
Pagi ini kabar Sangga yang mengalami koma tersebar di telinga para pekerja di rumah. Dion pulang sendiri dengan wajah kusut, melangkah tegap menaiki tangga, tapi sebelum itu Dion memanggil paman Tian. “Tian ikut aku,” kata Dion, berlalu begitu saja.
Tian mengikuti langkah Dion dari belakang, sampailah di ruang kerja Dion, Tian duduk berhadapan dengan tuan besar itu.
“Sudah ditemukan?” ujarnya langsung ke inti.
Tampang Dion seperti orang yang tidak tidur semalaman, wajar saja, putra kesayangannya tengah terkapar entah kapan akan bangun. Sepertinya akan buruk jika Tian menjawab belum menemukan pelaku penembakan tadi malam.
“Belum Tuan,” Tian hanya bisa jujur, berbohong pun percuma, itu akan menambah kemarahannya saja.
“Hmm, apa? Aku tidak dengar!”
“Ka-kami belum menemukan pelakunya.”
Brak!
Nah kan. Dion langsung marah, meja menjadi pelampiasan kekesalannya. Paman Tian menunduk diam di tempat dengan posisi yang masih berada di hadapan Dion.
“Kenapa belum ketemu!”
“Kami hanya tahu tempat dia membidik adalah di atas pohon, ada ranting muda yang patah di situ”
“Hanya itu?”
“Iya.”
“Apa IQ mu sudah jongkok?”
“Saya rasa si pelaku sangat cerdas.”
Dion mengusap wajahnya kasar. “Aku muak melihat wajah tidak bergunamu itu, pergi keluar dan cari sampai dapat!”
Paman Tian berdiri lalu membungkuk hormat. “Saya akan berusaha semaksimal mungkin,” katanya lalu pergi.
Sarapan diantar ke kamar Lucy oleh beberapa pelayan. Di dalam sana ternyata Lucy sudah bangun memakan buah yang di kupas oleh Yohan dengan lahapnya. Akhirnya nafsu makan Lucy kembali, pikir para pelayan.
__ADS_1
“Permisi Nona, ini sarapan Anda.”
“Kenapa lama sekali? Aku lapar,” protes Lucy, dia kembali pada dirinya sendiri yang cerewet dan menyebalkan.
Biasanya Lucy bangun siang, mereka tidak tau kalau ternyata Lucy sudah menunggu hidangannya.
“Maaf Nona, ini silahkan dinikmati.” Kemudian dia berdiri tak jauh dari Lucy, menunggu gadis itu selesai makan.
“Aku akan makan, kalian pergilah. Jangan buat nafsu makanku hilang.”
Pelayan menatap Yohan, Yohan mengangguk seolah mengatakan, *Pergilah, aku akan mengurusnya*. Barulah para pelayan itu pergi, mereka percaya dengan Yohan.
Seharian ini Yohan full berada di kamar Lucy, memperhatikan Lucy kelas online atau apapun itu juga.
“Nona.”
“Hmm?”
“Saya tinggal sebentar ya?”
“Kau mau kemana?”
“Tidak akan lama, satu jam pun tidak akan sampai.”
“Baiklah, awas kalau sampai lewat!” Lucy takut kalau Yohan akan meninggalkannya lagi.
__ADS_1
.
.
Yohan berhadapan dengan Dion, pria tua itu tampak prustasi, terlihat dari penampilannya yang berantakan.
“Ada apa, Yohan?”
“Apa pelakunya sudah di temukan?”
“Belum.”
“Boleh saya katakan pendapat saya?”
“Silahkan,” jawab Dion mengizinkan.
“Pertama, pelaku adalah orang luar yang berhasil masuk ke dalam. Ke dua, pelaku adalah orang dalam yang tidak perlu susah payah untuk masuk. Jadi Tuan menurut saya, bagaimana kalau kita amankan nona Lucy sementara, kalau sampai nyawanya lebih dulu hilang sebelum ritual nanti bukankah sangat gawat ya?”
“Memangnya dia mengincar Lucy juga?”
“Lebih baik menghindari kemungkinan sekecil apapunkan?”
Dion hanyut dalam omongan Yohan. “Jadi rencanamu apa?”
“Saya akan bawa nona pergi.”
“Ke mana?”
“Saya tidak bisa memberitahu Anda, takutnya dia juga mendengar obrolan kita melalui penyedap, kamera, atau dia bersembunyi di sekitar sini.”
“Kalau begitu lewar pesan saja.”
“Pesan? CCTV saja bisa dia manipulasi, apa Anda yakin HP Anda aman?”
“Yasudah, nanti pas ritual kau bawa saja Lucy ke tempatnya.”
“Saya mengerti.” Kemudian Yohan pamit keluar, dia tersenyum dalam batinnya. Tinggal beberapa langkah lagi, dia akan membawa Lucy pergi kemudian menipunya.
Tbc.
__ADS_1
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....