
Pagi harinya
Sehabis subuh, Retno kedapur, dan buru-buru memasak untuk sarapan mereka berdua
Karena hari ini, sang suami harus masuk bekerja lagi, setelah cuti beberapa hari.
Sebelum beraktivitas berangkat kerumah sakit, Fatih ikut membantu mencuci baju
"Kresek yang kemarin bekas itu dimana sayang, naruhnya" Tanya Fatih yang sudah mengangkut baju kotor didalam dekapan
"Didalam kamar mandi" Jawabnya masih sibuk masak
"Kamar mandi mana, tadi nggak ada"
"Kemarin aku taruh, dikamar mandi dapur mas" Ucapnya malu-malu
"Oh" Fatih berbinar tiada tara. Iya segera menaruh baju kotor didepan mesin cuci, lalu memeluk Retno dari belakang
"Eh, eh. Jangan ganggu orang masak, minggir"
"Mas ingin seperti ini. Ah, pasti dirumah sakit mas bakalan kesepian"
"Rumah sakit kan banyak orang, masa kesepian" Retno segera mematikan kompornya, lalu berbalik. Tangan Retno sudah mulai berani memeluk pinggang suaminya. Retno mendongak "Yang paling kesepian, itu pasti aku. Nggak ada teman. Padahal, mas pulanglah sore kan" Ucapnya sambil mainan dada Fatih yang terbungkus kaos, agar rasa malu itu tidak terlalu.
Retno tidak berani menatap wajah sang suami, dia grogi karena masih latihan cara panggil suami dengan benar
"Oh, rasanya tak ada bosannya jika kita begini terus. Main lagi yuk"
Retno langsung mendorong suaminya "Ih nggak mau. Rambutku masih basah"
Fatih tertawa meskipun tadi sempat didorong oleh istrinya
Retno segera mengurai. Takut suaminya minta nambah lagi. Mending dia menata belanjaan semalam daripada termakan godaan suami yang termesum sejagat raya
Retno berjongkok, lalu mulai menata barang yang berat-berat, ditata dilaci bawah "Semalam udah mandi bener, eh sebelum subuh dicaplok lagi. Mandi lagi. Ah, samponya habis"
"Haha, kalau habis samponya, tinggal beli. Supermarket kan banyak"
"Masih tutup jam segini"
"Ya udah, pakainya sedikit-sedikit aja, ntar siangan kalau tokonya dah buka, kita beli sampo yang banyak. Kalau perlu, borong buat jaga-jaga"
"Nggak ah capek, benahin kancing mulu"
"Haha, ntar mas bantuan nutup kancingnya. Kalau perlu, mandiin deh sekalian, mas siap"
"Akunya yang nggak siap. Baru pengantin seminggu, jalannya ngangkang"
"Ahaha.. Mana ada. Kata siapa?" Meskipun Fatih sibuk menggombal, ia tetap sibuk urusan mencuci.
Sesekali Fatih membungkuk untuk menggoda istrinya, entah itu mencium, memeluk, dan mencubit gemas
"Habis ini main ya" Rayunya
"Ih" Retno berdiri
Plok, plok, plok
Retno menabok kesal. Sejak tadi diributin melulu
"Nanti mas mandiin lagi. Air banyak ini"
"Ih nggak ah, minggir. Ini belanjaan masih banyak yang belum tertata"
"Ahaha.." Fatih kembali sibuk dengan urusannya
Sekarang giliran Retno yang mendekati Fatih. Karena urusan tata menata sudah selesai
Dari belakang, ia peluk suaminya "Memang mas, sudah biasa nyuci ya"
"Ya, seminggu sekali kalau libur"
Retno mengurai peluk "Lah, ini kan nggak libur, kenapa nyuci"
Fatih memutar badannya, lalu mencubit hidung Retno "Biar cepat selesai, kamu selesai menata itu, mas juga selesai urusan baju. Biar kita cepat sarapan. Mas lapar" Kemudian Fatih segera mengangkat bajunya kearah balkon dapur, untuk segera ia jemur
"Jemuran selesai" Fatih merentangkan tangannya, lalu merangkul Retno, dan menggiringnya kearah meja makan
Fatih melihat sarapan yang dibuat oleh istrinya "Wow.. Kelihatannya enak sekali ini"
__ADS_1
Hati kecilnya, ada rasa haru ketika melihat lengan istrinya. Meskipun kecil, ia trampil dalam memasak, dan membersihkan rumah
'Semoga cintamu tidak berubah sayang. Aku sungguh beruntung mendapatkanmu'
"Makan sayang" Tawar Retno memberanikan diri pada Fatih
Fatih tersenyum. Dalam hatinya, senangnyaaaa tidak ketulungan.
Fatih langsung mencium pipi kiri Retno. "Makasih sayang.. Emmuah"
"Buat"
"Sarapan yang lezat" Padahal belum menyicipi
Retno membalasnya, dengan mengusap dada sebelah kanan milik suaminya "Sama-sama, semoga mas suka"
Fatih tersenyum lebar "Sangat suka sayang"
Fatih mulai mencicipi masakan untuk yang kedua, yang pernah Retno masak, setelah dulu makan lele kriuknya dirumah babe
"Yummy... Super lezatos.. Mantap. Pas dilidah" Pujinya jujur, lalu mengelap bibirnya dengan tissue "Terimakasih sayang... Emmmuaah"
Pagi ini, sepertinya Retno sudah mendapat ciuman puluhan kali dari suaminya
"Sama-sama"
Setelah mereka sarapan, Fatih bebenah untuk segera berangkat kerumah sakit
Retno mendekati "Mas, rumah sakitnya kan dekat. Mas jalan kaki apa naik mobil"
Sambil membenahi dasinya, Fatih menunduk, agar wajah istrinya terlihat semua "Jalan kaki saja. Paling 10 menit, biar sehat"
"Istirahat pulang nggak?"
"Boleh, ntar mas usahakan pulang, ya"
Retno tersenyum "Makasih" Tangan Retno mengalung diatas gesper, yang berada dipinggang suaminya
Mereka sudah diambang pintu "Oiya, kalau sayang butuh teman, ajak aja temannya kemari"
"Memangnya boleh??"
"Iya, aku punya satu teman perempuan. Ya.. Pokoknya, ntar aku ceritain"
Fatih mengangguk
Tiba-tiba, Retno berjinjit, lalu mencium pipi suaminya "Makasih ya mas, sekali lagi makasih"
"Uh, sama-sama sayang" giliran Fatih, harus membalas ciuman dari Retno. Kedua pipi, kening, terakhir bibir "Emmuah. Hati-hati ya. Mas berangkat dulu"
"Iya sayang"
Fatih berbelok sambil tersenyum lebar. Tapi Retno tidak mau kalah. Ia segera menutup pintu, dah menguncinya dari dalam
"Sudah sana berangkat !!" Teriaknya sambil mengintip suaminya, yang masih berdiri dibalik pintu
"Huff.. Rasanya deg-degan sekali... " Retno mendekap dadanya sendiri karena berani menggoda suaminya
Dari balik pintu, Fatih mengancam sambil tersenyum "Awas ya"
Retno kembali tersenyum lebar, melihat suaminya mengancam
-
Setelah suaminya pergi bekerja, Retno benar-benar kesepian. Akhirnya, ia menghubungi Sri Wedari. Teman SMAnya, yang akrab dengannya
Retno segera menelpon Sri Wedari
"Hallo Ret.. Apakabar... Maaf ya, kemarin aku tidak bisa hadir dipernikahanmu" Ucap Sri diujung sana
"Tidak apa-apa Sri"
'Pernikahanku kacau balau kok, bikin sesak nafas'
"Sri, kamu sekarang kerja dimana? Kamu nganggur nggak" Sambung Retno
"Aku dah lama nganggur Ret. Aku sekarang bantu-bantu menggosok, dirumah tetangga. Sambil jagain ibu Ret"
"Oh.. Gimana keadaan ibu?"
__ADS_1
"Ya gitulah.. Masih lemas. Aku juga bingung Ret"
"Terus, kira-kira, kamu kangen nggak sama aku, Sri"
"Kangen banget Ret. Tapi rumahmu kan jauh, di Depok"
"Sekarang aku tinggal di Jakarta Sri. Bersama suamiku. Palingan, Kau naik busway sekali tok sampai" Saut Retno
"Oh, benarkah"
"Kamu bisa datang kesini, Sri"
"Lokasi aja, ntar aku datang"
"Oke"
-
Sambil menunggu Sri datang, Retno memasak sup iga
Setelah beberapa menit supnya matang, barulah Sri Wedari sampai diapartemen miliknya
Mereka berjumpa melepas rindu, lalu bercerita-cerita
"Ya Allah Ret, beruntung sekali hidupmu. Orang baik, ketemunya pasti keluarga baik"
"Aamiin"
Tak lama berselang, Fatih pulang di jam istirahat
"Assalamualaikum sayang... Mas pulang" Teriaknya di ambang pintu
Retno berlari "Wa'alaikumusalam..."
Fatih memeluk kangen dengan istrinya "Emmm bau masakannya enak sekali"
"Iya, aku masak sup iga. Oiya mas, ada temanku yang datang"
"Oiya, dimana?"
"Lagi nonton TV"
Setelah itu, merekapun berkenalan, lalu makan siang
"Ayo Sri Wedari, makannya nambah. Aku sudah nambah, dua kali ini" Ujar Fatih, sambil melirik Retno
"Awas, gendut" Ejek Retno, Fatihpun hanya tersenyum karena masakannya memang enak
"Iya pak dokter, masakan Retno memang enak dari dulu. Aku aja, minta diajarin masak, resepnya nggak nyantol-nyantol"
Merekapun tertawa
"Ini yang masak, siapa sayang" Bisik Fatih
"Aku, kenapa?"
"Enak. Kirain temenmu"
"Enggak. Masakanku matang dulu, baru temenku datang"
"Oh.." Fatih segera mengelap bibirnya "Terima kasih sayang... Emmuah"
Sri mengangah melihat temannya dicium suaminya, didepan matanya
"Ha.. Mataku tercemar, Ret, Ret"
Ahahaha
"Makanya, kamu nikah Sri.."
"Belum ada yang mau Ret... "
Ahaha
"Yang penting, jangan nikah siri ya Sri.. "
"Iya pak dokter... "
BERSAMBUNG.....
__ADS_1