Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 80


__ADS_3

Bel sekolah berdenting keras, para peserta didik kembali ke kelasnya masing-masing. Pak guru matematika masuk ke kelas 11 A membiarkan para murid memberikan salam terlebih dahulu lalu kemudian berkata, “Lucy, kami turut berdukacita atas kejadian yang menimpa papamu, semoga beliau mendapat tempat terbaik dan diampuni segala dosa-dosanya.”


Seketika semua mata tertuju pada Lucy, mereka tidak tahu apa yang terjadi di keluarga Lucy.


“Memang papanya Lucy kenapa, Pak?” tanya salah satu siswa.


“Papa Lucy terkena peluru nyasar. Pelaku kabur dan belum di temukan sampai sekarang.”


“Turut berduka cita, Lucy. Kamu yang sabar ya.” Seisi kelas mengucapkan belasungkawa mereka pada Lucy.


Sedangkan di sini Lucy berusaha memasang wajah sedih. Bagaimana ya? Aku enggak sedih sama sekali. Jangan doakan papa yang baik-baik, aku saja mendoakan dia disiksa di neraka.


Vivi menepuk pundak Lucy pelan dengan raut sedih. “Semoga pelakunya cepat ditemukan ya, Cy.”


Woi, pelakunya itu aku! “Iya Vi, terima kasih.”


.


.


Pulang sekolah untuk pertama kali Lucy naik angkutan umum seumur hidupnya, Yohan tidak pulang hari ini jadi terpaksa Lucy mengandalkan dirinya sendiri untuk sampai ke apartemen mereka.

__ADS_1


Lucy sempat kebingungan bagaimana cara naik bus, tapi untunglah ada adik kelas yang setiap harinya naik bus membantu Lucy.


Dan sekarang dia berada di dalam bus duduk bersama adik kelas itu. “Ini pertama kali ya, kakak naik bus?”


“Iya.”


“Pengawal kakak di mana? Biasanya pulang pergi sudah terjamin.”


“Mulai sekarang aku tidak dikawal lagi,” kata Lucy tersenyum ramah, hal itu hampir membuat jantung adik kelasnya hampir berhenti berdetak. Lucy yang hangat adalah sesuatu yang di luar nalar baginya.


I-ini tidak seperti kak Lucy, tapi lebih ke bidadari surga. Batinnya sambil memegang dada.


“Namamu siapa?”


“Ok, aku akan mengingat namamu.”


Lucy sudah sampai tujuan, segera dia turun dari bus. Dia menyeberang jalan karena di depan sanalah bangunan menjulang tinggi tempat apartemen yang disewa Yohan.


Lucy masuk ke dalam lift menekan angka 10, setelah sampai dan pintu lift terbuka Lucy langsung disambut dengan gadis pirang dan seorang pria paruh baya yang berantem di samping unitnya.


“Aku benci Ayah! Selama aku hilang apa Ayah mencariku? Tidak! Papa menikah lagi dengan janda tetangga kita di kampung. Aku tidak sudi!” teriak gadis pirang mendorong ayahnya.

__ADS_1


Kemudian gadis itu masuk ke dalam meninggal sang Ayah di luar.


“Bina, dengarkan ayah.” ucapnya sambil menggedor pintu.


Tak ingin ikut campur, Lucy melewati pria itu begitu saja. Namun saat Lucy ingin membuka pintu, sang pria malah memanggil Lucy.


“Tunggu dulu, Dek.”


Lucy berbalik. “Ada apa?”


“Bisa bapak minta tolong?”


“Saya penghuni baru di sini, jadi enggak bisa menolong apa-apa, permisi.”


“Tunggu! Tolonglah Dek, bapak cuman mau menitip ini, kam ukan tetangganya, jadi biasa ya kasihkan ke dia ini nanti.”


“Kerna kasihan melihat muka bapak yang tampak lelah itu, terpaksa Lucy menerima untuk membantunya, lagian hanya memberikan sebuah kotak yang entah apa isinya, tidak lebih.


Lucy masuk ke dalam dan langsung mengunci pintunya. “Ngerepotin banget, kenapa harus aku sih?”


“Yohan sekarang sedang apa ya? Aku lapar banget, coba masak sendiri deh, mana tahu aku memiliki bakat tersembunyi dalam memasak, ehehe.”

__ADS_1


Lucy melempar tasnya ke sofa, dia menuju dapur yang segala bahan pangan sudah lengkap di isi oleh Yohan sebelum berangkat kerja. Yohan juga meninggalkan uang untuk jajan Lucy.


Tbc.


__ADS_2