
Yohan panik dalam diam, tadi dia ke toilet sebentar sementara Lucy sudah bagus duduk berdiam diri di dalam kelas. Tapi saat Yohan kembali lagi, Lucy sudah tidak berada di tempat.
“Kau melihat Lucy?” Pertanyaan itu terus di ulang-ulang kepada orang yang berbeda. Sudah satu jam mencari namun tidak menemukan Lucy, Yohan ingin menangis sekarang.
Kelas sudah di mulai tanpa kehadiran Lucy, seorang pengawal sibuk sendiri berlarian ke sana ke mari dengan nafas yang tidak teratur. “Di mana? DI MANA!” teriak Yohan menggelegar di koridor kelas.
Luasnya sekolah sudah Yohan jelajahi, dia menapak pelan seperti orang yang kehilangan tujuan hidup. Satu lagi tempat yang belum ia priksa, area belakang sekolah yang sepi.
“Hem Hem Hem 🎶”
Baru saja Yohan memijak area itu, suara senandung merdu menyapa telinganya bersamaan dengan terpaan angin.
“Nona,” panggil Yohan bernafas lega.
Lucy bersenandung di tepi sungai dengan alat lukisnya, dia tampak seperti peri dengan rambut panjang yang tampak berantakan kerna hembusan sejuk angin.
“Kenapa Nona di sini?” tanya Yohan sembari mendudukkan pantatnya di samping Lucy.
__ADS_1
Lucy menoleh dengan wajah yang sedikit terkena tinta di dagunya. Yohan terhipnotis untuk menghapus cat itu, dia memegang dagu Lucy seperti orang yang ingin meraup bibir pujaan, tatapannya terpaku pada bibir peach berkilauan oleh lips glos yang menggoda Yohan.
Seketika Yohan sadar dia hampir mencium Lucy yang bingung apa yang ingin dilakukan Yohan. “Maaf Nona, dagu anda terkena tinta,” icap Yohan beralasan.
Lucy tersenyum manis lalu berkata, “kau menemukanku Yohan. ” Raut wajah ceria itu seolah menunjukkan bahwa Lucy memang sengaja ingin bermain petak umpet dengan pengawalnya.
“Nona sengaja?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Aku tidak tau, hanya saja aku tidak pernah bermain patak umpet, aku dengar cerita Vivian tadi, katanya dia sering memainkan itu waktu kecil.”
“Nona jangan begitu lagi, aku sangat khawatir”
“Ahaha kau takut di marahi papa atau di gebukin bang Sangga?”
Kepala Yohan menggeleng pelan, dia tidak takut jika di pukuli yang paling ia takut kan adalah.. Kehilanganmu Nona. Seandainya Yohan bisa mengatakan itu, tapi takutnya Lucy tidak nyaman.
__ADS_1
“Nona ayo kembali ke kalas.”
“Tidak mau Yohan, aku masih mau di sini menikmati angin dan mengabadikannya lewat lukisan,” jawab Lucy, tangan lentik itu lanjut menggerakkan kuas perlahan. Matanya terfokus oleh kanvas, mengembangkan ide yang terlintas di otak.
Yasudah deh, Yohan tidak bisa memaksa Lucy, dia berbaring dengan melipat tangan ke atas sebagai bantalan di rerumputan hijau sambil memejamkan mata, mendengarkan senandung merdu Lucy mampu membuatnya rileks.
“Yohan.”
“Hmmm.”
“Menurutmu aku bodoh atau enggak?”
“Kenapa Nona bertanya seperti itu?” jawab Yohan masih dengan mata terpejam.
“Lihatlah nilaiku paling buruk di kelas, kalau tidak kerna uang aku pasti akan tinggal kelas.”
Yohan membuka mata, Lucy memang berkata seperti itu tapi gadis itu tersenyum. “Tapi aku tidak menyesal, sejak awal aku ingin menjadi pelukis, tak masalah nilaiku jelek asalkan kemampuanku dalam mengoles kuas bagus,” sambung Lucy kembali.
Yohan ikut tersenyum, lega rasanya kerna Lucy tidak merasa insecure. Yohan kembali memejamkan mata menikmati waktu santai bersama majikan. “Hmm saya mengerti,” jawab Yohan merespon.
__ADS_1
Pada dasarnya setiap individu memiliki kelebihan dibidang masing-masing, jika merasa bodoh dipelajaran umum mungkin berpotensi dibidang lain, seperti olahraga, bernyanyi, berkarya seni, dan lain-lain. Lucy selalu menyemangati diri dengan kalimat itu, setidaknya ia punya uang untuk menjadi tangga naiknya.
Tbc.