
“Tuan Dion! Tuaaaaan.“ Sambil berlarian, dengan suara yang besar memanggil Dion.
Kebetulan Dion berada di lantai bawah tengah sibuk berbicara dengan beberapa bawahannya mengenai penembakan Sangga semalam. Dia berhenti bicara ketika namanya di panggil secara brutal oleh Tian.
“Di mana sopan santunmu!” tekan Dion.
Tian ngos-ngosan. “I-itu, berita Tuan.”
“Kau ini ngomong apa?”
Paman Tian menghela napas perlahan agar dia bisa berbicara dengan jelas dalam kepanikan ini. “Lihat ini saja tuan, lebih jelas.”
“Mobil tiba-tiba meledak di jalan X, korban tidak ditemukan. Apa maksudnya?” tanya Dion setelah membaca sebuah artikel. Yang diberikan Tian adalah gambar mobil meledak yang menjadi isu panas di sosial media, tapi apa hubungannya dengan Dion?
“Itu mobil Yohan dan juga nona Lucy, Tuan.”
Dion reflek langsung berdiri bersamaan dengan bawahannya yang juga ikut berdiri, mereka juga terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Tian. Padahal baru tadi pagi mereka melihat Lucy berpamitan untuk pergi.
“Ja-jadi, apa mereka selamat?”
“Katanya ada yang sempat lihat saat mobil itu meledak, ada kepala berambut panjang terpelanting ke laut. Ledakan itu sangat dasyat, tak mungkin orang di dalamnya bertubuh utuh.”
Kecelakaan itu terjadi memang di atas jembatan yang membentang kokoh membelah lautan.
“Jadi maksudmu, kemungkinan jasad Lucy dan Yohan jatuh ke laut dengan tubuh yang terpotong potong?”
“Iya Tuan.”
“Tidak adakah yang tersisa?”
__ADS_1
“Polisi masih menyelidikinya.”
Dion mengusap kepala prustasi, lima hari lagi ritual pemujaan, tapi anak domba yang sudah dipersiapkan sejak lama tiba-tiba meninggal di waktu yang sangat mepet ini.
“Bagaimana ini Tian, waktunya sudah dekat.”
“Kita cari penggantinya saja Tuan.”
Bukannya khawatir akan Lucy, mereka malah khawatir tentang ritual tidak manusiawi itu. Tidak ada kesedihan di mata Dion, yang ada hanya ketakutan soal anak domba yang entah bagaimana cara mengakalinya.
“Bagaimana mobil mereka bisa meledak?”
“Bom, sepertinya pelaku yang menembak tuan Sangga adalah orang yang sama yang memasang bom di mobil Yohan. Saya ingat kemarin Yohan ada bilang melihat orang ber senapan berkeliaran di halaman.”
“Memangnya Yohan waktu itu di mana?”
“Di kamar nona Lucy, kamar nona di bawahnya memang pas tempat garasi. Pelaku pasti habis selesai memasang bom.”
*Seorang gadis yang tumbuh dan besar di rumahmu*. Kalimat itu terpintas begitu saja di otaknya, Dion semakin pusing, dia pun pergi keluar mencari angin.
.
.
“Kasian ya Yohan dan nona Lucy. Padahal masih muda tampan dan cantik.”
__ADS_1
“Namanya musibah, mau gimana lagi?”
“Sejak nona Lucy kecil aku sudah ada di sini, Mira juga ya. Waktu nona Lucy lahir, Mira baru bisa jalan.”
Mira tidak menanggapi, dia sibuk dengan lamunannya. Rasa terpukul akan kabar Yohan yang meninggal itu ada, dadanya sesak seolah kehilangan kekasih yang ia cinta, walaupun hubungan Mira dan Yohan hanyalah rekan kerja yang kerja di bawah atap yang sama.
“*Mira*?” Ternyata ada Dion yang menguping di sini. Kemudian teringat lagi dia dengan kalimat.. *Seorang gadis yang tumbuh dan besar di rumahmu*.
“Dia tumbuh dan besar di rumahku?” ucap Dion, memandang Mira dengan penuh maksud. Menurutnya, gadis yang pantas menggantikan Lucy hanyalah Mira seorang.
Tbc.
...**Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib**!....
...**Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada**....
__ADS_1