
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam-diaman, setelah sampai rumah Lucy langsung menginterogasi Yohan. “Katakan padaku, siapa pacarmu?” telunjuk Lucy mengarah pada muka Yohan, mata Lucy melotot tanda kalau dia sangat serius.
“Saya tidak punya pacar, Nona.”
“Bohong! Hadian tadi untuk siapa?”
“Itu...”
“Kau tidak akan meninggalkanku kan Yohan?” Suara Lucy merendah, air di pelupuk matanya menggenang. Dia takut Yohan meninggalkan Lucy demi pacarnya, pasti suatu saat begitu. Siapa yang akan menjaga Lucy kalau Yohan termakan kecemburuan si pacar?
Yohan tersenyum tipis menarik Lucy ke dalam pelukannya, dia tahu apa yang ditakut kan gadis itu. “Saya tidak akan mencari pasangan sebelum Nona menemukan orang yang tepat untuk menjadi teman hidup Nona, tenang saja”
Mulutnya berkata begitu namun hatinya terasa berat dengan hanya membayangkan Lucy bersanding dan memiliki anak dengan pria lain.
Terus apa yang akan terjadi pada Yohan? Sejak kecil tujuan hidupnya hanya terarah pada Lucy. Jika gadis itu sudah bahagia dengan pria lain berarti tugas Yohan sudah selesai, waktunya untuk mengakhiri hidup yang hampa.
“Kau janjikan Yohan?”
“Saya janji, hidup saya hanya untuk memastikan Nona aman.”
Lucy mendongak menatap mata orang yang mendekapnya. “Mama tidak salah memilihmu, terima kasih Yohan,” katanya dengan senyuman.
>>>
__ADS_1
Tengah malam Lucy terbangun mendengar suara lemari yang terbuka, matanya langsung menangkap Yohan yang berdiri di depan lemari itu.
“Yohan kau sedang apa?”
Yohan berbalik menghadap Lucy yang menatapnya dengan mata yang separuh terpejam. “Tidurlah lagi nona, saya hanya ingin pergi sebentar.”
“Pergi ke mana?”
“Kerja.”
“Kerja? Kau kan kerja menjagaku ... eh” Akhirnya Lucy sadar kalau papanya sudah tidak menggaji Yohan lagi, dengan kata lain Lucy bukan lagi majikan Yohan melainkan bebannya saja. “Kok aku baru sadar sih? Dia bukan budakku lagi,” ucapnya dalam hati.
“Nona lupa ya? Tidak apa-apa, saya akan tetap melayani Nona walaupun tidak dapat imbalan,” kata Yohan sembari memasang tali pinggangnya.
“Nona aku tinggal sendiri tidak apa-apa kan?”
“Kapan kau pulang?”
“Malam besok.”
“Kau ingin meninggalkan aku sendiri di tengah malam ini? Aku takut Yohan. Tetangga bilang ada lihat pocong di dekat pohon pisang halaman rumah kita.”
“Itu bualan mereka saja Nona, tetaplah di dalam, Nona akan aman.”
__ADS_1
“Kalau pocongnya masuk bagaimana?”
“Enggak bakalan masuk, percaya padaku.”
Awalnya Lucy santai saja mendengar cerita tetangga yang entah benar atau tidak itu karena dia bersama dengan Yohan, lalu bagaimana kalau tidak ada Yohan? Tentu saja dia takut.
“Kamu enggak boleh pergi malam ini, kalau mau pergi besok pagi saja pulangnya juga sebelum malam.”
Yohan menghembuskan napas pelan, kemudian dia berjalan mendekati Lucy lalu merebahkan tubuh di samping Lucy. “Baiklah besok pagi saja saya pergi.”
Lucy berbalik memeluk Yohan, dia pastikan Yohan tidak bisa kabur malam ini. “Bajumu kenapa tidak di ganti?”
“Terlanjur memakai ini ya sudah biarkan saja.”
“Awas saja kamu kabur, ya!”
“Nona sudah mendekap saya, bagaimana caranya saya kabur?”
Dua jam kemudian...
Lucy sudah terlelap, perlahan Yohan melepaskan diri dari delapan gadis itu. Ya.. berhasil. Yohan tidak punya waktu untuk menunggu sampai pagi, dia aslinya adalah seorang tentara bayaran. Kali ini dia di bayar untuk mengawasi mobil yang membawa barang lelang dari para perompak.
“Aku pergi dulu Nona,” pamitnya sembari meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.
__ADS_1
Tbc.