
Tak terasa seminggu sudah Fatihah berada dipedesaan yang ada didaerah Bandung
Seminggu juga, keluarga Fatihah menghubunginya bergantian
Papanya jelaslah nomor satu, dan diurutan kedua, pastilah kekasihnya yaitu Naufal. Dan diurutan berikutnya, seluruh keluarganya ikut sibuk mengirim pesan ataupun telepon meskipun jarang
Seperti sekarang, Imran menghubunginya
"Imraaaaan...." Teriak Fatihah membuat kedua kawannya mendekat
[Woi Barbie, pa kabar??]
"Ah, kamu. Seneng banget bilang begitu. Memangnya aku mirip"
[Haha.. Banget. Gimana disana, betah? ]
"Betah nggak betah harus lakuin"
[Haha yang semangat dong. Baru pindah kota, kayak nggak punya daya dan upaya, gitu. Contoh Ghoziya, dia juga betah tinggal di UK]
"Ish, aku beda Imran. Eh, mana dia"
[Belum pulang. Biasanya bentar lagi]
"Oh.., Imran.." Panggil Fatihah
[Iya]
"Kamu kapan pulang"
[Liburan semesterlah. Kenapa? Kamu mau menikah? Cari waktu pas liburan dong, tahan. Ntar aku tarik sikembar Fawas dan Ghoziya, pasti datang]
"Ish, bukan itu yang aku maksud. Aku hanya kangen kalian"
[Ck]
"Lama kita jarang kumpul loh"
[Haha.. Kita sama-sama sibuk cari ilmu. Oh iya, memangnya keluarga nggak seperti dulu? Kumpul-kumpul gitu]
"Masih sih. Tapi kurang asyik karena diisi sama para orang tua"
[Haha.. Yang sabar. Memangnya nggak keliling kayak dulu?]
"Jarang. Gepa kan sudah tidak mau untuk perjalanan jauh. Jadi seringnya kumpul dirumahku. Eh, rumah gepa maksudnya, lupa" Fatihah terkekeh
[Haha. Tadi aku telpon masih sehat-sehat sih]
"Iya sehat, tapi sudah tidak mau jalan jauh. Maunya dirumah doang"
[Oh.. Semoga kalian sehat selalu, ya.. Oh iya udah ya Fat, bateraiku low]
"Oke Jugal Hansraj.."
[Ish, Jugal sudah ubanan tau. Udah tua. Udah ya, bye]
Imran menutup sambungannya, dan Fatihah mulai rebahan lagi
"Siapa Fat" Tanya April
Fatihah menunjukkan profil Imran diponselnya "Imran"
__ADS_1
"Wih, cakep bener Fat" Ujar April "Des, des. Cowok cakep Des"
Desy mendekat "Wih, idaman banget. Bibir merah, bulu tipis yang ada diwajahnya, menambah sexy. Siapa tadi Fat. Pacarmu?"
"Siapa tadi namanya?" Tanya April
"Iya, tinggal Dimana??" Saut Desy kembali
Fatihah menarik ponselnya "Tanyanya satu-satu"
Desy menarik ponsel Fatihah dan merebutnya "Beuh Pril, lihat deh" Desy menunjuk gambar Imran pada April, lalu manatap Fatihah "Bukan pacarmu Fat?"
Fatihah geleng-geleng "Dia usianya lebih muda dari kita. Memangnya kamu mau, punya pacar lebih muda seperti Dia?"
"Oh, tapi.. Tidak terlihat muda dari kita sih. Cocok aja" Desy membandingkan foto Imran dengan Fatihah "Cocok. Lihat Pril. Cocok kan?"
"Iya.. Doi lu Fat?" Tanya April
"Bukan" Saut Desy "Calon pacarku. Siapa tadi namanya Fat ?" Tanya Desy lupa
"Imran"
"Bukan pacar lu, tapi akrab gitu. Panggilnya juga siapa tadi sama elu"
"Barbie. Menyebalkan"
"Cie, si Imran berarti cowok yang ngedeketin lu Fat. Embat saja sih. Cakep ini" Saut April membuat Desy protes
"Orang Fatihah nggak mau kok. Kenalin sama aku aja Fat"
Fatihah tertawa "Kalau mau sama Imran, mana uang pelangkah, uang pelangkah" Fatihah meminta uang pelangkah pada kedua temannya
"Ish, saudara sepupuku kan banyak Des"
"Maksudmu, Imran itu sepupumu, gitu?"
Fatihah mengangguk "Usianya juga lebih muda dariku. Hayo, yang mau sama dia, kasih aku uang pelangkah" Jawab Fatihah sambil menggerakkan kedua jarinya meminta duit
"Ish, mata duitan lu. Belum jelas dia mau. Eh, gue rugi duluan untuk Bayar ke elu"
"Yang penting kita kan usaha Pril"
"Elu ngarep banget Des"
"Udah-udah. Anaknya juga belum tentu mau, betul kamu Pril. Lagi sibuk mikirin study dianya. Dan papa Hanan, melarang putra-putrinya pada pacaran. Jadi, kalian jangan mikirin dia dulu, ya. Capek"
"Yeh, tadi kayaknya semangat jadi mak Comblang. Giliran ada yang minat, biro jodohnya ditutup. Nggak asik kamu ah"
Fatihah tertawa melihat Desy kecewa "Cari cowok disini aja Des. Dia jauh dinegri sebrang. Ntar kamu kecewa"
"Memangnya dia tinggal dimana?" Tanya April lupa
"UK. Kamu tau UK dimana?" Saut Desy kesal
"Cibubur" Saut Fatihah sambil tertawa
"Tau. Inggris, kan" April terduduk dengan wajah yang sudah ditekuk-tekuk "Ponselmu rame bener Fat, tiap hari bergantian gitu ada yang menghubungi. Nggak seperti gue. Sejak gue pergi KKN, sekalipun bokap ataupun nyokap, belum sekalipun menghubungi gue"
Fatihah dan Desy memeluk tubuh April
"Sabar Pril. Meskipun orang tuamu tak menanyakan kabarmu, bukan berarti mereka tak peduli padamu"
__ADS_1
"Mungkin lagi cari duit yang banyak Pril. Biar kamu tambah seneng" Ucap Desy yang ekonomi orang tuanya biasa-biasa saja
April menatap Fatihah dan Desy bergantian "Udah ah. Jangan mikirin yang sedih-sedih. Kita jalan yuk ke lapangan desa. Penasaran gue sama hiburan yang ada dikampung"
"Ya udah deh sana pergi, aku capek. Aku mau istirahat. Kalian pergilah"
"Kamu beneran nggak ingin ikut keluar Fat?"
"Nggak"
Dan malam minggu ini, 10 kawan lainnya, semuanya akan keluar untuk mencari hiburan yang ada dilapangan samping balai desa ini
"Beneran Fat, lu nggak ikut kami keluar" Tanya April yang sudah diambang pintu
"Aku sedikit kurang enak badan Pril. Aku ingin istirahat" Bohongnya, padahal sengaja menunggu sang pujaan hati menelponnya
Fatihah bersembunyi didalam sarung milik papanya
Setelah kepergian seluruh kawannya, Naufal menghubungi Fatihah lewat video call
Hati Fatihah gembira tiada tara. Kangennya sudah terobati
Fatihah keluar dari kamarnya, dan duduk diayunan yang berada dibelakang rumah milik pak lurah
Dia melamun sambil memandangi foto Naufal yang tersimpan diponselnya, hingga dirinya tidak sadar, jika ada seseorang yang memperhatikan
Pria itu baru saja pulang tugas dari perusahaannya yang berada di kota Bandung. Dan malam ini, seperti biasa pulang kerumah seperti minggu-minggu yang telah lalu
Pria itu mengernyitkan dahi "Siapa cewek itu. Sendirian" Ia tatap dari kejauhan, lalu pria itu mendekat
"Hai, siapa ??" Ucapnya sambil memutari Fatihah yang sedang sibuk mengayunkan ayunannya
Fatihah menatapnya dan menyembunyikan gambar kekasihnya yang tadi Fatihah tatap
"Kamu memakai sarung? Sarung siapa tuh. Bukan sarung ayahku kan?" Tunjuk pria itu pada sarung yang Fatihah pakai untuk bawahan
Fatihah tidak menjawab. Ia justru berpindah menjauhi pemuda yang roman wajahnya seperti wajah Imran 'Tampan. Tapi rese"
Fatihah sudah berpindah dan duduk dikursi yang berada ditaman belakang, dan sibuk dengan ponsel nya kembali
Pemuda itupun menatapnya dari kejauhan, lalu mendekati Fatihah kembali
Fatihah menatapnya dengan kesal, tetapi masih tetap sibuk dengan foto Naufal, seakan pamer bahwa dirinya telah memiliki kekasih
Pria itu mendekat, lalu menaikkan satu kakinya ke kursi, kemudian menarik dompetnya dan membukanya seperti menatap foto pacar yang ada didalam dompet
Fatihah menatapnya kesal "Heh, ikut-ikutan" Lalu, Fatihah menjauhi pria tadi untuk masuk kerumah
Pria itu mendekat, memutar tubuh Fatihah "Kamu anak KKN?" Pria itu menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan
Fatihah tidak menyambutnya
"Perkenalkan. Aku Taufan. Putra pemilik rumah ini" Kemudian, Taufan menunjukkan dompetnya yang kosong tanpa foto siapapun
Fatihah mengangah
Taufan meninggalkan Fatihah sendirian
"Oh.. Kenapa aku baru nyadar. Kirain orang lain yang iseng. Waduh, anaknya pak lurah??" Fatihah tersenyum kecut "Ada ya, orang ingin berkenalan, muter-muter dulu" Fatihah geleng-geleng
BERSAMBUNG.......
__ADS_1