
Nona muda Ranxio kembali menghilang, seisi rumah sedang sibuk mencari nona mereka. Dion, menurunkan semua bawahannya untuk mencari Lucy yang kabur entah kemana.
Aris dipanggil berhadapan dengan Dion, pemuda itulah yang seharusnya bertanggung jawab memastikan Lucy tidak kabur kemanapun.
“Kau melupakan tugasmu?” tanya Dion dengan aura dinginnya.
“Maaf tuan, tapi semalam tuan muda Sangga lah yang membuat nona kabur.” Aris ini adalah tipe orang yang tidak mau dijadikan kambing hitam, dia menyalahkan Sangga kerna memang pria itulah yang semalam membuat Lucy tidak nyaman.
“Kau menuduh putraku?”
“Tadi malam nona memanggil saya untuk mengusir tuan Sangga dari kamarnya, tapi saya tidak berani mengingat dia adalah tuan rumah ini juga”
Dion mengusap wajahnya kasar, lebih baik mendengarkan dari berbagai sumber kan? Dion pun memanggil Sangga.
“Kenapa kau ke kamar Lucy malam-malam?” tanya Dion pada Sangga.
Sangga menatap tajam Aris, dia tau pasti Aris yang mengadukannya. Padahal dia tadi di jalan mencari Lucy, dia kembali atas paksaan Dion. Alasan apa yang akan diberikan Sangga?
“Apa salah seorang saudara merindukan adiknya sendiri, Pah?”
“Tengah malam? apa tidak ada waktu lain?”
“Rinduku tidak melihat waktu.”
“Tapi kau harus tau waktu!” Dion menatap geram Sangga. “Kau tau kan Lucy tidak nyaman dengan kita? Biarkan dia bebas di rumah ini, lihat kan? Kerna kau mengusiknya dia jadi kabur.”
“Dan kau!” Tunjuk Dion pada Aris. “Ini tetap menjadi kesalahanmu, kau gagal menjaga Lucy seperti yang ada di kontrak. Kau akan tetap dihukum 20 cambukan.”
Tadinya Aris kira dia akan lolos, namun ternyata tidak. “Sial! ini gara gara Sangga!” batinnya.
__ADS_1
...***...
Di apartemen Karin, Lucy termenung menatap langit melalui jendela kamar Karin. Kebetulan hari ini wekend jadi dia tidak sekolah begitu juga dengan Karin yang stay di rumah.
“Nih makan,” tawar Karin memberikan lontong pecal yang ia beli.
Walaupun Lucy menumpang di sini tapi egonya tidak terkikis. “Kau tidak menaruh racun kan?”
“Kau ini gak tau diuntung ya, udah di tolongin tapi malah nuduh orang yang enggak-enggak.”
“Kau kan sangat membenciku”
“Sangat! tapi aku tidak menaruh racun di dalam situ, malas banget kalau mengurusi mayat. Nanti apartemenku jadi angker lagi,” ketus Karin, Lucy ini benar-benar tidak tau cara berterimakasih.
Tidak hanya makanan, Karin juga meminjamkan pakaian untuk Lucy setelah gadis itu selesai makan dan mandi.
“Baju merek apa ini?”
“Cih, tak perlu kasar begitu aku kan cuma nanya.”
Kembali lagi Lucy termenung, pikirannya begitu kusut. Di mana tempat yang bisa menyembunyikan keberadaannya? Sebentar lagi pera bawahan Dion pasti akan menemukan Lucy.
Ingin sekali menangis, namun kerna ada Karin air mata itu terus ia tahan. Jangan terlihat lemah di depan musuh, salah satunya adalah Karin.
__ADS_1
“Kenapa kau kabur dari rumah?”
“Bukan urusanmu.”
“Kau ini benar-benar tidak tahu diri ya, setidaknya hormati lah tuan rumah walaupun hanya sedikit.”
“Kau gila hormat, ya?”
“Gak tau ah! bikin emosi saja berhadapan denganmu.”
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!...
__ADS_1
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....