
Sementara itu Yohan harus pergi ke rumah yang rasanya malas ia pijak. Rumah Dilla, mamanya. Wanita itu sudah menikah bahkan saat Yohan ingin kembali padanya saat kecil dulu. Dilla tampak bahagia dengan keluarga barunya oleh sebab itu dia tidak mau mengusiknya dan memilih hidup sendiri.
Di teras rumah sederhana itu Yohan melihat Dilla tengah menimang bayinya, wanita itu sudah memiliki dua anak, itu adalah adik Yohan walaupun beda bapak.
“Astagfirullah!” kaget Dilla ketika menyadari ada orang yang entah sejak kapan di sampingnya. “Yohan! Kau mengagetkanku.”
Dilla mengenali Yohan, karena walaupun Yohan hidup sendiri tapi dalam jangka satu tahun setidaknya sekali dia akan mengunjungi wanita yang melahirkannya.
“Apa kabar, Ma?” Yohan bermuka datar, dia enggan tersenyum pada wanita itu. Masih dalam posisi berdiri, Yohan mengeluarkan sebuah lembaran foto dan bertanya tanpa menunggu respon Dilla atas sapaannya. “Pria di dalam foto ini pernah menjadi pelangganmu, kan?”
Dilla memperhatikan seksama foto itu. “Aku tidak ingat, sudah lama aku meninggalkan status lacur.” Ini adalah jawaban jujur Dilla, dia sudah banyak sekali tidur dengan pria berbeda di masa lalu, mana mungkin dia ingat wajah mereka semua, adapun yang ia ingat paling hanya beberapa.
“Benarkah?”
“Aku tidak bohong, lagian ada urusan apa kau dengan pria itu? Tentang nona terkasihmu itu lagi?”
Yohan menatap Dilla tajam, memang wanita itu sering menyinggung tentang Lucy jika bertemu dengannya. Dilla tahu perjanjian antara Yohan dan Emelly, kerena Yohan selalu memikirkan dan menyebut nama Lucy bahkan dalam tidurnya. Hal seperti itu bisa terjadi kalau Lucy tidak berada di samping Yohan.
__ADS_1
Yohan ingin melangkah pergi, tadinya Yohan pikir Dilla tahu tentang pria itu tapi ternyata tidak. Dari pada mendengar pendapat Dilla tentang Lucy lagi lebih baik pergi dari sekarang, kuping Yohan panas mendengarnya.
“Mau pergi ke mana kau?”
Yohan berhenti melangkah. “Pergi,” jawabnya tanpa berbalik.
“Saranku lebih baik kau lupakan saja janji pada Emelly. Tinggalkan Lucy dan menikahlah dengan gadis yang tidak punya banyak masalah, miris sekali melihat kau jadi budak seperti ini.”
Yohan mengabaikan ucapan Dilla, saat dia ingin kembali pergi, namun lagi-lagi Dilla menghentikannya.
Yohan mengerti apa yang dimaksud wanita itu, tak berpikir panjang lagi dia memberikan uang merah sebanyak tiga puluh lembar.
“Terima kasih, Abang,” kata Dilla dengan melambaikan tangan Maila.
“Hmm.”
Pada akhirnya Yohan pergi dari sana tanpa membawa sedikit pun informasi.
__ADS_1
Dilla tersenyum melihat uang lima juta dalam genggaman, memang ekonomi keluarganya akhir-akhir ini sedang tidak bagus. Sayang sekali hubunganku sama Yohan buruk, andaikan aku merawat dia dengan baik waktu kecil, mungkin sekarang aku tengah mandi uang. Pelit amat cuman memberi lima juta, tapi enggak apa-apa deh, Lumayan.
Kemudian suami Dilla datang menghampiri. “Sudah pergi Yohan nya?” Tadi pria ini mau menghampiri Dilla yang tengah berada di teras, tapi karena melihat Yohan dia memilih untuk mengintip saja sampai pemuda itu pergi.
“Sudah.”
“Itu..”
“Yohan yang kasih, lumayanlah untuk simpanan kita menjelang kamu dapat pekerjaan baru.”
Suaminya mengangguk sembari tersenyum tipis, dia sama Yohan memang tidak pernah terlibat cekcok bahkan saling berkomunikasi pun tidak pernah. Tapi Yohan menghargainya sebagai suami Dilla begitu juga sebaliknya.
“Tidak apa-apa menerima sebanyak itu?”
“Anak itu berbeda dengan papa kandungnya, Yohan bukanlah berengsek yang suka main-main, dia pekerja keras. Uang segini bukan apa-apa baginya,” kata Dilla meyakinkan suami agar tidak merasa berat hati dan sungkan menggunakan uang itu.
Tbc
__ADS_1