Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Fatih Kangen Retno


__ADS_3

Rani langsung menolak orang lain yang ingin melihat keadaannya Retno.


Bukan apa-apa. Retno bukan tontonan umum, dan dia segera menutup pintu kamar, walaupun pintu tersebut sudah rusak


Rani segera memeriksa keadaan Retno yang terus menangis


Sewaktu Rani melihat CD yang dipakai Retno, tidak ada kejanggalan apapun


"Ibu, ntar aye hamil gimane bu" Ucapnya sambil berderai


Pyar


Jantung Rani mendadak berhenti, lalu berdetak kembali


"Maksud kamu, kamu sudah melakukannya?" Ucap Rani ikut menangis


Retno kembali menangis


Rani berdiri "Retno, ibu mau tanya, dan jawab dengan jujur"


Retno tambah menangis kejer


"Dia melakukan apa padamu. Jawab !!"


Retno masih menangis


"Jawab !! Jangan menangis terus"


"Dia pegang ini" Tunjuknya pada CD nya


"Lalu"


"Dia tarik ini" Tunjuknya pada BH


"Terus"


"Dia menciumi hwaaaa" Retno meraup wajahnya sendiri, dan menangis lagi


"Setelah itu"


"Sudah" Kembali Retno menangis


Perasaan Rani mulai lega


"Ya sudah. Sekarang, bersihkan. Buang semua daleman yang kamu pakai"


"Airnya mampet. aye kagak mau mandi diluar"


"Mampet? Sejak kapan?"


"Kagak ngerti hwaaaa"


-


Ternyata, saklar pompa air yang mengalir ke torn atau si orange tempat penyimpanan air yang berada diatas, sengaja dimatikan oleh Didin, dan airnya dialirkan kekolam lele semua sampai torn benar-benar habis airnya


-


Air sudah mengisi lagi, dan Retno bisa mandi lagi


Retno mandi sambil menangis "Aku sudah tidak perawan" Padahal tidak


Retno menggosok dengan keras bagian tubuhnya yang disentuh oleh Didin


Retno belum pernah pacaran ya, karena bodyguard nya banyak. Maksudnya, pegawai babe banyak. Dan Retno, belum berani pacaran karena larangan babe.


-


Malam hari diwaktu lain


Kedua orang tua Toto datang berkunjung


Tidak ada hujan tidak ada petir


"He mpok, pokoknye, aye melarang anak elu ngedeketin anaknya gua si Toto. Aye muak, ingin muntah hweekkk. Gadis yang katenye alim, pake krudung rapet tuh atasnye, tapi bolong bawahnye. Ayo beh, kite pulang. Inget ye Kohar, Rani. Camkan!!"


Rani dan Kohar saling tatap. Yaitu, bingung


"Kapen pacaranye"


-


Berhari-hari Retno menjadi buah bibir para warga. Hingga akhirnya, Retno tidak berani keluar


Kedua orangtua Retno juga merasa beban dan kasihan, melihat anaknya menjadi hot news


Sebulan sudah Retno mengurung diri. Hingga akhirnya, orang yang disana merasa kesepian tanpa kabar sedikit pun dari Retno


Ingin tanya anaknya, malu. Tidak bertanya, tidak kuat


Itulah Fatih, bolak-balik melihat laman story milik Retno, sepinya minta ampun

__ADS_1


Ingin telpon, mau ngomong apa. Tidak telepon penasaran


Akhirnya, dengan menghitung kancing kemejanya bolak-balik sampai baju tak terwujud kucelnya, Fatih mulai memegang ponselnya, dan mengeklik tombol hijau


Tut


"Telpon yang anda tuju, tidak terdaftar" Suara operator


"Loh, maksudnya apa"


Fatih bolak-balik menelponnya, tetapi tetap "Tidak terdaftar"


"Kenapa ini anak ya.. Ah, apa aku telepon babe Kohar saja. Tapi mau tanya apa" Fatih kembali kebingungan


"Coba-coba ah ehem ehem" Sambil berdehem, berharap menghilangkan grogi pemirsa


"Huuuffft"


Akhirnya Fatih dengan jantung yang berbunyi


Cetok cetok


Ia memberanikan diri untuk menelepon babe


Tut


Tut


"Waduh nyambung.. Mau ngomong apa aku ya"


"Hallo Assalamualaikum pak dokter" Jawab babe yang ada diujung sana


"Wa'alaikumusalam. Babe ada dirumah atau sedang diluar"


"Aye dirumah aje dok" Jawabnya lesuh


"Sakit??"


"Kagak"


"Oh"


"Ade ape dok, tumben telpon. Lelenya belon bisa dipanen, masih orok"


"Enggak beh, saya cuma ingin mampir tapi bingung"


"Oh, ya mampir saja. Emang dokter ada dimana?"


"Ya udeh, mampir aje dok"


"Baiklah, saya akan mampir kesana"


Gayanya mampir preeeet, padahal sengaja


Setelah sambungan ditutup, dengan cepat Fatih berbenah diri, menggunakan jaket, pakai sarung tangan dan helm


'Malam ini, waktu 10 menit, harus sampai dilokasi' Batinnya sambil jedag jedug


Fatih keluar kamar


"Mau ngapain" Tanya Sifa tiba-tiba


'Yah, ketahuan dah'


Fatih menggaruk jidat yang tidak gatal "Ada.. Kepentingan ma, sudah ya ma" Fatih mendekati Sifa, lalu mencium pelipisnya "Takut terlambaaat.." Sambil melambaikan tangan, Fatih segera berlari


"Memangnya mau kemanaaa" Teriak Sifa, tapi Fatih sudah kabur dengan motornya "Ya Allah, tidak biasanya dia main kabur-kaburan begitu"


-


Di Depok kampung rambutan runtuh


Fatih mengendarai motor dengan pelan, ketika sampai dihalaman rumah babe


Fatih melepas sarung tangan dan helmnya


Tangannya ia pijat pijat, agar tidak dingin karena grogi


"Assalamualaikum" Ucapnya sambil melepas sleting jaketnya


"Wa'alaikumusalam.. Dokter, mari silahkan masuk" Sambut babe


Fatih sedikit mengabsen ruangan 'Sepi'


"Bu... Ibu... Ini ade tamu bu"


'Ibu?? Retnonya mana'


Rani akhirnya muncul "Eh pak dokter"


"Bikinin minum bu, buat pak dokter"

__ADS_1


'Kok ibu yang bikin, Retno nya mana nih'


Setelah Rani kebelakang, Fatih mulai bertanya


"Kok tumben sepi beh"


"Iye. Lelenye masih bayi, jadi penjaganye cume atu aje si Rojak"


"Oh pantesan sepi"


"Iye"


Minuman sudah datang, dan Rani duduk disamping babe


"Dokter dari mane"


Fatih segera memutar otak 'Ah Junaedi'


"Anu itu, saya dari kawanku dosen Junaedi iya. Yang mengajar di universitasnya Retno dan Fatihah anak saya" Jelasnya mengarang sambil gelagapan


"Oh, memangnya tinggal dimana"


"Di puri asri segar sekali beh"


Ngarang tapi bener. Hanya saja, Fatih tidak kesana


"Oh iye, iye perumahen deket SMP nye si Retno dulu"


"Oh iya betul, betul deket SMP. Ngomong-ngomong, Retno kok sepi, belajar?" Tanyanya harap-harap cemas, takut tidak sopan, dan lancang


Babe Kohar dan Rani saling tatap, membuat Fatih tambah penasaran


"Beh, pumpung ada dokter Fatih. Siapa tau ada solusi buat genduk" Bisik Rani


"Iye juge ye. Tapi die pan dokter jantung. Kagak nyambung bu"


"Halla disambung-sambungin. Dia kan dokter. Sedikit-sedikit pasti tau"


"Serah kamu bu"


Akhirnya mereka bercerita kejadian naas yang menimpa pada anaknya


"Terus, sekarang ada dimana beh, bu. Boleh saya melihatnya" Fatih mengabsen keduanya


Mereka saling tatap lagi, lalu mengizinkan Fatih untuk melihat keadaan Retno


-


Fatih sudah diambang pintu kamar Retno


"Retno" Panggilnya lembut


Retno mengangkat wajahnya


"Boleh saya masuk?" Ucap Fatih, masih berdiri diambang pintu


Retno tidak membalas, tetapi mengedipkan kedua matanya saja


Fatih melangkah masuk dengan pelan, lalu menarik kursi rias, dan duduk dihadapan Retno


Mereka berhadapan


"Retno kenapa hmm, boleh saya tau" Ucapnya memiringkan kepalanya


Retno mewek, lalu mengalirlah air matanya


"Loh, kok menangis, kenapa" Fatih memegang kedua pundak Retno "Kenapa, ayo katakan"


Retno menangis kejer "Hwaaa"


Fatih segara duduk disampingnya, lalu membawa kepala Retno kedadanya "Menangislah"


Kedua orangtua Retno berlari mendekati sumber suara tangis. Dan begitu berhenti didepan pintu, mereka bingung melihat pemandangan seperti itu


"Bu" Ucapnya menatap Rani


"Sttt"


Rani segera menarik lengan babe, agar menjauh dari pintu


"Bu, mereka buken muhrim bu" Babe sedikit alot ditarik


"Beh, kita pikirkan Retno dulu beh. Siapa tau kehadiran dokter Fatih bisa mengobati anak kita. Dia kan dokter. Dan punya anak perempuan juga. Kita harus yakin beh"


"Tapi kalau terjadi apa-apa dengan mereka bagimane bu"


"Beh, sejak kejadian itu, dia jarang makan. Badannyapun jadi kurus kaya angka satu. Kalau diterus-terusin, terus sakit bagaimana beh. Kita nggak punya serep" Rani menangis "Anak kita cuma satu. Ibu nggak mau anak kita kenapa-napa"


Masih mau lanjut.....


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2