
“Kak Bagas!” teriak Lucy antusias melihat ketua OSIS yang tengah berjalan sendiri. Padahal belum keluar lagi dia dari dalam mobil, dengan cepat dia membuka pintu dan kabur meninggalkan Yohan.
“Kak Bagas hihihi selamat pagi.” Lucy jadi genit jika berurusan dengan Bagas, dia ingin sekali diperhatikan.
“Ck.” Bagas risih banget dengan Lucy, dia berdecak kemudian pergi. Tapi tangannya malah ditahan oleh Lucy.
“Kak ih, ngapa sih selalu cuekin aku.”
“Lepas!”
Tangan Lucy di tepis, namun Lucy tidak menyerah begitu saja, dia kemudian menggandeng tangan Bagas, merapatkan tangan itu ke dadanya. “Kak Bagas jangan gitu dong.”
“LEPAS!”
Tubuh Lucy terdorong ke belakang dan hampir jatuh, untunglah ada Yohan yang menahannya.
“Eh bodyguard, kamu jaga tuh majikan kamu,” kata Bagas lalu kemudian pergi.
Kejadian ini tak luput dari perhatian siswa lainnya, mereka menertawakan Lucy yang lagi-lagi ditolak mentah oleh Bagas.
“Nona ayo ke kelas.”
“Is!” Lucy mengentak-hentakan kakinya dengan segala kekesalan. Kenapa sih Bagas begitu kasar dengannya? Apa yang tidak menarik dari Lucy? Walaupun diperlakukan seperti itu Lucy tetap tidak menyerah, kerna dia sangat menyukai Bagas.
Sampai di kelas, satu cewek menghadang jalan Lucy. Dia Karin, orang yang juga menyukai Bagas tapi beruntungnya Bagas masih mau berbicara dengan Karin.
__ADS_1
“Gak nyerah nyerah ya kamu Lucy. Kak Bagas tu gak suka sama kamu.”
“Terus?”
“Berhenti mengejarnya!”
“Memangnya dia suamimu? kau tidak berhak melarangku, Karin”
Selagi tidak ada kekerasan fisik, Yohan biarkan saja para gadis itu beradu mulut. Ikut campur hanya akan membuat Lucy marah, lebih baik diam berdiri di belakangnya.
Saat Lucy duduk, dia disambut oleh Vivi. “Lucy kamu kemana aja sampai tiga hari gak masuk sekolah.”
“Ada deh hihihi.”
“Lucy kau masih memakai kalung itu lagi?”
“Iya.”
“Tumben setia dengan satu perhiasan.”
“Gak tau, aku suka aja sama kalung ini.”
“Paling bentar lagi ganti tuh.”
Tiga minggu kemudian.
__ADS_1
“Lucy kau masih memakai kalung itu!” Rupanya Vivian selalu memperhatikan kalung Lucy yang tidak pernah ganti itu, dia sangat heran.
“Iya memangnya kenapa?”
Di belakang Yohan tersenyum tipis terus menatap Lucy dengan tatapan yang sangat sulit diartikan, sedangkan dirinya sendiri tak sadar juga dapat tatapan kagum dari seorang guru muda yang mungkin usianya 21 tahun, dua tahun lebih muda dari Yohan.
“Eh eh lihat Cy, bu Asya kayanya liatin bodyguard kamilu terus gak sih?” bisik Vivi.
Memang sekarang para murid sedang mencatat, jadi buk Asya bebas melamun di sana.
Lucy kemudian berpaling ke Yohan, pemuda itu ternyata terus memperhatikan Lucy, tidak masalah, Lucy sudah biasa ditatap Yohan kaya gitu, kan Yohan tugas nya memang mengawasi Lucy.
“Biarkan aja deh Vi.”
“Tapi Yohan memang ganteng banget sih, kalah noh si Bagas pujaan hati kamu.”
“Di mata aku Bagas yang paling ganteng sedunia.”
“Cinta memang buta ya, aku heran sebenarnya siapa sih yang di sukai pujaan hatimu itu. Kulihat dia banyak menolak cewek,” kata Vivi sambil merenung.
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....
__ADS_1