Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 43


__ADS_3

Para pelayan kembali dilanda ketakutan, mereka harus kembali membangunkan Lucy kerna Yohan tidak ada. Di depan pintu kamar Lucy mereka saling dorong kerna membangunkan Lucy adalah salah satu hal yang menakutkan.


“Kau saja!”


“Kau saja!”


“Ihhh kenapa harus Yohan sih yang pergi?”


“Atau kita minta tuan Sangga saja?”


“Bodoh! Dia kan pergi mengantar Yohan.”


Asik berdebat di situ, ternyata suara mereka mengusik Lucy di dalam sana. Lucy keluar dengan mata yang separuh pejam. “Brisik! Pergi sana.”


Mereka berdua mematung di tempat dengan rasa yang sangat gugup. Tapi jika terus berdiam akan semakin runyam nantinya. “Selamat pagi Nona, ini sudah pukul 6.30 waktunya anda untuk bersiap ke sekolah.”


“Kemana Yohan? Kenapa dia tidak membangunkanku?”


“Dia pergi, saya pikir dia sudah pamit dengan Anda”


Lucy berpikir sejenak, oh iya benar juga, semalam Yohan ada bilang. “Oh,” singkat Lucy kemudian kembali masuk ke dalam kamar.


>>>


Lucy sudah sarapan, dia seorang diri tadi di meja makan, entah kemana Dion dan juga Sangga. Saat dia keluar, seorang pria menyambut kehadirannya.


“Kau? Ngapain di sini?”

__ADS_1


Tak hanya Lucy yang kaget, pria itu juga tidak menyangka orang yang akan menjadi majikan adalah gadis yang ia tumpahi kopi saat di kapal pesiar.


“Perkenalkan saya Aris, selama enam bulan ke depan saya akan mengawal Anda” Aris membungkukan badannya hormat.


Bagaimana ini? Bagaimana kalau Aris bilang kalau mereka pernah bertemu di kapal pesiar pada Dion. Bisa gawat kan? Perlukah meminta Aris untuk tutup mulut? Tidak jangan, takutnya hal itu malah dimanfaatkan oleh Aris sebagai kelemahan Lucy.


“Adiknya seberengsek itu, abangnya pasti sama saja,” batin Lucy ketika mengingat Kelvin yang menipunya.


“Aris“


“Iya Nona?”


“Aku tidak suka dengan pengawal yang banyak bicara, kau mengerti maksudku?”


“Saya mengerti Nona”


“Akan saya terapkan pada diri saya sendiri, Nona.”


Yah begitulah cara Lucy menutup mulut Aris tampa menunjukkan kelemahannya. “Ayo pergi ke sekolah.”


Aris membukakan pintu. “Lebay sekali kau! Aku bisa buka pintu sendiri.” Seperti biasa Lucy akan selalu seperti ini jika dengan pengawal baru.


Aris ternganga, baru pertama kali dia mendapati majikan yang benar-benar tidak menghargai usaha pengawal untuk menghormatinya. Dulu Aris selalu mendapat majikan yang setidaknya tau cara berterimakasih.


>>>


Sampai di sekolah Lucy kembali digunjingi tentang dirinya yang selalu berganti pengawal.

__ADS_1


“Kau duduk di sana,” tunjuk Lucy ke tempat duduk Yohan sebelumnya.


Aris menurut, dia duduk di sana sambil memperhatikan seisi kelas. Lucy berada di depannya dengan seorang gadis yang siap melempar pertanyaan.


“Yohan kemana?” tanya Vivi.


“Dia ada urusan lain, enam bulan kedepan pengawal baru itu yang akan mengekori aku.”


“Di pecat? Padahal nampaknya kau lebih nyaman sama Yohan deh.”


“Masa sih?”


“Iya, kamu lebih banyak senyum semenjak bersama Yohan.”


“Aku tidak tau soal itu.” Lucy tidak sadar kalau Yohan adalah satu-satunya orang yang membuatnya mengenal banyak hal tentang kebebasan. Pemuda yang tidak pernah marah pada Lucy serta melakukan apapun agar Lucy bahagia, tidak perduli jika nyawanya bisa saja ditarik keluar oleh Dion jika ketahuan.


“Jadi Yohan benaran berhenti?”


“Enggak, dia akan kembali enam bulan lagi.”


“Lama banget ya.”


“Kenapa emangnya? Ada atau tudak sama saja.”


“Hmm? Kupikir Yohan membuatmu bebas.” Vivi kemudian melirik Aris, di mata Vivi terlihat biasa saja. Kemudian Vivi berbisik. “Menurutku pengawal yang paling tulus denganmu hanyalah Yohan.”


Tbc.

__ADS_1


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!...


__ADS_2