Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 22


__ADS_3

Di waktu sarapan pagi ini hanya ada kesenyapan kecuali suara denting sendok. Dion Sangga terlebih lagi Lucy hanya diam menikmati sarapan, sampai piring mereka kosong barulah terdengar suara manusia.


“Lucy gurumu bilang nilaimu paling jelek di sekolah,” tegur Sangga.


“Hmm.”


“Kenapa kau tolak tawarannya untuk les privat di rumahnya?”


Pasti sudah tertebak siapa yang mengadu pasal nilai pada Sangga, siapa lagi kalau bukan Asya. Wanita itu ternyata tidak menyerah begitu saja, bahkan dia sampe nekat menghubungi Sangga.


“Baiklah aku akan terima, kata dia menginap di malam sabtu.”


“Hah menginap?”


“Bye aku mau ke sekolah.”


Lucy beranjak dari duduk menuju ke meja Yohan yang tidak jauh dari sana, pria itu dilayani dengan sangat baik oleh Mira.


“Mesra banget kalian,” tegur Lucy yang sudah di belakang Mira.


“No-nona selamat pagi,” sapa Mira berdiri dan membungkukkan badan.


“Yohan ayo pergi,” ajak Lucy, Yohan bediri padahal makanannya belum abis.


“Tunggu, Yohan ini makan siang untukmu.” Mira menyerahkan kotak bekal yang sudah ia siapkan terlebih dahulu tadi.

__ADS_1


“Terimakasih.”


Yohan kembali menyusul nonanya yang sudah hampir sampai di ambang pintu keluar, sepertinya Lucy tidak tau kalau Yohan dapat bekal dari Mira.


Di dalam mobil Lucy duduk di belakang selayaknya majikan.


“Nona kenapa anda tiba-tiba mau ikut les privat?”


tanya Yohan, dia mendengar pembicaraan Lucy dan Sangga di meja makan tadi.


“Yohan kau percaya?”


“Apa?”


“Aku merasa tidak aman bersama papa dan juga bang Sangga, entah apa alasan kenapa aku begitu dengan papa tapi aku tau alasan kenapa aku tidak nyaman dengan bang Sangga”


“Bang Sangga menyukaiku bukan sebagai adik.”


Perkataan Lucy barusan berhasil membuat Yohan memberentikan mobil di tepi jalan, ia ingin memastikan apa dia salah dengar?


“Nona bilang apa tadi?”


“Jauh sebelum kau datang, bang Sangga pernah menyatakan perasaannya pada lku. Kupikir dia bercanda tapi ternyata tidak, dia menangis memohon agar aku membalas perasaannya. Itu gila! Padahal dia saudara kandungku sendiri.”


“Tak aneh lagi sih bagi pemuja setan,” batin Yohan. “Tuan Dion tau?”

__ADS_1


“Kayaknya enggak.”


Tunggu dulu! kalau Sangga menyukai Lucy bukan sebagai adik, apakah Sangga tidak tau kalau Lucy akan menjadi persembahan setan tahun depan?


pikir Yohan.


“Yohan.”


“Iya Nona?”


“Kau harus menjagaku bahkan dari bang Sangga sekalipun, aku sangat takut dengannya. Beberapa kali dia menyelinap ke kamarku seperti malam tadi, itu menjijikan.”


“Baik Nona, saya akan menjaga Anda bahkan dari keluarga anda sendiri.”


Sekarang mengerti kan kenapa Lucy sering kabur dari rumah? Dia tidak nyaman di rumahnya sendiri salah satunya Sangga dan entah kenapa dia juga merasa terancam dengan papanya sendiri. Rumah itu juga mengeluarkan aura mistis yang tidak mengenakan bagi Lucy.


Yohan kembali menjalankan mobil, dia lirik melalui kaca terlihat Lucy menghapus air mata yang terus jatuh.


“Tak kusangka Sangga begitu,” batin Yohan merasa iba dengan Lucy, wajar saja gadis ini tidak menghormati Sangga.


Belajar dan menginap di rumah Asya memberikan Lucy sedikit kelonggaran untuk bernafas, kalau saja Sangga dan Dion belum pulang Lucy pasti akan keukeuh menolak tawaran buk Asya.


Tbc.


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....

__ADS_1


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....


__ADS_2