
Sebelum berpisah, Viviana sudah mengenalkan Hermawan pada Fatihah. Dan pertemuan itu pula, Viviana mengharap kehadiran putrinya untuk datang dipernikahannya seminggu yang akan datang
Sebagai anak yang berbakti, Fatihah meng iyakan untuk datang ke pernikahan maminya untuk yang ketiga kalinya
-
Hermawan memegang tangan Viviana, lalu ia tarik dan menciumnya
Viviana terkejut dan segera menariknya
"Maaf. Aku sudah tidak sabar untuk segera menikahimu, mih" Ucap Hermawan tersenyum semringah
Viviana mengangguk
Hati kecilnya sedikit menimbang untuk hidup bersama laki-laki yang berbeda, untuk hidup bersamanya yang ketiga kalinya
'Nasehat papa ada benarnya. Semoga jalan yang kutempuh kali ini sudah benar'
"Kenapa melamun?" Tanya Hermawan lembut
Vivi geleng-geleng "Tidak pak"
"Panggilnya ganti dong. Seminggu lagi, kita akan segera gelar acara akad nikah. Mas tidak mau menunggu terlalu lama. Apalagi kita sudah mengantongi restu. Iya kan, mi" Ucap Hermawan tersenyum kembali
Viviana mengangguk lagi
-
Tiap hari, Hermawan tidak segan-segan untuk mengirimkan makanan kekontrakan Viviana. Baik sarapan, makan siang, hingga makan malampun, selalu ia kirimkan lewat delivery
Hermawan sangat menghormati wanita. Terlebih wanita yang ia sayangi kali ini, masuk kriteria. Masih cantik, meskipun usianya sudah berkepala 4. Dan Viviana yang ia kenal saat ini, orangnya sangat sederhana. Tak pernah menolak pemberiannya. Lalu, apalagi yang ditunggu oleh Hermawan.
-
Akad nikahpun digelar
Fatihah bersama Naufal, papanya, dan juga mama sambungnya, datang keacara pernikahan maminya
Fatihah berdiri mematung dihadapan sang mami
Viviana tersenyum, lalu memeluk Fatihah sambil berkaca-kaca "Ini siapa ?" Tunjuknya pada pemuda tampan yang ada dibelakang Fatihah
Viviana mengurai dan masih memegang Fatihah
Fatihah tidak menjawab, melainkan Naufallah yang memperkenalkan diri
Mereka berjabat tangan
"Saya Naufal tante, tunangan Fatihah. Selamat ya tante, semoga samawa" Ucap Naufal tulus
Viviana tersenyum "Terima kasih ya nak"
Sebagai ibu yang telah melahirkan Fatihah, Vivi ingin berpesan kepada Naufal untuk selalu menjaga putrinya, tapi sekali lagi, ia tidak enak dengan Fatih yang selama ini ia buat susah dan sengsara
Fatih dan Retno sudah dihadapannya
Ada sedikit rasa tercubit, tetapi juga kagum. Setelah lepas darinya, suami pertamanya kini lebih muda dan tampan
Vivi menggelengkan kepalanya 'Ya Allah, mas Fatih adalah masa laluku. Aku tidak boleh merebutnya kembali'
Vivi menatap Hermawan "Mas, ini papanya Fatihah"
Hermawan dan Fatih saling tatap, lalu berjabat tangan
"Dokter Hanan ??" Sapanya membuat semuanya terbengong
"Mas kenal dengan kak Hanan?" Ucap Vivi pada Hermawan
Hermawan mengangguk "Jadi, papanya Fatihah dokter Hanan?"
"BUKAN!!" Jawab semua orang
"Tapi kok, mirip"
"Papanya Fatihah kembarannya dokter Hanan mas, dan papanya Fatihah, bernama Fatih"
__ADS_1
"Oh..." Hermawan baru tau
"Dan ini Retno, ibu sambung Fatihah" Sambung Vivi
Mereka berdua menangkupkan kedua telapaknya kedada masing-masing
Fatih menjabat tangan Vivi "Selamat ya, semoga sakinah mawaddah warahma"
Kali ini Fatih datang dengan hati yang ikhlas. Tidak seperti dulu waktu Vivi menikah dengan Bobby
'Suamimu terlihat penyayang Vivi, aku ikut gembira karena ada orang yang lebih pantas untuk mendapatkanmu'
"Makasih, ya" Ucap Vivi ragu. Dia tidak berani memanggil Fatih sebutan mas lagi. Vivi takut ada dua hati yang akan sakit. Yaitu Hermawan dan Retno
Fatih mengangguk dan bergeser, lalu memeluk Hermawan "Selamat ya bro, semoga bahagia"
"Terima kasih"
-
Pagi harinya setelah pernikahan maminya, Fatihah mempersiapkan diri untuk segera berangkat tugas kuliahnya yaitu KKN
Sementara hubungan Fatihah dan Naufal masih stagnan belum mau membuka jati diri sang pacar. Ia tetap kokoh belum mau memperkenalkan pada publik, jika Naufal adalah kekasihnya.
Tetapi, didalam galeri pada ponselnya, isinya hanya foto-fotonya Naufal yang ia simpan
Dan pada hari ini, Fakultas Psikologi memberangkatkan 2 kelompok KKN Mandiri. Pelaksanaan KKN Mandiri dijadwalkan selama 45 hari didaerah Bandung. Mahasiswa yang terlibat sebanyak 24 orang, yang sudah menyelesaikan semua mata kuliah wajib.
Kelompok ini dibagi menjadi 2. Kebetulan kelompok Fatihah, kelompok yang kedua.
Kelompok I, didampingi oleh dosen Naufal, S.Psi., M.Ed sebagai dosen pembimbing lapangan.
Sedangkan kelompok Fatihah, didampingi oleh Ibu Mawarti, MA sebagai dosen pembimbingnya
Lokasi tempat KKN Mandiri menyambut dengan hangat kehadiran mahasiswa dan dosen KKN Mandiri.
-
Fatihah dan 11 kawannya, tinggal dirumah pak lurah setempat
Fatihah sudah masuk kekamarnya yang ditempati 3 orang. Sedang 4 orang lainnya, menempati kamar tamu lainnya
Begitu Fatihah mengabari papanya sudah sampai di Bandung, gawainya langsung berbunyi
"Daddy, aku sudah sampai dilokasi dengan selamat, daddy jangan khawatir" Ucapnya lewat sambungan telepon
[Salam dulu sayang] Tegur papanya
"He he.. Assalamualaikum dad"
[Waalaikumusalam... Syukurlah sayang. Daddy sudah tidak cemas memikirkanmu]
[Oh iya, memangnya kamu tinggal dimana?] Sambung papanya
"Dirumahnya pak lurah"
[Jaga sopan santun ya, kamu dirumah orang. Harus baik-baik pada tuan rumah] Nasehat papanya
Fatihah mengangguk. Padahal yang diajak ngobrol tidak melihatnya "Daddy tidak tanya dosen pembimbingku siapa?"
[Haha] Fatih tertawa [Memangnya siapa?]
"Bu Mawarti dad, bukan pak Naufal" Ucap Fatihah lirih
[Bagus dong, enak konsultasinya. Kan sama-sama perempuan]
"Daddy"
[Haha.. Kan kalian belum resmi. Daddy tidak mau menitipkanmu 100 persen padanya. Kamu saja yang jaga diri ya, jangan sampai menggoda lawan jenis]
"Ish daddy, tidak percaya gitu sama putrimu dad. Kalau nggak percaya, Fahri sama Fahmi kerahin kesini. Buat mata-matain aku" Kesalnya
[Haha] Fatih tertawa lagi
'Beginilah kalau jauh, ada rasa khawatir dan kangen padamu, sayang'
__ADS_1
"Ah daddy tertawa mulu"
[Haha.. Kalau dekat, sudah daddy cubit kamu. Baiklah, daddy ada pasien. Jaga diri baik-baik ya. Daddy tutup oke.. Ingat. Jaga dirimu baik-baik. Love you sayang]
"Oke, love you to dad" Fatih menutup teleponnya dengan mendekap ponselnya
"Dih, anak daddy sedang dikhawatirkan ya?" Saut Desy sambil mencolek pipi merah milik Fatihah
Fatihah tersenyum lebar "Iya. Meskipun daddyku selalu menyebalkan, tapi daddy memang yang terbaik"
"Disebelin apa dikangenin" Goda Desy lagi
Fatihah tersenyum
"Iya. Baru sampai saja sudah dikangenin. Gue mah, boro-boro" Saut April
"Tapi kamu kan duitnya banyak Pril"
"Banyak sih iya, tapi nyokap dan bokap gue nggak peduli. Kalau gue membuka suara, nyokap selalu kasih duit yang menjadi jawabannya. Ngobrolnya kapan. Seperti sekarang ini, boro-boro ada kata hallo atau tanya kabar. Gue salut sama keluarga lo Fat. Terlihat adem"
"Memangnya papamu juga tidak pernah bilang seperti daddyku tadi"
April geleng-geleng "Semuanya sibuk Fat"
"Beruntung kamu Fat, duit tidak kekurangan, kasih sayangpun tidak kurang" Puji Desy pada keluarga Fatihah
"Alhamdulillah Des, Pril. Jangankan daddy yang jelas-jelas papa kandungku. Papa-papa yang lain saja begitu"
"Maksud papa-papa yang lain itu siapa? Papa tiri lo?"
"Bukan Pril. Kembaran dari daddynya. Termasuk daddynya si Sayra ya Fat?" Jawab Desy sekaligus bertanya pada Fatihah
"Iya"
Semuanya geleng-geleng tidak percaya sambil menepuk pelan lengan Fatihah
"Tukeran Fat. Pasti senang diposisi lo"
"Disyukuri Pril. Akupun pernah jenuh seperti yang kamu rasain. Mungkin orang tuamu sibuk karena demi kamu juga"
"Tapi tiap hari. Gue bosen Fat. Dari cara ngobrolmu tadi, bikin gue iri. Elu tidak pernah kesepian kan Fat?"
"Aku lihat sih enggak. Ada oma dan opanya yang selalu mendampinginya. Jadi aku rasa, kau jauh lebih bahagia Fat. Aku juga ingin sepertimu"
"Dih, senengnya pada ngehayal tentang hidupku" Fatihah senyam-senyum didepan mereka berdua
-
Sementara ditempatnya Fatih
Fatih kembali tinggal dirumah papa dan mama Sifa kembali
Bukan karena bangkrut ataupun apa. Tetapi menemani papanya yang semakin rentah karena usia
Papa Ilham sebenarnya sehat-sehat saja, tetapi Fatih dan Retno khawatir pada dokter Ilham yang sudah lama pensiun dari jagat kedokterannya yang pernah berjaya dimasa mudanya
Sore ini, Retno menyingkirkan seluruh Artnya yang ingin memasak untuk keluarga mertuanya
"Bik, jagain sikembar aja bi. Biar saya yang masak"
"Tapi mbak, saya tidak enak sama nyonya Sifa"
"Kan bibik tidak nganggur. Bibik gantiin jagain sikembar, ya?"
"Oh, tapi si kembarnya tidur kan mbak" Saut bik Poniyem sang Art
"Iya"
"Yah, saya nggak enak mbak"
"Sudah nggak pa-pa. Keburu mas Fatih pulang, hayo"
"Baiklah, mbak Retno memang selalu bisa. Bisa apa aja. Bikin mas Fatih dan keluarga ini senang mempunyai menantu seperti mbak Retno" Puji Poniyem
BERSAMBUNG....
__ADS_1