
“BAAA!”
Vivi kaget dengan gadis yang mengusik lamunannya. “Lucy jantungku hampir lepas”
“Lagian pagi-pagi udah ngelamun, kesambet entar baru tau rasa.” Lucy duduk di bangkunya, dia memang baru datang. “Kamu mikir apa Vi?”
“Gak ada mikir ap-apa.”
“Bohong. Lagi ada masalah, ya?”
“E-enggak kok.”
“Keliatan banget bohongnya, yaudah deh kalau gak mau cerita, aku do'ain masalahmu cepat selesai.”
“Hmm~ kamu udah ngerjain PR?”
“Ada PR ya?” Lucy gak ingat kalau dia ada PR itu berarti gadis itu belum mengerjakannya.
“Nih cepat salin,” ucap Vivi sambil menyerahkan buku, memang Lucy selalu membiarkan Lucy menyalin PR-nya dan begitu juga sebaliknya.
“Hehe makasih, Vi” Langsung saja Lucy mencatat dengan cepat.
Kerna Lucy sedang sibuk menyalin tampa sadar Vivi kembali melamun, sebenarnya Vivi tidak sendiri yang terjebak dalam renungan, ada Yohan yang juga sama melamun dengan mata yang terus terpaku pada Lucy di depan. Ada dua orang yang tengah galau dengan mata yang tertuju pada gadis yang tengah menyalin PR.
Jam istirahat sekolah Lucy dan Vivi duduk di kantin sekolah, namun Lucy tiba-tiba menemukan Bagas yang seperti tengah menatapnya. “Eh eh Vi, kok Bagas natap aku gitu sih?” geer Lucy tersenyum-senyum.
Bukan Lucy yang ditatap Bagas melainkan Vivian, gadis itu menundukkan kepala, biarkan Lucy geer dari pada curiga dengannya.
“*Nona pede banget, padahal yang di tatap cecunguk itu, Vivi*” batin Yohan tersenyum senang, dia sedikit merasa lega. Setidaknya Bagas tidak tertarik dengan nona cantiknya.
\>\>\>
__ADS_1
Jam selanjutnya buk Asya masuk, dia membagikan kertas ulangan minggu lalu satu persatu pada siswa. “Yang dapat nilai di atas rata rata cuman 6 orang dari 32 siswa, kalian tidak belajar ya di rumah? padahal udah ibu kasih tau ada ulangan,” Rutuk Asya, dia adalah guru sejarah dan kalian mengertikan pelajaran sejarah itu panjang kali lebarnya minta ampun.
“Kau dapat nilai berapa, Cy?” tanya Vivi.
“25, kau?”
“78, salah dua cuman.”
“Berarti kau salah satu dari enam orang yang lulus Vi.”
Vivi memang pintar, dia rengking empat di kelas sedangkan Lucy jangan ditanya lagi, dia naik kelas aja hasil nyogok guru. Setiap orang memiliki kepintaran dibidang berbeda, Lucy tidak pintar dalam ilmu pengetahuan tapi dia sangat jago dalam hal melukis.
“*Yohan ngapa lihat Lucy terus sih*,” batin buk Asya, sesekali melirik Yohan yang tidak melepaskan pandangan pada Lucy. Ingin dekat tapi banyak anak-anak dalam kelas ini, apa yang mereka pikirkan nanti?.
Yohan bagaikan patung yang tidak bergerak sama sekali, hembusan angin dari luar jendela hanya menggerakkan rambutnya sedikit, tapi dia malah semakin tambah ganteng jika seperti itu.
“Ehem, penaku jatuh di dekat kakimu.. bisa tolong ambilkan,” kata satu siswi berbicara dengan Yohan.
“*Apa apaan dia*!” teriak Asya dalam hati.
__ADS_1
“Halo?” hcap siswi itu kerna tak mendapat respon dari Yohan, hingga Lucy ikut menatap ke arah Yohan.
“Kau ambil saja sendiri, Yohan bisa tidur dengan mata melek mungkin dia sedang tidur,” sahut Lucy.
Siswi yang ingin dilirik Yohan itu mau tidak mau memungut pena yang sengaja ia lemparkan dekat kaki Yohan, sialnya Yohan malah tidak menotice dia sama sekali, apa benar pria ini tidur?.
Tbc.
**Visual tokoh utama**.
**Lucy Ranxio**.

**Yohan**.

...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
__ADS_1
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....