
Pertarungan yang paling menegangkan pun dimulai, yaitu membangunkan Lucy untuk berangkat sekolah. Beberapa pelayan sudah ketakutan bahkan sebelum mengetuk pintu, mereka berdebat di depan kamar Lucy, saling melempar pekerjaan.
“Kau saja yang bangunin.”
“Ihh kau saja.”
“Trauma banget aku, kemarin terakhir aku dilempar pake gelas”
“Aku disiram pake air.”
“Masih mending itu.”
“Air panas!”
Biasanya Sangga yang bangunin Lucy, itupun Sangga harus menerima cacian dan tamparan, lihatkan? Abang sendiri aja bisa dia perlakuan seperti itu, apalagi yang hanya seorang pelayan? Mereka selalu berdoa pada Tuhan semoga Lucy bangun sendiri tanpa dibangunkan, tapi ini sudah jam tujuh.
“Apa yang kalian tunggu di sini? cepat bangunkan Nona,” tegur kepala pelayan, Paman Tian.
“Kami takut, Paman.”
“Kalau Nona Lucy sampai terlambat maka imbasnya lebih parah.”
Dua maid wanita ini ingin kabur rasanya, bekerja di rumah ini penuh tekanan tapi gajinya lumayan besar.
Tok tok tok.
Setelah mengetuk pintu mereka semakin merinding kerna belum ada jawaban. “Bagaimana, nih?”
Di tengah-tengah kekhawatiran mereka, timbullah secercah harapan yang bersinar terang menderang, seorang pemuda berdiri di belakang dengan mengajukan pertanyaan, “Nona mana?”
“Nona masih tidur.”
“Kenapa belum dibangunin?”
__ADS_1
“Kau saja yang bangunin, ya, ” kata mereka antusias, mereka menumbalkan Yohan dari mood bangun tidur Lucy yang sangat buruk.
“Ok, aku akan bangunkan.”
Yohan masuk ke dalam ruang uji nyali itu tanpa ragu, para pelayan yang melihat merasa ngeri dengan apa yang terjadi selanjutnya.
“Mampuslah si Yohan,” bisik maid wanita pada temannya.
“Yang penting kita selamat.” Lega mereka yang masih menunggu di depan pintu.
Sementara itu, Yohan melihat Lucy masih bergulung di dalam selimut, memang cuaca dingin paling enak tidur. Tidak boleh, dia harus sekolah, sudah tiga hari Lucy libur.
“Nona bangun, Anda harus pergi ke sekolah.”
Yohan kemudian membuka gorden membiarkan cahaya matahari masuk menyapa wajah lelap Lucy. Cahaya itu berhasil menyilaukan mata Lucy, tapi kemudian gadisnya itu menarik selimut hingga menenggelamkan kepalanya juga.
Srak, selimut itu Yohan tarik hingga membuat gadis itu bangun.
“KAU!” teriak Lucy.
“Aku masih mau tidur!”
“Tapi-”
Prang!
Yohan berhasil menghindar dari vas bunga kecil yang dilempar Lucy.
“Kenapa kau menghindar!”
“Maafkan saya, lemparlah lagi”
Sekali lagi Lucy melempar Yohan menggunakan kembaran vas bunga yang tadi. Prang... kali ini Yohan tidak menghindar, dia membiarkan lebam di bahunya kerna ulah Lucy.
__ADS_1
“Huh! aku mau tidur lagi!”
Saat Lucy kembali menarik selimut, terlebih dahulu Yohan merebut selimut itu, tidak apa-apa jika dia akan dilempar lagi atau apa, yang jelas Lucy tidak boleh tidur lagi sekarang.
“Nona,” panggil Yohan lembut dengan tatapan yang menenangkan seperti embun pagi. Lucy luluh dengan kelembutan itu. Yohan mengulurkan tangan membantu Lucy berdiri, syukurlah tidak ada pemberontakan lagi, Lucy menurut.
“Saya akan panggil maid lain untuk menyiapkan pakaian Anda”
“Kau saja yang siapkan.”
“Baiklah.”
10 menit kemudian Lucy keluar dari kamar mandi, tempat tidur Lucy sudah rapi dibersihkan oleh Yohan, dan juga baju sekolahnya tertata di atas ranjang.
“Saya akan keluar.”
Pamit Yohan karena Lucy hanya memakai handuk, biarkan gadis itu berganti pakaian sendiri. Yohan bertemu lagi dengan maid yang masih menunggu di depan pintu.
“Yohan, nona sudah bangun?”
“Sudah.”
“Huh~ syukurlah. Jadi apa dia mengamuk pagi ini?”
“Hmm.”
“Yohan kami sangat takut dengan nona, bisakah kedepannya kau saja yang membangun kan dia?”
“Baiklah.”
Tiba-tiba Yohan tampak bercahaya dipenglihatan mereka, seperti seorang malaikat bersayap turun ke bumi untuk menyelamatkan para pekerja di rumah besar ini.
Tbc.
__ADS_1
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....