
Kali pertamanya Lucy menginjak tanah negri lain, bersama dengan Yohan dia berjalan kaki menelusuri jalan menuju hotel yang dekat dengan pelabuhan.
“Kak ada kamar dengan double bed?” tanya Yohan pada resepsionis.
“Iya ada.”
“Saya pesan yang itu saja.”
“Kalian pasangan?”
Yohan dan Lucy saling lirik. “Tolong siapkan saja kamarnya,” ucap Yohan, resepsionis mengangguk mengerti.
Setelah mengikuti beberapa prosedur penyewaan kamar, Yohan mendapatkan kunci. Di depan kamar, Yohan agak ragu, haruskah dia memesan kamar lain saja? tapi ini negara asing, Lucy tidak tau apa-apa di sini.
“Ada apa Han?” tanya Lucy kerna Yohan tidak segera membuka pintu.
“Tidak ada, ayo masuk.”
Yohan membuka pintu kamar yang terdapat dua ranjang di dalam, Kemudian Lucy melirik Yohan. “Kamu jangan macam-macam ya sama aku, jangan rusak kepercayaan aku sama kamu,” tunjuk Lucy, dia jadi kepikiran setelah melihat ranjang mereka yang cukup dekat.
“Saya tidak berani Nona,” jawab Yohan.
Double bed adalah pemintaan Lucy, padahal Yohan bisa tidur di sofa atau di manapun itu. Anggap saja Lucy memberikan sedikit kenyamanan pada Yohan yang memberikannya hadiah yang tidak pernah ia dapat.
Setelah makan malam, Lucy tertidur dengan pulas, dia mungkin capek. Sedangkan Yohan termenung menatap langit-langit kamar hotel, dia lirik Lucy di sana yang tidur menghadapnya.
__ADS_1
Baju tidur Lucy tersingkap menampakkan bagian perut, kancing bajunya juga terlepas terlihat jelas kalau Lucy gak pake bra, gumpalan lemak itu sedikit menampakkan diri. Yohan menelan ludahnya kasar, dia tidak bisa memalingkan kepalanya.
“Kendalikan dirimu Yohan,” batinnya berusaha melepas pandangan dari Lucy.
>>>
Malam itu Lucy tidur dengan nyenyak, menyambut pagi dengan senyuman cerah ia lemparkan pada Yohan yang terduduk di ranjang sendiri. Yohan tampak termenung bersandar pada headboard.
“Yohan!” panggil Lucy, Yohan pun menoleh, padahal dia susah payah mengalihkan perhatian dari Lucy, tapi gadis itu malah memanggilnya sekarang.
“Selamat pagi Nona.”
“Kapan kapal nya berangkat?”
“Siang ini pukul 10, Nona kancing baju anda..”
“Saya akan panggil pihak hotel untuk mengantar sarapan.”
“Enggak! aku mau makan di luar.”
“Baiklah, kalau gitu Nona mandi dulu.”
Lucy pergi ke kamar mandi, memang tidak seluas miliknya di rumah namun suasana baru membuatnya terasa lebih menyenangkan, Lucy berendam setelah mandi bersih di bawah shower. 10 menit berendam Lucy hendak keluar, tapi...
Dia lupa bawa handuk dan baju.
“Bu-bukannya handuk biasanya ada di kamar mandi ya?” ucapnya yang panik, di luar ada Yohan tidak mungkin dia menampakkan diri dengan tubuh polos.
__ADS_1
“Yohan ambilkan handukku!”
Sial, Yohan pake headset, kecil kemungkinan untuk dia mendengar.
“YOHAAAAN!”
“Woi! aku gak bawa handuk.”
Capek juga terus berteriak, Lucy mengambil botol sampo lalu melemparkannya hingga mengenai kepala Yohan.
Akhirnya Yohan menotice Lucy yang hanya menampakkan kepala di pintu.
“Nona?”
“Ambil kan handukku! kau ini pekak ya!”
Yohan berdiri mengambil handuk, setelah sampai di dekat Lucy Yohan masih memegang handuk itu kencang tapi Lucy malah menariknya kasar.
Bruk!
“Aww” Keluh Lucy, dia terpeleset kerna pintu yang menyanggahnya ikut tertarik oleh tubuh Lucy yang bergelantungan dihanduk yang masih dipegang kuat oleh Yohan.
Mata Yohan membulat sempurna, tubuh polos Lucy terpampang nyata di hadapannya.
“JANGAN LIHAT!” Teriak Lucy langsung kembali masuk ke kamar mandi. “Huhuhu memalukan sekali,” Isaknya.
Tbc.
__ADS_1