
Retno bersalaman dengan mama mertuanya
"Eh, nggak usah peluk ya.. Mama bau kecut" Kemudian, mama menuangkan air putih untuk sang suami "Minum dulu pa"
Papa Ilham sibuk mengintip makanan yang Retno simpan diatas meja "Ini apa nak ? Kamu to yang bawa"
"Iya pa" Jawabnya
"Rasanya seperti gurih-gurih ikan ya"
"Ihi.. Iya pa" Jawab Retno sambil mainan tangan
Mama Sifa ikutan melongok dan membukanya "Eh, kamu kesini dengan siapa? Fatih?"
Retno geleng-geleng sambil senyum "Bukan"
"Terus" Ucap mama papa bersamaan, sambil mencicipi ikan kriuk kiriman menantunya ini
"Dengan babe sama ibu" Jawab Retno
"Heh!! Idih. Kenapa baru ngomong" Mama menggandeng papa Ilham
"Letakin pa ikannya. Kita mandi dulu" Mama Sifa merebut ekor yang papa Ilham patahin
"Eh, papa matahin ekornya doang to" lalu menyuapinya, dan segera menggandengnya "Aduh.. Ayo pa, buruan"
Papa yang sedikit ditarik "Aduh.. Ntar papa jatuh ma"
"Eh iya, iya. Lupa lupa. Ingetnya, papa masih muda aja" Mama Sifa kembali lagi, dengan tangan yang setia menggandeng sang suami "Oh iya sayang" Pamit mama pada Retno "Mama papa mandi dulu ya.. Paling semenit udahan"
Gung
"Iya, ya pa, iya. Mama kongslet ntar dipukulin melulu"
"Lagian. Mama narik-narik tangan papa aja udah bermenit-menit. Masa mandi mau semenit. Buka baju aja butuh bermenit-menit"
"Itu kan papa, tangannya udah getar"
"Oh"
Gung
"Ish papa ah. Ada menantu. Jangan ngajarin begituan"
"Ya udah ayo buruan" Sekarang, papalah yang menarik tangan istrinya
Mama Sifa menoleh kebelakang "Tunggu ya sayang, jangan buru-buru pulang. Ayo pa, buru"
Retno geleng-geleng sambil senyum-senyum
"Persis kayak mas Fatih. Sukanya mukul. Eh, mas Fatih kali ya, yang niru papa" Kemudian Retno keluar, untuk menemui kedua orangtuanya
-
"Pak dokternya lagi ngopo nduk? Sama bu'e Sifa?"
"Senam beh, bu"
"Sore-sore kok senam, bukannye senam itu pagi-pagi ye"
"Ih, babe ketinggalan kreta. Tetangga kita kan banyak beh. Para ibu-ibu itu senam sore dihari minggu"
"Lah, mane babe ngerti. Orang kamu aje, sukanye ngedekem mulu digorong-gorong"
"Babe ah. Gorong-gorong apanya"
"Dikamar maksudnye"
"Sudah-sudah. Kenapa sih, main drama semua" Ucap Retno menengahi
"Siape yang main drame"
"BABE...." Teriak kedua wanita cantik yang paling babe sayangi
-
Tak berselang lama, pasangan papa mama sudah berjalan kedepan, untuk menyambut besannya "Eh, jeng Rani. Maaf nunggu lama ya" Ucap mama Sifa sambil berpelukan
Mereka mengurai pelukan "Nggak apa-apa bu"
Perbincangan mereka berlangsung dengan asyik, dan tak berapa lama, seorang pria mengucapkan salam, dari ambang pintu
__ADS_1
Mama Sifa berdiri "Eh.. Baru pulang?"
Fatih memeluk mamanya erat "Iya ma. Kata Retno, pulangnya kemari. Jadi aku akan menjemputnya"
Mama Sifa mengurai peluk "Iya. Lihat dulu dong. Siapa lagi yang datang" Tunjuk mama pada semua orang yang sudah berdiri semua
Papa Ilham dan Retno mendekat
Fatih memeluk papanya terlebih dahulu, lalu memeluk istrinya dari samping "Sudah lama disinii?"
"Sudah mas"
Kemudian, Fatih cipika cipiki dengan kedua mertuanya
"Fatihah belum pulang ma?" Tanya Fatih pada mamanya
"Belum. Tadi katanya ada acara keluarga temannya. Bareng Sayra katanya" Jelas mama
Setelah perbincangan hangat, merekapun segera berpamitan
Semuanya sudah masuk kedalam mobil masing-masing, untuk pulang kerumah masing-masing
-
Dibasement apartemen
Sambil berjalan menuju apartemennya, tiba-tiba Retno berhenti berjalan, dan tertegun menatap pria dewasa yang berdiri dengan seorang wanita paruhbaya
"Kenapa?" Tanya Fatih menoleh kebelakang. Karena seseorang yang ia gandeng terhenti langkahnya
Fatih melihat Retno, sepertinya kaget dengan pandangannya kedepan
Fatih mengikuti arah netra istrinya "Sayang.. " Panggilnya
"Aah, nggak pa-pa mas. Yuk buruan keatas" Retno mengeratkan pelukannya pada pinggang suaminya
"Ada apa sih sayang? Kamu kenapa?" Tanya Fatih
"Nggak kenapa-napa mas"
"Terus. Kenapa kelihatannya sayang takut. Sayang kenal dengan orang didepan"
Retno tidak mejawabnya. Melainkan sedikit menarik tubuh Fatih, agar tubuhnya tertutupi oleh tubuh lebar suaminya
"Eh, eh, eh. Ternyate disini ade gadis yang berkerudung tapi bawahnye bolong ye" Sindir seorang wanita paruhbaya yang berbibir tebal dan bergincu merah darah
"Sudah nyak sudah" Larang pria lapuk, lawan duel babe selagi mereka bermain catur dulu
Fatih mengabsen keduanya "Maksud ibu apa? Ibu siapa?"
"Elu suaminya ye?" Ucapnya
"Iya kenapa? Ibu ada masalah?" Tanya Fatih
"Sudah bu, sudah. Kasihan Retno" Lengan sang ibu ditarik oleh Toto yang pelitnya tiada tara
"Maksud kasihan apa? Istriku kenapa?" Tanya Fatih bingung
Ibunya Toto terus-terusan menghujat Retno "Pantesan milihnya tua. Biar tidak nuntut, kalau gadis berkerudung ini sudah tidak perawan sebelum nikah?"
Darah Fatih mulai mendidih "Maksud ibu apa? Saya suaminya bu. Saya yang lebih tau istri saya daripada ibu"
"Mas, udah mas. Jangan diladenin" Ucapnya sambil menarik lengan sang suami
"Nggak sayang. Kamu itu lagi difitnah dan diinjak-injak. Aku suamimu. Mas yang tau tentang kamu"
"Tuh kan. Pakai pelet ape elu" Ucapnya sambil menunjuk-nunjuk wajah Retno "Sampai suami nyang katenye dokter kaye ini, kepincut same elu"
"CUKUP!!!" Fatih, Retno, Toto saling bertatapan
"Udeh nyak. Jangan bikin keributan dikeramaian" Lagi-lagi Toto melerai ibunya yang menuduh tanpa tau kebenarannya
"Bodo. Ini bocah dulu same elu kagak mau. Giliran habis diper kose, pilihnya malah same om-om, daripade nyang bujangan seperti elu"
"Nyak"
"Karne nyang bujangen, pade kagek mau same bekas oreng" Sambungnya
"Cukup bu. Ibu telah menghina istri saya didepan umum. Apa ibu nyadar, istriku tidak mau sama anak ibu karena apa !!"
"Ada apa ini, kok ribut-ribut dijalan" Ucap seseorang yang sangat mirip dengan suami Retno
__ADS_1
Mereka berempat menoleh pada sumber suara
"Kak Sayn / Sayn" Ucap Retno dan Fatih bersamaan
"Dokter Sayn" Ucap Ibunya Toto dan Toto bersamaan sambil terkejut
"Loh bu, Toto" Ucap Husayn juga sama terkejutnya
Fatih mendelik "Kau kenal dengan orang yang tidak punya tata krama disini ?!"
"Bukan kak. Aku baru ngerti mereka itu tadi"
"Tadi?"
Husayn mengangguk
"Berarti, kalian habis bertemu"
"Iya. Ada apa dengan mereka? Mereka buat masalah?" Tanya Husayn sambil menunjuk mereka berdua
"Ajarin sopan santun untuk bicara" Kemudian, Fatih segera membawa Retno berlalu dari hadapan orang rese seperti ibunya si Toto
"Kak"
Kedua orang dihadapan Husayn blingsatan, terlebih ibunya Toto yang malu dengan Husayn
-
Husayn masuk keapartemen Fatih
"Sudah kak. Orangnya sudah ku komprang biar tau diri"
"Hah, taulah. Bisanya kamu kenal dengan orang itu"
"Memangnya ada apa sih dad?" Tanya Fatihah dan Sayra yang ternyata sudah masuk kerumah ini, sebelum daddynya masuk
"Orang stres marah-marah sama mama mudamu"
"Bener mud. Memangnya diapain sih" Tanya Fatihah mendekati Retno
Fatih menggulung majalah dan memukul putrinya "Kamu ini ya. Manggilnya sembarangan. Pulang sana. Grandpa dan grandma sudah nungguin"
"Dih, yang lagi PMS, gitu aja merajuk"
"Bilang sekali lagi, sudah daddy telen kamu"
"Hooo daddy gawat" Ucapnya seakan-akan dia akan ditelan bulat-bulat oleh papanya
Husayn sama Sayra tertawa cekikikan. Sedangkan Retno menjadi penengah antara bapak dan anaknya
"Sudah mas sudah. Seharusnya kan aku yang sakit"
"Aku lebih sakit" Kata Fatih
"Sakit apanya sih, aku jadi bingung" Lagi-lagi jawaban Fatihah menyebalkan dihati Fatih
"Sudah daddy bilang ya. Kamu itu anak kecil" Tunjuk Fatih pada putrinya
"Daddy... Aku sudah punya pacar. Aku sudah dewa... " Ucapannya tidak diselesaikan karena mata papanya sudah hampir copot karena melotot
"Bilang apa tadi !!?"
Fatihah pindah duduk, berdesakan dengan Sayra dan Husayn
Fatihah menyenggol siku Sayra "Ra, daddy gawat. Kabur yuk"
Husayn yang melihat drama konyol kakaknya, tidak tahan menahan tawanya
"Ahahaha. Sayra, ayo pulang. Aku tidak mau ikut ketelan singa ngamuk"
"Papa, aku ikut" Fatihah sudah menarik lengan Husayn, untuk kabur dari rumah papanya
Ahahaha
Lagi dan lagi, Husayn tertawa terbahak-bahak "Selamat tinggal kak. Retno, titip macan ya.. Borgol aja kalau dia ngamuk. Ahaha"
"Daddy ketawa mulu. Takut tau"
Ahahaha
Brakkk
__ADS_1
BERSAMBUNG......