, ganteng lagi.”


“Uuuu kau ini, padahal Bagas gak pernah nganggep kamu loh.”


“Biarin! lama-lama dia juga pasti akan luluh. Aku ini bagaikan matahari dan bagas adalah es balok, aku akan terus menyinari es itu agar perlahan meleleh.”


Kau bukan matahari tapi kau adalah bintang, batin Yohan mendengar obrolan dua cewek itu. Pemuda satu ini entah apa yang ia tanamkan pada otaknya sendiri.

__ADS_1


“Eh Lucy kalungmu ....” Vivian menggapai buah rantai yang terpasang di leher Lucy, dengan seksama dia memindai lalu kemudian menatap Lucy heran. Ini seperti barang murahan, pikirnya.


“Terlihat berbedakan hihi.”


Lucy tampak senang memamerkan kalung itu, tapi dia tidak memamerkan tentang siapa si pemberi kalung. Ya, tidak apa-apa, Yohan tidak begitu ingin namanya di sebut.


Teng~ teng~ teng.


Bel sekolah berdenting, para peserta didik di luar bergegas masuk ke kelas.


Ada satu cewek yang menjadi musuh bebuyutan Lucy, namanya Karin dia gadis cantik berkulit coklat muda yang tidak mungkin bosan jika terus melihatnya. Tapi gadis itu selalu panas jika ada yang membicarakan sesuatu yang bagus untuk Lucy, sifat iri dengkinya menjadi kekurangan di tampang cantiknya.


“Liat tuh Karin natap kamu segitunya loh, Cy.”


“Mungkin dia mendengar aku menjadi pembahasan lagi di luar.”


Sialnya Lucy malah satu kelas dengan Karin, sepertinya takdir sengaja mendekatkan Lucy dan Karin untuk terus saling membenci.


Tbc.

__ADS_1


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....


__ADS_2