
Kejadian tadi cukup membuat Lucy ketakutan, hingga detik ini tangannya masih gemetaran walaupun dia sudah berada di kelas.
Orang-orang yang tahu apa yang terjadi dengan Lucy hanya saling berbisik dengan temannya tanpa berniat untuk menenangkan Lucy yang tengah ketakutan. Ya, lagian mereka tidak sedekat itu dengan Lucy.
Kemudian Vivi masuk kelas di antar oleh Bagas, pandangan Vivi langsung jatuh pada gadis yang terduduk pucat di sana.
“Lucy kau sakit?” tanya Vivian menghampiri Lucy.
Lucy mendongak setelah mendengar suara Vivi, air mata langsung jatuh karena orang yang paling dekat dengan dia di sekolah ini sudah datang.
“Vivi, mereka menggangguku.”
Kelihatan sekali kalau Lucy sedang cemas, bahkan gadis itu sampai pucat. Seumur hidupnya, ini pertama kali Lucy diganggu oleh orang.
Vivi langsung memeluk gadis yang tengah menangis itu. “Siapa yang mengganggumu?”
“Anak-anak cowok di kelas sebelah, mereka menghadang dan menepuk pantatku.”
__ADS_1
Vivi mengerti kenapa mereka mengganggu Lucy, itu karena sudah tidak ada lagi orang yang mengawal Lucy ke mana pun gadis itu pergi.
“Mulai sekarang kau harus berhati-hati Lucy, mereka itu memang anak-anak nakal. Kau tidak tahu karena tidak pernah diganggu siapa pun sebelumnya, kan? Tapi sekarang berbeda, papamu meninggal abangmu koma dan juga kau tidak dikawal lagi, mereka berpikir tidak ada lagi yang mengancam mereka jika mengusikmu,” jelas Vivi agar Lucy mengerti mulai sekarang dia harus pandai-pandai menjaga diri.
“Terus sekarang aku harus apa?”
“Beri tahu saja pada Yohan, biar habis tuh anak-anak digebuki.”
Lucy berpikir sejenak, haruskah dia mengadu? Namun tidakkah dia terlalu bergantung pada Yohan? Ini menyebalkan, tapi Lucy harus belajar mengandalkan diri sendiri.
“Tidak Vivi, Yohan banyak pekerjaan, dia pasti sangat lelah. Aku tidak boleh terus-terusan bergantung padanya.”
“Itu bagus, namun jika kau memang tidak bisa menyelesaikan sendiri, tidak apa-apa bergantung pada orang yang kau percaya.”
Vivi berhasil menenangkan Lucy, setidaknya gadis itu sudah memiliki kepercayaan diri dan pendirian untuk tidak menjadi gadis manja lagi.
Sudah pukul delapan pagi, kehadiran sosok guru di kelas Lucy belum juga terlihat, kemudian ketua kelas pergi untuk menanyakannya di ruang guru.
__ADS_1
10 menit kemudian ketua kelas datang bersama seorang pria muda, pria itu duduk di tempat guru.
“Selamat pagi semua,” sapanya. “Selanjutnya saya akan menjadi guru bahasa Inggris kalian, perkenalkan nama saya Akmal.”
Lucy ingat wajah itu, itu adalah pria yang membantunya tadi, ternyata benar kalau pria itu memang guru.
Pelajaran kelas hari ini cukup singkat, separuh waktu mereka digunakan untuk perkenalan. Akmal sekarang juga tahu nama gadis cantik yang ia tolong tadi adalah Lucy.
“Nama yang bagus,” batinnya. Kemudian Akmal melihat gadis lain, yaitu Karin. Gadis itu malah memandangnya dengan mata yang melotot besar.
“Kenapa Abang di sini!” kalimat itu terucap hanya lewat gerakkan mulut namun Akmal mengerti.
Akmal hanya menampakkan wajah songong kepada Karin. Ya begitulah dua saudara yang menjadi guru dan murid.
Sedangkan Karin merutuk kesal dalam diam, dia tidak tahu kalau abangnya sudah pulang dari luar negeri, terlebih sekarang tiba-tiba jadi guru bahasa Inggris di sekolahnya.
“Jangan sampai dia akan tinggal bersamaku,” batin Karin. Dia berpikir seperti itu karena di kota ini satu-satunya keluarga Akmal hannyalah Karin.
__ADS_1
Tbc.