Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Bab 81


__ADS_3

Yohan tahu betul kalau Lucy tidak bisa memasak, maka dari itu malam ini dia akan pulang walaupun besok harus pindah kota lagi karena alasan itu. Lagi pula dia tidak tenang meninggalnya Lucy terlalu lama apalagi sejak kejadian Lucy yang sempat diculik.


Sebelum pulang Yohan berinisiatif membawa makan malam berupa Nasi goreng, ini sudah pukul 18.47 Lucy pasti tidak berani keluar untuk mencari makan malam sendiri.


“Bang, Nasi gorengnya dua bungkus ya,” pesan Yohan lalu kemudian duduk di kursi tunggu.


“Yohan?”


Merasa dipanggil Yohan pun menoleh ke samping, ternyata ada ibunya, Dilla, yang juga berada di tempat yang sama.


“Mama beli Nasi goreng juga?”


“Iya, oh iya ini anak teman mama namanya Bina.” Dilla merangkul gadis berambut pirang di sebelahnya.


“Kami sudah saling kenal kok Tan,” jawab gadis itu.


Kalian ingat gadis yang sempat mengobrol dengan Yohan saat pria itu menjaga para tawanan di hutan? Inilah gadis itu, dia adalah Bina. Ternyata gadis itu berhasil lolos saat pemindahan lokasi menuju tempat persembahan.

__ADS_1


“Oh jadi kalian sudah saling kenal? Bagus dong. Coba kalian pendekatan dulu, mana tahu cocok iyakan,” kata Dilla yang ingin Bina menjadi menantunya.


“Tante apa sih, Yohan kan suka sama gadis lain. Iyakan Yohan?”


Yohan tidak menanggapi, dia berdiri karena pesanannya sudah jadi.


“Dasar anak itu, dia tidak pernah mendengarkan kataku, memang secantik apa sih Lucy itu? Aku penasaran,” rutuk Dilla menatap Yohan yang hendak masuk ke dalam mobil.


Bina mencoba mengingat foto gadis yang pernah sempat ia lihat walaupun tidak jelas. “Aku juga penasaran, Tan,” katanya.


“Sudahlah, Bin. Yuk kita bayar.” Dilla menghampiri abang penjual untuk membayar. “Semuanya berapa, Bang?”


.


.


Di sini Lucy sudah menyerah dengan kepala yang terbaring di atas meja, perutnya sangat lapar tapi tak ada satu pun masakan yang Lucy buat bisa diterima oleh lidahnya sendiri.

__ADS_1


“Aku lapar,” keluhnya yang ingin menangis.


Namun tiba-tiba ada seseorang dari belakangnya meletakkan bungkusan di atas meja. Saat Lucy memutarkan kepala mendongak ke atas ternyata langsung bertemu dengan wajah Yohan.


“Yohan! Kau pulang?”


Yohan beralih mengambil dua buah piring lalu duduk di samping Lucy sambil berkata, “aku tidak bisa meningkatkanmu dengan tenang, Lucy.” Tangannya mengelus rambut Lucy.


“Yohan aku sangat lapar, jangan menggombal nanti kau yang kumakan.” Lucy membuka sudah siap menyantap apa yang dibawa Yohan. Lucy sangat beruntung mendapat cinta dari pria seperti Yohan.


Setelah selesai makan, Yohan ingin membersihkan dapur yang dibuat kacau oleh Lucy. Namun baru saja dia ingin memegang sapu, terlebih dahulu Lucy mengambil sapu itu.


“Serahkan semua urusan rumah padaku, kau pasti capek kan?” Lucy mendorong tubuh Yohan menuju kamar pemuda itu. “Istirahatlah, percayakan semua padaku.”


Setelah Lucy pergi Yohan masih melongo di ambang pintu. “Mamangnya, dia bisa ya?” tanyanya sendiri merasa kurang yakin dengan kemampuan Lucy yang tidak pernah memegang sapu sebelumnya


Sedangkan Lucy berusaha semaksimal mungkin, dia hanya perlu memungut serpihan di lantai dan juga mengayunkan sapi kan? Itu hal yang mudah. “Aku tidak ingin jadi beban sejati,” batinnya.

__ADS_1


Ya, gadis ini sudah cukup sadar diri dengan posisinya yang tidak lagi menjadi majikan. Dia ingin mempelajari banyak hal dalam urusan pekerjaan rumah tangga agar Yohan tidak mengerjakan semuanya sendiri.


__ADS_2