Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Pertama Kalinya Fatih Kesal


__ADS_3

Fatih duduk diatas ranjang dengan muka yang ditekuk-tekuk


Tadi sore, ternyata anak dari Art yang bekerja dirumahnya Husayn, bertunangan dengan Toto, yang bertempat tinggal digedung apartemen paling ujung, khusus type studio


Sebagai majikan yang baik, Husayn dan putrinya, serta Fatihah ikut menghadiri pertunangan ini. Dan Husayn, ditunjuk sebagai juru bicara dari keluarga penerima lamaran


Kembali ke keluarga Fatih


Retno yang baru pertama kali melihat tampang suaminya cemberut didepannya, sedikit merinding dan tidak berani menyapanya


Sejak tadi, Retno berusaha bertanya dengan halus, tetapi tidak digubris oleh suaminya. Fatih melamun


Akhirnya, daripada sakit hati dicueki, Retno membuat ulah. Yaitu, menata baju yang sudah rapih, dan mengeluarkannya dari dalam lemari, lalu menatanya lagi dengan kasar


Sebenarnya, baju yang ada didalam lemari baik-baik saja. Karena Fatih orangnya selalu berhati-hati jika menarik baju, untuk dipakainya


Dengan sedikit kasar dan dibanting-banting karena kesal dengan suaminya, Retno mulai beraksi


"Ternyata, sejak tadi, aku dirumah sendirian ya. Nggak ada orang yang bisa diajak bicara"


Fatih melirik tapi tidak berkomentar


"Tau gini, mending ikutan Fatihah sama Sayra saja. Mudah diajak ngobrol, lalu curhat, ah" Retno duduk berleha-leha dengan kedua tangannya kebelakang, sebagai penyangga tubuhnya. Kemudian, Retno berdiri, dan berjalan menuju tembok


Fatih masih diam, meskipun netranya sedikit mengikuti arah kemana istrinya berjalan


Retno pegangan tembok seperti merayap "Mbok, tembok. Ngobrol dong mbok"


Plok plok plok


"Mbo-oook"


Retno menabok- nabok tembok dan mengajaknya bicara, membuat Fatih mulai menyauti istrinya, yang berhasil mengganggunya


"Terus"


Retno menoleh kearah suaminya sambil memanyunkan mulutnya "Marah sama siapa sih. Kenapa diamnya denganku" Gerutunya masih didengar oleh sekitar


Retno mengambil ponsel dan berbicara disana


"Oh Fatihah, kenapa? Ada apa? Oh, jadi kita keluar ?"


Fatih mulai terpancing dengan kata-kata "Keluar"


"Ok, tungguin ya, aku susun dulu bajunya, setelah itu, aku segera menyusul" Retno berjalan bolak-balik seperti setrikaan milik babe yang pernah meledak


"Tenang, singanya sudah aku iket dengan hanger" Retno berjalan mundur sambil melirik Fatih yang masih diam


"Hook" Seperti orang bersendawa


Kemudian, Retno berjalan kedepan lagi "Oh terlalu kecil ya. Pakai kabel ??" Retno pura-pura kaget dan berjalan maju mundur, maju mundur cantik "Terus, kalau kecekek dan terjadi apa-apa dengannya, aku gimana dong. Kan aku masih hamil. Aku nggak mau jadi janda"


Fatih diam-diam sudah berdiri mengikuti arah istrinya yang mondar-mandir, dan melihat ponsel istrinya dengan layar yang gelap gulita


"Kamu lagi ngapain??"


Retno spontan berhenti mengomel, lalu membawa ponselnya kebelakang badan


"Sini ponselnya" Tangan Fatih menengadah "Buru. Tadi ngomong apa !! Mondar mandir maju mundur nggak jelas. Puyeng tau nggak"


'Tuh kan, mas Fatih beneran marah'


Hidung Retno sudah kembang kempis karena suaminya marah padanya


Retno terduduk diranjang


Fatih menoleh kearah Retno, ada sedikit rasa bersalah sudah membentaknya. Padahal Retno tidak tau apa-apa


Fatih duduk, dan menarik tangan istrinya


Retno menolak dan membanting ponselnya dikasur, yang sebenarnya tidak ada percakapan apapun


Kemudian, Fatih memeluknya. Fatih tau, Retno menerima telepon bohongan "Maaf. Mas juga tidak mau, untuk menjadi duda yang kedua kalinya"


Fatih menambah erat pelukannya. Retnopun hampir menangis karena tidak bisa melepaskan tangan suaminya dari tubuhnya


"Sudah mas. Aku sesak"


Fatih mengendurkan pelukannya "Yang sesak apanya?" Fatih memegang perut istrinya


Retno menatap Fatih, dengan mata yang berkaca-kaca "Atinya !! Bukan perutnya"

__ADS_1


Retno mengurai tangan suaminya yang bertengger diperutnya barusan. Lalu, tidur dengan model tengkurap


"Eh eh, sayang. hei, kamu lupa ya, didalam perutmu ada bayi?" Fatih membalikkan tubuh Retno, agar perutnya tidak ditindih sembarangan


Fatih mulai lupa dengan kesalnya, dan fokus merayu orang yang sedang merajuk


"Lepasin !! Jangan peluk-peluk" Retno mendorong tangan Fatih


"Eh, eh eh cup cup cup" Fatih kembali memeluk istrinya erat


"Aduh, sakit" Pekiknya


"Iya. Yang sakit yang mana?"


Retno tidak menjawab


Fatih menyingkirkan rambut panjang yang acak-acakan, lalu menatapnya intens


"Haaaaaaaaaaakkkkkhhh" Retno berteriak dengan keras, lalu nggebugin dada suaminya "Aku benci sama kamu mas, sebal sebal sebal sebaaaaaaaalllllll.... "


Cup


Fatih mencium bibir Retno biar diam


Retno terdiam, lalu mengelap bibirnya "Aku nggak mau dicium, aku benci benci benci benciiiiiiiiiiii.... "


"Ahahaha benar benar cinta maksudnya?"


Retno mendorong Fatih, lalu berdiri bersedekap


Fatih mengikutinya, dan memeluknya dari belakang "Kenapa sih"


Retno mendorong Fatih lagi "Kenapa sih, kenapa sih. Mas yang kenapa ?!"


Fatih berdiri menjulang dihadapan Retno "Baiklah, boleh mas bertanya ?" Tanyanya halus, sehalus salju. Bikin dingin suasana, tetapi membuat badan pada sakit karena beku


"Tanya apa?! " Jawabnya masih kesal


"Tanyanya kan halus, kenapa jawabnya kesal"


"Terserah aku. Suka suka aku"


Fatih duduk disofa "Sayang, duduklah disini" Fatih menepuk-nepuk tempat yang kosong, yang ada disisihnya


Bluk


"Sayang.. Hati-hati kalau duduk"


"Biarin. Dari tadi aku sampai salto juga mas diem. Memangnya enak dicuekin"


"Maaf. Mas minta maaf"


"Ya. Udah kumaafkan sebelum mas minta maaf. Tapi atiku masih kesal"


"Kok gitu. Jadi belum memaafkan dong"


"Au. Mas mau ngomong apa, buru"


Fatih menatap Retno kembali, lalu memegang kedua tangannya "Siapa ibu-ibu tadi sore yang menghujat kamu"


Retno mulai menatap Fatih "Mas penasaran?"


Fatih mengangguk


"Dia itu mak Parilah. Tetangga babe"


"Kamu tidak sakit, dihina seperti itu?"


"Ya sakit. Tapi kan ada mas. Nggak jadi sakit"


Fatih mengerutkan dahi "Kenapa bisa"


"Ya bisa" Retno menunduk "Setidaknya ada mas yang ada disisiku" Retno mengangkat kepalanya lagi "Tapi aku kesaaaaallll" Teriaknya membuat Fatih menutup telinganya


"Sayang, jangan berteriak-teriak begitu. Dikira mas melakukan KDRT sama kamu"


"Biarin. Mas sudah KDRT HATIKUUUU!!!"


Fatih memeluknya dan menciumnya dengan sayang "Maafkan mas. Mas fikiran sama Fatihah"


Retno mengurai peluk "Kok bisa. Fatihah kan baik-baik saja"

__ADS_1


Fatih menghela nafas "Sayang sudah dengar sendiri kan, kalau Fatihah sudah punya cowok"


Retno mengangguk "Itu mungkin gertakannya dia aja. Oiya, mas sama Fatihah kok berantem melulu sih. Nggak pernah akur"


"Dia itu anaknya penasaran. Mas kesal dengannya"


"Terus mas tadi ndiemin aku kenapa?"


Fatih mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya "Aku takut, dia berpacaran beneran"


"Memangnya kenapa? Kalau pacaran beneran"


"Aku takut tidak bisa menjaganya. Disuruh nginep disini, nggak mau. Malah sering nginep ditempatnya Sayra"


"Mereka berdua sering gantian nginep kan mas"


"Iya. Tapi mas takut mereka mbablas aja"


"Oh, jadi diem itu pusing mikirin Fatihah? Takut mbablas?"


Fatih menoleh "Iya"


"Nanti lagi begitu ya mas. Biar aku minggat dulu, baru mas nyariin"


Fatih tersenyum senyum menatap istrinya dengan begitu dekat


"Ngapain mas senyum senyum begitu. Kayak baru ngliat orang aja"


"Iya aku baru liat orang yang tambah cantik aja, sumpah"


Retno berdiri "Oh.. Jadi beneran, dari tadi itu mas lihat aku seperti tembok"


"Eh eh eh, jangan merajuk begitu. Maaf, mas pusing memikirkan Fatihah. Dia masih terlalu kecil"


"Kecil itu anak SD mas"


"Iya, mas tau. Tetapi bagi mas, Fatihah tetap seperti anak kecil. Masak anak kecil sudah pacaran" Fatih memegang perut Retno "Yang ini aja belum lahir. Masa mau mantu aja. Nggak ah, ntar dulu"


"Oh.. Jadi mas fikirannya sampai sejauh itu?"


"Iya, kenapa?"


"Nggak kenapa-napa" Cengirnya


"Oooooo"


Gung


-


Sementara ditempat lain


"Pa. Aku jangan dipulangin kerumah grandma ya. Aku ingin tidur ditempatnya papa lagi" Ujar Fatihah pada Husayn


Husayn menoleh kearah Fatihah, yang duduknya disamping kemudi "Kenapa? Kamu nggak takut daddymu bener-bener nelan kamu"


"Iya Fat. Papa Fatih terlihat marah loh" Ucap Sayra yang duduknya dijok belakang, tapi badannya berada ditengah-tengah mereka


"Daddy sekarang gawat Ra. Ngeri tau"


"Udah tau ngeri, kenapa mancing-mancing" Ucap Husayn memberi nasehat


"Tau tuh dad. Orang pacar aja nggak punya, main ngaku-ngaku"


"Suka tau Ra, bikin daddy kesal"


"Heh???" Husayn dan Sayra tepuk jidat


"Sekarang, papa anterin kamu pulang ke grandpa deh. Papa nggak mau ngelindungin anak nakal seperti kamu"


"Aku nggak nakal pap paaaaa... Sweeeeerrr"


"Papa tetap nggak percaya"


"Pa.. Guling nih. Aku mau guling nih. Beneran" Ancam Fatihah


Lagi dan lagi, Husayn dan Sayra tepuk jidat


"Oke, malam ini kau boleh menginap dirumah papa. Tapi ingat, besok kamu harus meminta maaf pada daddymu"


"Oke, tapi nggak janji"

__ADS_1


"Heeeeh?????"


BERSAMBUNG.....


__ADS_2