
Sudah enam bulan lebih bangku tempat duduk Lucy di sekolah kosong, begitu pula dengan bangku untuk pengawalnya. Vivi menatap sedih bangku itu, rumor tentang kematian Lucy dan Yohan menjadi gosip panas di sekolah.
“Lucy.” Vivi menangis pelan, masih teringat olehnya gambaran ceria wajah Lucy. Sudah lama Vivi tidak melihat Lucy bahkan mereka tidak pernah saling berhubungan lagi semenjak Vivi kepergok pacaran sama Bagas.
Karin datang. “Dia sudah meninggal, menyesalkan lebih memilih cowok dibandingkan sahabat. Coba kamu dulu mengalah sama Lucy, mungkin perpisahan tidak akan se bersalah itu. Lucy tidak pergi ke sekolah lagi juga pasti gara-gara enggak mau ketemu kamu, Vivi.” celetuk Karin begitu kejamnya.
“Meninggal? Itu pasti hanya rumor.”
“Haloooo, lihat TV sana. Mobil meledak sampai seperti itu masih bisakah orang hidup? Lagian Lucy banyak dosanya, mungkin itu karma.” Karin tertawa mengejek, tidak ada rasa iba sama sekali di hatinya.
Vivi cuek dengan omongan Karin, mulut gadis itu memang susah di rem, lebih baik dibiarkan saja dari pada menanggapinya itu hanya akan membuat Vivi semakin terpojok saja nanti. Hanya Lucy yang bisa melawan mulut pedas Karin.
“Kalau ada Lucy kamu bisa habis.”
“Kalau?...pffft ahaha nyatanya dia sudah mati tuh. Sudah ya aku mau pergi makan dulu, silakan lanjut menggalaunya.”
Di kelas lain Bagas juga termenung, dia juga kepikiran gosip tentang Lucy. Tidak dipungkiri ada perasaan duka di hatinya, siapa yang menyangka gadis cantik yang selalu mengejarnya pergi secepat itu?
Tanpa Lucy, Bagas memang merasa tenang bebas menjalin hubungan dengan Vivi. Tapi... dia kesepian, semenjak Lucy tidak masuk sekolah lagi wajah Lucy malah terus terbayang.
“Gas!” tegur Alen sahabat Bagas yang mengidolakan Lucy.
__ADS_1
“Hmm ada apa?”
“Semalam hari ulang tahunnya Lucy.”
“Terus?”
“Tidak ada, aku hanya teringat dulu dia mentraktir satu sekolah di setiap ulang tahunnya. Sekarang sudah tidak ada lagi.” Air mata Alen jatuh. Bayangkan saja jika idola kalian meninggal, begitulah perasaan Alen.
“Iya juga,” balas Bagas yang ikut sedih.
“Rumor itu memang benar ya? Kok keluarga Lucy tidak ada konfirmasi ya ke media? Padahal beritanya sudah menyebar luas.”
Tiba-tiba datanglah Vivi ke kelas Bagas. “Kak,” panggilnya.
“Vivi, ada apa?”
Dengan mata yang masih sembab Vivi berdiri di hadapan pacarnya.
“Kau menangis sayang?” tanya Bagas sembari menghapus air mata Vivi.
“Ke rumah Lucy yuk kak, aku yakin dia masih hidup. Pasti keluarganya saja yang menyembunyikan dia, kakak tahukan seberapa tertutup keluarganya itu.”
__ADS_1
“Karena tertutup itu kita tidak bisa sembarangan ke sana.”
“Kita coba dulu, mana tahu bisa iyakan”
“Media saja tidak berani datang ke sana Vi, bagaimana kita bisa?”
“Lucy menyukai kakak, kalau melihat kakak dia pasti mau keluar.”
Bagas terdiam sejenak, Alen juga menatap Bagas dengan penuh harap. Sungguh berita kematian Lucy tidak dapat ia terima, Alen juga ingin ikut memastikan.
“Ayolah Gas, kita coba saja dulu. Kalau gagal ya kita pulang.”
“Kak tolonglah, biarkan aku menuntaskan rasa bersalah ini,” isak Vivi.
Karena di desak dua orang sekaligus akhirnya Bagas menyetujui nya, dia sebenarnya juga ingin melihat Lucy. “Baiklah,” jawabnya. Semoga saja kematian Lucy hanya sekedar rumor saja.
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!...
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....
__ADS_1