
Akhir-akhir ini, Viviana didampingi Hermawan, terus mencari dimana keberadaan bayinya yang telah hilang saat dirinya dibawa kepanti sosial dulu.
Kini, penyesalan Viviana berbuntut panjang karena rasa bersalahnya terhadap putrinya
Tiap hari, dirinya hanya melamun dan terus menangis. Membuat Hermawan tambah kasihan "Mih, yang sabar ya. Kita juga sudah mencarinya kemana-mana. Sekarang, sekali lagi kita mencari. Jika hari ini nihil, kita harus lapor pada polisi"
"Tapi mas, biayanya pasti banyak"
"Jangan pikirkan soal biaya, ya?"
Viviana menatapnya sambil berkaca-kaca "Makasih ya mas. Aku memang ibu yang egois"
"Sudah. Jangan salahkan diri terus"
Sementara ditempat laundry
Retno sudah ketakutan "Mak Jun. Kita harus segera nyerahin Elsa pada mbak Vivi mak. Aku takut dikira kita itu ngumpetin. Aku takut terjadi masalah"
"Memangnya kamu tau to nduk, dimana rumah nyonya Vivi" Ucap bu Erna
"Tau bu. Tapi rumah suaminya. Nggak pa-pa kali ya bu"
"Menurutku sih nggak pa-pa" Jawab bu Erna
"Nyonya Vivi balik lagi pada suaminya, mbak?" Tanya mak Jun "Kalau balik, mending bayi ini masih tetap disini saja"
"Bukan mak, bukan kayaknya. Mbak Vivi menikah dengan pria yang lebih dewasa kok. Kata mak Jun, bapaknya Elsa anak gaul. Kulihat yang sekarang nggak kok. Kebapakan, dan terlihat sayang gitu"
"Mbak Retno lihat Dimana?" Tanya mak Jun lagi
"Dirumah suaminya minggu lalu"
"Kok mbak bisa tau"
"Ya tau. Kan minggu lalu, mbak Vivi menikah. Dan kami menghadirinya"
"Oh, berarti nyonya Vivi menikah lagi?" -Mak Jun
Retno mengangguk
"Tapi, aku kok sudah sayang sama Elsa, ya mbak. Aku juga takut sama nyonya Vivi. Ntar nyonya ngamuk, bagaimana ?" Ucap mak Jun takut
Retno ikut bingung "Iya juga ya"
Tanpa fikir panjang, Retno menghubungi Fatih lewat chat "Mas, aku ada masalah. Aku ingin kerumah mbak Vivi"
Pesan tersebut, ternyata langsung dibaca oleh sang suami
Fatih memang orang yang tidak suka basa-basi. Maka telponlah dia pada Retno
Retno kelabakan saat dirinya melihat nama suaminya memanggil berkali-kali diponselnya 'Pasti aku akan dimaki-maki'
Sementara mak Jun dan bu Erna terus berseteruh
"Jun. Sebaiknya, kamu kasihkan sama emaknya. Kalau perlu, aku anter. Biar kamu tidak disalahin" Saut bu Erna
Sebelum Retno mengangkat telepon dari Fatih, iapun terus membujuk mak Jun "Mak, aku juga kan punya bayi, dua lagi. Nih, nih" Tunjuknya pada gendongannya satu, dan satunya digendong oleh Poniyem "Memangnya mak Jun nggak ingin ngasuh anak-anakku?"
"Mau sih mbak. Tapi, apa tidak masalah jika saya masih ingin bekerja seperti biasa disini" Tunjuk mak Jun pada laundry
Telepon Retno terus berbunyi. Tapi Retno belum mau mengangkatnya
"Boleh mak. Kan untuk siangnya doang. Kalau sudah malam, aku tarik lagi keatas. Tetapi kalau untuk sekarang, aku belum bisa ngajak sikembar kesana kemari, karena aku masih nginap dirumah mertua"
__ADS_1
"Seneng ya mbak" Tiba-tiba mak Jun berkata seperti itu
"Kenapa?"
"Mbak bisa seakrab ini dengan mertua. Kalau dulu, nyonya mana mau disuruh nginep dirumah tuan dokter Ilham. Dia pasti menolak dan marah-marah. Kasihan tuan Fatih. Sering mengalah"
Wajah Retno berubah sendu. Ada rasa cemburu mendengar cerita lalu sang suami. Kemudian, Retno mengangkat telepon dari suaminya
[Kenapa baru diangkat. Ngapain mau kesana !!"]
"Ada urusan penting"
Tut
Retno segera menutup sambungannya, lalu mematikan datanya, agar suaminya tidak menghubunginya kembali
"Ayo mak, buruan. Ayo bik, bu. Ibu Erna juga ikut"
"Siap nduk"
-
Sebelumnya, Retno sudah berpamitan kepada mama Sifa, untuk berkunjung ke laundrynya. Dengan izin mama Sifa, Retnopun pamit sekaligus dipinjamin mobil oleh sang mertua
Retno membawa kedua bayinya dan juga Poniyem, untuk menjaga salah satu bayinya, agar tidak merepotkan orang yang ada dirumah
Kembali kelaundry
Setelah keputusannya sudah bulat, Retno mengangkut mak Jun, bu Erna, Poniyem, baby Elsa, dan kedua putranya, untuk mengembalikan baby Elsa kerumah ibunya
Sedangkan Sri dan karyawan lainnya, sengaja ditinggal untuk mengurusi laundrynya agar tetap beroperasi
-
Sambil menggendong Fahri, ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut
Tiba-tiba
"Cari siapa?"
Suara bariton itu melemaskan seluruh tulang-tulangnya. Retno menoleh. Dan semuanya juga ikut menoleh kesumber suara
Viviana langsung mengenali Retno, dan juga mantan pembantunya yaitu mak Jun "Bik. Kaukah itu?" Lalu menatap bayi pada gendongan mak Jun "Siapa ini?"
Hermawan masih bingung, dengan kedatangan pasukan ibu-ibu yang datang kerumahnya, dengan menggendong tiga bayi 'Mau periksa atau Bagaimana?'
Dikira para ibu-ibu itu mau memeriksakan kepada dirinya. Tetapi dilihat secara intens, istrinya terlihat mengenali pada salah satu ibu yang menggendong bayi "Mih, kau kenal dengan mereka?" Sambungnya
"Sangat mas" Viviana mengabsen Retno dan juga mak Jun. Lalu menunjuk Retno "Ini istrinya kak Fatih, ibu sambungnya Fatihah"
"Terus, mereka kesini mau apa?"
Mak Jun sudah ketakutan dan ingin terkencing-kencing
Viviana menatap bayi perempuan cantik yang berada digendongan mak Jun. Vivi tidak menjawab pertanyaan suaminya, melainkan bertanya pada mak Jun
"Bayi siapa ini bik?"
"Baby Elsa nyonya" Ucapnya sudah berkaca-kaca "Maafkan saya nyonya. Saya terpaksa membawa bayi ini. Karena saya takut bayi ini diapa-apain sama tuan Bob..."
Belum selesai bicara sudah diputus oleh Vivi
"Cukup !! Jangan sebut pria itu lagi dihadapanku" Teriak Vivi dan merebut bayi Elsa kegendongannya
__ADS_1
Tak peduli Elsa menangis. Vivi juga ikut menangis
"Mih, ini siapa??"
"Ini bayiku mas, yang selama ini kita cari" Vivi kembali ingin murka dihadapan tamunya
"Kamu" Tunjuknya pada Retno
Retno terkejut hingga matanya melebar
"Dan kamu bik" Tunjuknya pada mak Jun "Kenapa kalian bisa bareng. Kalian saling kenal. Kalian sengaja ngumpetin anakku ??!"
Tiba-tiba
"Tunggu !!"
Semuanya menoleh pada sumber suara
'Mas Fatih' Hati Vivi dan Retno
Retno sudah pucat
Fatih berjalan mendekati Retno "Sayang, kenapa kamu panas-panasan kemari. Ada keperluan apa?"
Retno menunduk ingin menangis. Fatih faham, istrinya pasti ada masalah
-
Setelah penyerahan baby Elsa pada ibunya, Fatih segera membawa istrinya dan semua pasukannya untuk pulang
"Mas"
"Pulang"
Fatih pulang keapartemen dengan mobilnya tanpa penumpang. Sedangkan Retno, pulang dengan seluruh pasukannya
-
Diapartemen
Fatih benar-benar naik pitam "Siapa yang mengijinkan bayi itu tetap berada disini" Ucap Fatih geram
Retno sudah berkaca-kaca. Baru pertama kalinya dirinya dibentak
"Jawab !!!"
Retno tidak menjawab. Ia menangis dan juga Fahri karena kaget dengan teriakan papanya
Untung Poniyem tidak ikut keatas. Jika ikut, ramailah apartemen ini
"Kenapa diam !! Kenapa menangis ?!! Rupanya diam-diam, kau sudah melanggar ya.. Kalau mereka tidak terima, lalu kamu dijebloskan kedalam penjara. Siapa yang akan menolongmu"
"Mas" Retno terduduk dilantai dan terus menangis
"Kamu sudah buat aturan sendiri. Sekarang terserah kamu. Jika kamu ingin mempertahankan egomu, kamu jangan pulang kerumah mama" Kemudian Fatih berjalan kedepan
"Mas... "
"Cukup Retno. Kau jangan kemana-mana. Kau juga jangan sampai pulang kerumah ibu juga. Kau tetap disini" Ucapnya penuh penekanan
Retno menangis sejadi-jadinya
Sedangkan Fatih, kesalnya sampai keubun-ubun
__ADS_1
BERSAMBUNG......