
Mereka saling tatap
Cup
Cup
Cup
Fatih sudah menghujani seluruh wajah istrinya. Dan terakhir bibir
Emmmuuah
Emmuah
Fatih tersenyum, lalu mengusap dagu tirus milik istrinya
Retno menyambutnya. Ia mengusap rahang tegas milik suaminya, lalu tangannya mengalung dileher Fatih. Menatapnya intens, dan membenamkan wajahnya didada suaminya. Malu
Fatih kembali memeluknya "Istriku kok kelihatan pemalu malam ini, apa tadi siang ada penghasut yang menyelinap"
Retno menatap netra suaminya "Itu anakmu mas. Kalau dia dengar, sakit dia"
"Ahaha. Dia tidak membuat ulah kan?"
Masih bertatapan
Retno menggeleng "Dia hanya ingin diantar untuk membeli baju"
"Oh.. Sekarang gantian. Baju sayang, mas lepas. Tadi siang juga ikut beli kan?"
Retno mendelik sambil tersenyum "Tidak ...!!"
"Tidak salah??" Tebak Fatih
Retno mengangguk, lalu
Ahaha
Mereka tertawa, lalu terdiam
Fatih sudah menindihnya sedikit meremang. Dia sadar, dibawah ada calon janin yang masih rawan
Dengan ketrampilan tangan Fatih, mereka sudah sama-sama polos
Fatih mulai menyesap dua buah kembar yang ada didepannya, bergantian
Pluk
Fatih melepasnya
"Sayang, mas akan melakukannya dengan pelan" Izinnya
Retno mengangguk "Iya mas"
Setelah mencum bu sana sini, Fatih mulai berdiri dengan lututnya
"Miring kesana sayang"
Meskipun malam ini Fatih menggebu-gebuh, ia tetap sadar, jangan sampai menindih istrinya. Bahaya
Fatih sudah dibelakang tubuh polos milik Retno "Siap ya"
Retno mengangguk sambil pegangan guling yang ada dipelukannya sebagai ganjal
Sedikit takut, karena langsung terasa, jika milik suaminya sudah menghujam dibawah sana.
Hal ini memungkinkan penetrasi tidak terlalu dalam, sehingga tidak akan berdampak ke janin.
Fatih mulai menghentak-hentakkan dengan tepat
Retno yang berada didepannya sudah terlihat menikmati hujaman dari dirinya.
Fatih mulai bersemangat, membuat hentakannya dipercepat, agar mencapai ritme yang sesuai.
Fatih memperpelan kerjanya "Posisi seperti ini enak?" Tanyanya meskipun kepunyaannya masih didalam dan belum ditarik.
Sembari meliuk
Retno mengangguk lagi "Iya, lakukan lagi"
Setelah Retno dan Fatih menemukan kecepatan yang nyaman, maka posisi seperti ini terasa semakin nikmat dan menyenangkan.
Fatih terus melakukannya. Sepersekian menit, pencaipaian mereka sudah dipuncak
__ADS_1
"Ssssssssss"
Keduanya mendesis sambil memejamkan matanya
Mata Fatih terbuka, lalu membungkuk ingin menerkam buah dada yang melambai-lambai, karena hentakannya. Tapi susah. Karena jauh diposisi seperti ini
Fatih sudah menarik pedangnya, yang sudah membanjiri milik Retno
"Jangan gerak sayang, tissue mana tissue"
"Itu diatas"
Setelah membersihkan milik keduanya, Fatih merebahkan tubuhnya dibelakang istrinya untuk istirahat sejenak
Setelah tenaganya terkumpul kembali, tangan Fatih memeluk perut Retno dari belakang
"Perutnya kram nggak?"
Retno menoleh "Nggak"
"Oh.. Syukurlah" Fatih memeluk tubuh istrinya kembali, setelah posisi Retno telentang
Fatih memiringkan kepalanya, dengan tangannya yang ia tekuk sebagai sandaran
Tangannya kembali bermain didada istrinya "Ukurannya makin bertambah" Ucapnya menggoda "Cup" sekaligus mencium pipi istrinya, Lalu tangannya kembali bermain disana
Tangan Retno menumpuki tangan suaminya "He em.. BH nya juga sedikit nggak muat, nongol dagingnya"
Fatih tertawa "Hahaha" Kaki dan tangan Fatih memeluknya kembali, lalu *******-***** dada Retno berulang-ulang "Lucu ya"
"Punya mas juga iya. Lihat" Retno menunjuk pedang milik suaminya yang terlihat menantang lagi, yang menempel dipahanya
Fatih meliriknya sekejab, lalu menatap Retno kembali "Iya, tapi mas takut. Takut terjadi apa-apa pada kandungan sayang"
"Terus, bagaimana?" Retno takut, sebagai seorang istri tidak bisa memuaskan suaminya
"Ya, tidak kenapa-napa. Ayo mandi" Fatih akan duduk
"Boleh aku pegang" Ucapnya malu-malu
"Boleh"
Retno memegangnya dengan tangan satunya, sedang tangan yang lain untuk menutup mulutnya yang mengangah yang tak tau malu
'Besar banget'
Fatih merebahkan tubuhnya lagi, dengan merasakan sensasi pijatan dari seseorang yang sudah memenuhi isi hatinya
Retno melihat fatih sudah memejamkan matanya "Mas.. "
Fatih membuka matanya "Hmm"
"Mas ngantuk?"
Fatih menarik nafas panjang, lalu menggeleng
"Oh" Tangannya masih setia memijat benda tumpul milik suaminya "Pertama kali aku lihat ini seperti ubi kayu. Memangnya kalau duduk nggak susah mas?" Tanyanya penasaran
Nafas Fatih semakin memanas
Sementara, Retno masih tak sadar dengan memegang benda itu, membuat yang punya sudah kalap
Fatih duduk, dan merebahkan Retno "Tidur sayang"
Retno yang direbahkan ikut kebingungan
"Ada apa mas?"
"Mas mau lagi" Jawabnya
"Lagi??" Ulang Retno
Baru selesai ngomong, Fatih sudah menenggelamkan kepunyaannya
"Iya... Akkkk"
Fatih sedikit kalap. Ia lupa ingin mencapai puncaknya
Retno kembali mengeratkan giginya, menikmati sekaligus takut karena hentakan yang keras dari sang suami
Erangan dan desa han keduanya saling bersahutan, hingga mencapai puncaknya
Tulang belulangnya serasa lolos dari kulitnya
__ADS_1
Kembali Fatih menarik miliknya, lalu terkapar disisi Retno "Sayang.. semoga kau tidak apa-apa. Mas lupa" Ucapnya masih mengumpulkan tenaganya yang habis setelah bertempur
-
Setelah mandi besar, mereka merasakan perutnya yang kelaparan
Kruyuk
Perut keduanya sama-sama berbunyi
Ahahaha
Mereka sama-sama tertawa malu. Ternyata, pertempuran ini membuat mereka ingat, kalau malam ini belum makan malam
Malam ini Retno ingin mie ayam buatan suaminya
Untung stok dilemari ada mie yang biasa dibuat untuk spageti
"Mienya aja mas yang direbus. Ayam kecapnya ada ini"
"Oh iya, ya sini mas racikkan"
Fatih meraciknya ala ala dia. Meskipun tampilannya tidak sama yang ada restoran manapun, yang penting Fatih bisa mengabulkan permintaan istrinya
"Duduk sayang" Ucapnya sambil membawa dua piring mie ayam spesial made in Fatih
Retno duduk dengan tersenyum lebar
Fatih menyodorkan satu piring untuk istrinya, dan piring satunya untuk dirinya
"Langsung dimakan ya mas, sepertinya racikan mas menggoda"
"He em. Makanlah sayang. Semoga suka"
Mereka makan saling berhadapan
Retno merasakan hasil karya suaminya, enak
"Bagaimana rasanya? Suka?" Tanya Fatih
"Suka sekali.. Enak"
Kemudian, Retno berdiri dan menjulurkan kedua tangannya kearah Fatih
Fatih berdiri menyambutnya
Mereka saling berpelukan, dengan terhalang meja
"Makasih mas"
Retno mengurai pelukan
"Sama-sama sayang"
Fatih terharu. Masakan biasa saja bisa membuat istrinya girang dan berterimakasih padanya
"Alhamdulillah..."
"Habis satu piring?" Tanya Fatih
"Habis"
Fatih menjulurkan tangannya, lalu mengusapnya "Masih kurang?"
"Enggak. Sudah cukup. Aku nggak bisa tidur kalau kekenyangan"
-
Pagi harinya
Fatih datang ke restoran, untuk menggantikan mamanya, yaitu sebagai Restaurant Manager atau RM
Mama Sifa berhalangan hadir, karena papa Ilham tidak enak badan
Sebenarnya, kerjaannya cuma duduk-duduk, menemani tamu apabila diperlukan, dan Memastikan tamu mendapatkan apa yang mereka inginkan
Sebagai orang yang paling bertanggung jawab akan maju mundurnya sebuah restoran, RM biasanya dibantu oleh asisten, supervisor, dan seterusnya hingga sampai ke bush boy
Di sini nanti akan ada saling lapor
Asisten melapor ke RM, supervisor lapor ke asisten, captain lapor ke supervisor, dan seterusnya.
Simpelnya, RM punya kerja harian, kerja mingguan dan kerja bulanan.
__ADS_1
Kerja hariannya, Fatih datang ke restoran, hanya sebentar untuk cek log book, cek komposisi staf, cek dapur, cek stok, cek kebersihan semua area resto, intinya ngecek pokoknya.
BERSAMBUNG.....