
Pagi-pagi sekali, Fatih sudah bangun, dan seperti biasa, ingin membantu Retno masalah cucian baju.
Tetapi, begitu membuka botol liquitnya, kepalanya kembali pening, dan perutnya terasa diaduk-aduk
Fatih mendadak berlari kekamar mandi
Hoeekk, uhuk uhuk
Muntah dan batuk-batuk menyerangnya terus-terusan
Retno yang melihat suaminya bolak-balik kekamar mandi, merasa iba dan mengikutinya dari belakang
Hoekkk
Hoeek
Hooeek
Fatih muntah-muntah kembali, sampai mengeluarkan air mata
Retno memijat tengkuk milik suaminya yang besar dan tidak cukup ditangannya
"Mas masuk angin ya?"
"Entahlah nggak enak banget"
"Terus, mas mau cuti atau berangkat"
"Nggak tau"
Retno menatap suaminya tambah aneh dan terlihat seperti babe yang sukanya pakai sarung
Fatih sudah duduk dikursi ruang makan, sambil tergulung sarung
"Teh anget ya mas" Tawarnya pada suaminya
"Nggak ah, baunya nggak enak. Bikin eneg"
"Heh??" Retno terheran-heran, tidak biasanya suaminya benci pada sesuatu yang biasa suaminya suka "Terus, mas maunya minum apa?"
"Yang panas-panas seger"
"Panas-panas seger, tapi teh nggak mau. Kopi??"
"Enggak" Jawab Fatih cepat
"Ah, jeruk panas ya" Retno memberikan ide
"Kalau wedang markisa ada nggak" Lidah Fatih seakan ingin ngeces membayangkan minum wedang markisa, yang barusan ia tonton ditelevisi.
"Tapi mas belum sarapan"
"Nggak masalah. Biar enteng"
"Aneh"
"Ada nggak?" Tanya Fatih merengek
"Kalau ingin markisa, kita harus kerumah babe mas. Apa kita kesana?"
"Nggak ah, ntar mas kesiangan. Wedang jeruk aja deh. Lumayan, daripada nggak" Kemudian, Fatih merebahkan kepalanya diatas meja
Retno sudah kembali dengan air jeruk panasnya "ini"
Fatih mengangkat wajahnya, dan menerima wedang jeruk panas, dari tangan istrinya "Terimakasih"
Fatih segera menyendoknya sedikit demi sedikit wedang tersebut, hingga air jeruknya tandas
Setelah menghabiskan satu gelas besar air jeruk, Fatih segera berjalan cepat menuju kekamar
Retno menatap suaminya bingung
Beberapa menit kemudian, Fatih sudah rapih dengan kemejanya, dan jas dilengannya
Retno mendekati, lalu menata baju suaminya yang agak kemproh alias tidak rapih
"Sebentar mas" Retno menatakan dasinya yang agak miring, dan ia merapihkan "Nah, gini kan mas terlihat ganteng"
Fatih tersenyum tapi sedikit dipaksakan. Karena dia benar-benar merasakan badan dan kepala yang tidak enak
__ADS_1
"Rambut, rambutnya sayang. Kenapa tidak dikasih pomade" Retno memegang-megang rambut suaminya yang sedikit kedepan
"Halah.. Boro-boro mas tadi mandi kok. Nggak perlu pakai minyak rambut, bau"
"Kalau nggak enak badan, kenapa nggak cuti aja"
"Ada seminar sayang" Ucapnya sambil mengangkat jas dilengan kirinya
"Dimana ? Sini aku pakaikan" Retno merebut jas tersebut, lalu memakaikannya
"Di Fakultas kedokteran Univertas Indonesia Raya"
"Oh, diuniversitasku dulu. Ah, aku jadi kangen"
Fatih tersenyum "Iya.. Mau ikut?"
"Ih malu"
"Nggak pa-pa, ntar habis mengisi acara, sekalian mampir kerumah babe" Fatih mendekati Retno "Sekalian minta markisa"
"Ah, maunya"
"Sudah, ganti baju sana" Fatih mendorong Retno agar segera mengganti baju
Retno masuk kekamar untuk mengganti baju, sedangkan Fatih, mengecek pintu, jendela, dan juga kompor.
Selagi Retno sibuk memasukkan irisan bermacam buah-buahan ke tinwal kotak, Fatihpun sibuk dengan pakaian kotor
Fatih orangnya tidak ingin meninggalkan pekerjaan rumah, yaitu cucian baju. Sambil menunggu istrinya selesai, Fatih memasukkan baju kotor kedalam kresek
Fatih berjalan mendekati Retno "Sudah selesai"
"Sudah mas"
Untung sarapannya buah, jadi Retno tinggal bawa
Selama Retno dinyatakan hamil. Nasi tidak ada yang melirik. Jadi, solusi terbaiknya adalah membuat salad. Dari buah, ataupun sayur
-
Mereka berdua sudah sampai di lantai dasar
Fatih mengambil mobil, sedangkan Retno masuk ke laundry "Laundry bu.." Teriaknya sambil menaruh kresek yang ia terima dari suaminya sewaktu dibawa tadi
"Eh bu. Iya, daddynya Fatihah lagi nggak mood nyuci. Itu malah dia yang bungkusin tiap pagi"
"Duh, senangnya.. Punya suami nggak ingin merepotkan istri"
"Haha, iya bu. Sejak awal nikah, aku nggak dibolehin nyuci. Oiya, Srinya kerumah sakit ya bu?"
"Iya biasa"
Tiba-tiba mak Jun keluar membawa baby Elsa yang sudah cantik dan wangi
"Hallo baby Elsa... Emmuah, emmuah, emmuah" Retno sudah menciumi bayi itu dengan gemas "Wanginya... Mama berangkat dulu ya, bye, bye" Retno dadah-dadah dengan bayi cantik tersebut, lalu pamitan "Sudah ya bu, mak. Aku tinggal dulu"
-
Retno keluar dari laundry, sudah ditunggu oleh Fatih
Seperti biasa, Fatih selalu membukakan pintu untuk istrinya
Setelah mereka masuk semua, Fatihpun segera mengemudikan mobilnya, dengan kecepatan sedang
"Sarapan ya mas?" Retno mulai membuka bekal buah-buahan yang tadi ia bawa dari rumah
Fatih melirik buah yang dibawa oleh istrinya "Iya" Tangan Fatih menjulur ingin mengambil buah tersebut
"Biar aku suapin mas" Retno sarapan sendiri, sambil menyuapi suaminya yang sedang menyetir
"Sayang makan dong, jangan nyuapin mas mulu"
"Iya, ini aku ikut makan"
-
Tak terasa, mereka berdua sudah sampai di Universitas Indonesia Raya
Fatih dan Retno sudah masuk keruang seminar, dan dipersilakan duduk ditempat masing-masing
__ADS_1
Retno duduk bersama ibu-ibu lain, yang diduga istri-istri para narasumber
Ditengah minimnya kesadaran tentang kesehatan dan tingginya angka penyakit yang diderita masyarakat, Unit Pelaksana Teknis atau UPK Layanan Kesehatan UIR, bekerja sama dengan Rumah Sakit Semoga Cepat Sembuh, dimana Fatih bekerja disana, menyelenggarakan seminar bertajuk
"Kesehatan Jantung dan Onkologi"
Seminar yang terbuka untuk seluruh civitas academica UIR ini, diselenggarakan hari ini bertempat di Aula UIR.
Narasumber yang dihadirkan antara lain dr. Rusli, SpB(K).OnK (ahli kanker) dan dr. Alfatih Putra Zayn, SP.JP (ahli jantung) yang memaparkan ilmu dan pengalaman medisnya, dalam tema
"Deteksi Dini Kanker Dan Pencegahannya Serta Waspada Penyakit Jantung Koroner"
Sesi pertama ini, dipaparkan oleh dr. Rusli, ahli kanker "Penyakit kanker, sering diibaratkan dengan iceberg phenomenon. Seringkali tampak kecil, tetapi masalah yang sebenarnya jauh lebih besar sehingga harus diwaspadai"
Tidak kalah menarik dengan sesi pertama, pada sesi kedua, dr. Fatih mengupas tuntas masalah penyakit jantung koroner.
Fatih sudah berdiri dibelakang podium
"Jantung merupakan organ penting, sehingga penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit yang serius. PJK merupakan penyumbatan atau penyempitan pada pembuluh darah koroner, yang menyebabkan aliran darah dari dan ke jantung terhambat sehingga dapat berakibat pada terjadinya serangan jantung"
Dokter Fatih juga menjelaskan faktor-faktor penyebab, cara diagnosis, dan penanganan medis terhadap penyakit ini.
"Modifikasi gaya hidup diperlukan untuk mengurangi faktor risiko penyebab PJK. Mengatasi stres dengan relaksasi, tidak merokok dan minum alkohol, konsumsi makanan sehat dan juga seimbang, serta mempertahankan kebugaran dengan olahraga yang teratur"Jelas Fatih.
Seminar ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta, yang terdiri dari dokter-dokter pada UPT Layanan Kesehatan UIR, dosen, karyawan, mahasiswa UIR, dan masyarakat umum.
Acara seminar kesehatan ini berlangsung dengan meriah.
Antusiasme peserta ditunjukkan dengan banyaknya peserta yang bertanya seputar dua penyakit serius ini maupun pengalaman kesehatannya.
Retno baru pertama kali melihat suaminya berdiri dibelakang podium, rasanya bangga dan semakin salut pada suaminya
Retno terus tersenyum kecil, menatap suaminya, dan mengusap perut ratanya "Beruntung sekali aku menjadi pendampingmu ya mas. Anakmu pasti bangga padamu"
-
Setelah seminar selesai, Fatih dan Retno sudah sampai dirumah babe
Fatih yang sudah tidak sanggup menahan pusing serta mual, iapun masuk kekamar dan muntah-muntah dikamar mandi
"Kenapa nduk, dengan suamimu. Kok keburu-buru masuk kamar" Rani sedikit bingung, menantunya datang, begitu bersalaman langsung lari menuju kamar
"Biasa bu, sekarang dia sering muntah-muntah gitu bu. Sakit apa kira-kira ya"
"Memangnya sudah diperiksakan belum? Terlihat dari wajahnya kurang fit"
"Nggak tau bu. Oiya bu, markisa dibelakang masih ada nggak bu"
"Masih, buat apa cari markisa"
"Ehe" Retno nyengir
"Kenapa cengar cengir"
"Enggak, daddynya Fatihah ingin banget minum wedang markisa"
Rani mengabsen tubuh putrinya, lalu teringat "Oh, jangan-jangan yang ngidam itu suamimu" Rani meraba-raba perut Retno "Katanya kau telat haid. Kau jadi hamil kan?"
Retno mengangguk "He em bu"
"Oh, beh, beh, kemari beh" Rani berlari mencari babe
Tiba-tiba
Uhuk uhuk uhuk
Terdengar dari luar, Fatih sudah batuk-batuk, bertanda, dia sudah selesai mengeluarkan sesuatu yang membuatnya redah dari pusingnya
Retno masuk "Mas"
"Sayang, aku lapar"
"Ayo, ayo kita kedapur. Mas ingin makan apa?"
"Makan nasi. Lauknya sayur daun ketela, kayaknya enak"
"Iya, iya. Kita kebelakang dulu"
__ADS_1
1.294 kata. Sekali lagi, penjelasan adalah bonus
BERSAMBUNG.......