
Lutut Lucy sudah lemas sekali hanya untuk sekedar jalan, ini pertama kalinya dia naik ke wahana yang menantang, sangat dibuat terkejut olehnya. Yohan menggendong Lucy keluar dari kora kora.
“Yohan kepalaku pusing.” Lucy menyembunyikan kepala di ceruk leher Yohan, posisinya Lucy digendong depan kerna gadis itu pake rok sekolah di atas lutut.
“Kita pergi duduk aja dulu ya, Nona.”
“Iya, dekat bangku cantik di sana itu Yohan.”
Asya yang cemburu berlari menghampiri mereka berdua. “Lucy kenapa digendong?”
“Memangnya kenapa?” tanya Yohan. Dia tidak senang dengan Asya.
“Lucy kamu itu majikan loh, gak seharusnya nempel-nempel sama Yohan, dia bodyguardmu. Sini ibu bantu jalan.”
“Enggak mau! aku gak mau jalan,” tolak Lucy menepis tangan Asya yang ingin menarik tubuhnya turun dari gendongan Yohan.
Asya menahan kesal apalagi melihat Yohan yang meninggalkannya begitu saja bersama Lucy. Mereka duduk di bangku namun Lucy malah membaringkan tubunya dengan kepala di paha Yohan, tidak ada tempat untuk Asya duduk di dekat Yohan.
“Yohan huhu kepalaku pusing.” Ini tidak bohong, kepala Lucy memang benar pusing.
Yohan memijat pelan kepala Lucy yang merengek sakit. Gadis itu diam menikmati pijatan Yohan yang membuatnya terasa lebih baik, namun tiba tiba datang Asya. “Lucy sini ibu pijatkan kepalanya.”
__ADS_1
“Aku mau sama Yohan, pijatan Yohan enak, Ibu gak usah repot-repot kerna orang yang kubayar itu Yohan bukan Ibu.”
Ini cukup menampar Asya dengan kenyataan. Lucy benar-benar menyebalkan, Asya sangat membenci gadis itu.
Sepuluh menit kemudian Lucy duduk. “Pusingnya udah hilang Yohan, yok main lagi.”
“Main apa Non?”
“Rumah hantu.”
“A-aku ikut!” Asya begitu antusias, dia bisa berpura-pura takut dan memeluk Yohan nanti.
“Aaaaaa.”
Yohan dimonopoli oleh Lucy, bahkan Yohan tidak ada sedikitpun niat untuk melirik Asya. Lagi-lagi Lucy digendong, gadis itu memeluk erat Yohan kerna takut ditarik oleh hantunya.
Asya beberapa kali ingin memeluk Yohan dari belakang, tapi pria itu malah terus menghindar agar tidak disentuh oleh Asya.
“Yohan aku takut ayo cepat keluar.” Rengek Lucy.
Yohan berlari hingga meninggalkan Asya sendiri di dalam sini. Asya takut hantu, dikejar hantu palsu juga menyeramkan, padahal awalnya dia meremehkan tadi.
__ADS_1
“Maaaa,” teriaknya berlari mencari jalan keluar sendiri. Saat berhasil, Asya malah melihat Lucy dan Yohan yang duduk santai sambil makan bermacam gorengan di sana. “Aku di sini hampir pingsan mereka malah enak-enak di sana.”
“Ibu mau?” tawar Lucy ketika Asya sudah sampai di hadapannya.
“Kenapa tinggalkan ibu?”
“Maaf Bu, aku takut.” Alasan sangat simpel namun begitulah kenyataannya. Asya ingin sekali memukul Lucy, mulai dari sekarang dia menandai Lucy sebagai saingan.
Sore harinya barulah Lucy mau pergi dari taman hiburan itu, namun sebelum sampai di rumah Asya, Lucy singgah di indomaret untuk membeli cemilan yang banyak.
“Buk Asya miskin, takutnya kita gak makan di sana Yohan,” kata Lucy blak-blakan padahal ada Asya diantara mereka.
“Sialan,” batin Asya.
Lucy mengambil banyak sekali snack, dia memang hobi ngemil tapi tubuhnya segitu-segitu aja gak mengalami kenaikan berat badan.
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....
__ADS_1