Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Keinginan Fatih Terobati


__ADS_3

Retno menggandengi suaminya untuk pergi kekebun ketelanya, yang berada dibelakang rumah, dekat dengan kolam ikan lele


"Sini mas, ikutin aku"


Retno melepaskan tangannya, dan berjalan didepan Fatih


Retno sudah menghentikan langkahnya "Daun ini mas, maksudnya?" Tanya Retno sambil menunjuk kebun ketela yang lumayan luas


Fatih sudah berdiri disamping istrinya "Wow... Mas baru lihat sayang.. Subur. Persis lapangan" Fatih sudah disuguhkan hamparan dedaunan nan hijau dan asri "Iya, iya daun seperti ini. Dicocol pakai sambal tomat, enak-enak"


Retno menatap suaminya terheran-heran 'Busyet dah. Orang kota. Lihat beginian girang banget'


"Mas kelihatan gembira banget, kayak dapat undian"


"Iya sayang. Seumur-umur baru lihat, hamparan luas menggoda" Fatih segera memeluk Retno "Mas tu kayak mimpi. Ingin makan daun seperti ini, langsung ada. Dan mas baru lihat secara langsung dan ini banyak, nggak nyangka"


"Memangnya mas nggak pernah lihat sayuran ini sebelumnya?"


"Ya pernah kali. Tapi kan kecil-kecil karena kami berada diatas mobil. Dan nggak nyangka, pas menjadi suami sayang,.." Ucapannya terhenti karena menoel janggut istrinya gemas "Seumur-umur, baru lihat tumbuhan segar dan buaaanyak disini"


Retno mengusap lengan suaminya "Yaudah, mumpung mas lagi pingin, aku petikin ya"


Retno sudah jongkok dan mulai memangkas daun ketela dengan pisau


Fatih melihat Retno cara memangkasnya "Pakai tangan, boleh nggak sayang"


"Boleh.. Ini, seperti ini" Retno mempraktikkan cara memetik "Oh iya, memangnya dikantin rumah sakit ada mas, yang jualan lauk ndeso begini"


"Nggak ada" Ucapnya sambil mutar-muter kebingungan


"Terus, mas kok bisa makan. Dapat darimana. Pesan?"


Fatih mulai jongkok "Mama yang nganterin. Makanya kemarin nggak pulang"


Retno berdiri "Hah?? Setua ini, mas masih manja ingin disuapin mama?"


Fatih ikut berdiri "Siapa yang minta disuapin. Nggak ada. Orang mama dengan sukarela nganterin, kok nyuapin" Kuping Retno sudah dipegang "Ini kuping apa cantelan panci"


Retno menarik tangan Fatih "Ih geli"


Tangan Fatih sudah terlepas "Ah dasar, kuping swasta"


"Memangnya ada, kuping dalam negri"


Fatih terdiam, lalu menatap Retno "Apa??"


"Maksudku, mas kan sudah bapak-bapak. Kalau Fatihah menikah muda, mas juga mau jadi kakek. Karena Fatihah punya anak. Apa mas nggak malu, tua tua, masih merepotkan mama" Retno kembali jongkok dan sibuk dengan daun ketela


Fatih ikut jongkok lagi "Kan sayang masih hamil muda. Kebetulan juga, mama telepon. Ya udah orang ditawarin, ya mas sebutinlah. Oiya, ini kan daun ketela ya. Ketelanya dimana sayang"


Retno tersenyum kecut " Kebiasaan. Kalau mau kalah, bicaranya dibelak belokkan"


Fatih terdiam sejenak, lalu "Mas lapar sayang, makanya mas tanya ketela"


"Baiklah, kalau daunnya hijau yang seperti ini.." Retno menunjuk daun yang ia pangkas "Khusus untuk sayuran. Dan nggak ada ketelanya, karena sering diambil daunnya"


"Oh. Kalau itu itu, daunnya sama, tapi warnanya beda" Fatih menunjuk daun ketela yang warnanya keunguan


"Lah, itu baru ketela. Daunnya tidak enak dimakan"


"Oh... Beda ya sayang. Berarti itu khusus ketela"

__ADS_1


Retno mengangguk "Iya"


"Kalau ketela yang dijalan-jalan itu sayang, yang dipanggang itu, enak sayang"


"Itu ketela cilembu, Ketela madu"


"Oh, berarti ini bukan"


"Bukan. Oiya, memangnya, mama nawarinnya gimana mas. Penasaran aku"


"Ya ditanya, udah makan belum. Ya mas jawab jujur aja belum. Nggak doyan makan"


"Idiiiih, bener-bener ya, udah tua masih ngerepotin orang tua" Ejeknya, lalu kembali Retno sibuk memangkas daun ketelanya


"Bukan begitu. Mas kangen juga sama sambal mama. Yaudah, jujur aja mas bilang pingin sambel. Begitu mama datang, bukan hanya sambel yang dianterin. Lauk dan lalapannya juga. Udah gitu, dipaksa makan didepan mama juga"


Fatih juga ikut-ikutan memangkas daun ketela, tiba-tiba


"Akkk" Fatih terkejut, dan berlari mendadak, sampai daun yang sudah dipetik berantakan jatuh ketanah


Retno tak kalah terkejut, dan ikut berdiri "Kenapa? Ada apa?"


Fatih segera mendekati Retno, dan menyeretnya "Ulat, ada ulat sayang. Ulatnya gede, ijo, heleman. Sini, sini. Jangan deket-deket"


"Mana, ada ulat heleman. Bawa SIM nggak"


"Heh, dibilangin ini anak, malah tanya SIM segala" Ucapnya kesal, sambil terus perpegangan tangan milik Retno "Itu, itu, itu.. Gatal geli, hiiiiii"


Retno mengikuti arah jari suaminya yang menunjuk ulat hijau, berkepala bundar seperti memakai helm "Oh, ini" Tunjuk Retno dan akan mengambilnya


"Sayang, jangan diambil. Ntar gatal"


"Sayang, sayang... Udah dibilang sini, jangan dekat-dekat, mas bilang. Ntar kamu digigit"


Retno malah tambah tertawa terpingkal pingkal


"Hus jangan tertawa. Sudah, sudah. Jangan kesitu situ, ntar gatel" Fatih sudah garuk-garuk leher, lengan, semuanya digaruk sampai badan merinding dan memerah semuanya


"Ahaha, mana mana tadi"


"Sayang, jangan. Ntar kamu digigit. Giginya taring"


Retno masih penasaran. Sampai dimana tingkat ketakutan suaminya. Retno sedang mencari


Fatih yang kebingungan iapun bertanya "Sayang mau cari apa"


"Ulat"


"Ngapain cari ulat. Mas gatal semua"


Retno sudah menemukan "Ah.. Ketemu" Retno mengangkat ulat hijaunya "Oh, ini yang giginya taring"


"Hoe.. Kenapa dipegang. Ntar nggigit. Lepasan, lepasin buang...." Fatih berlari mundur


"Ini nggak gatel sayang. Ini itu, ulat yang suka daun muda. Kayak mas, hehe"


"Ah.. Masak suaminya disamakan sama ulat"


"Kenapa, mas takut sama ulat?"


"Ngeri tau, mas sampai gatal. Lihat"

__ADS_1


"Ini nggak gatal"


"Ih geli, geli. Lepasin" Fatih menjauhi Retno, dan berjalan menuju buah markisa yang buahnya lebat menggantung diatas


"Hah hah huh huh hufff"


Fatih terduduk dikursi, yang berada dibawah pohon markisa yang rindang dan berbuah lebat


"Babe pinter. Dikasih ranjau ranjau gini jadi cantik kayak atap" Fatih ngoceh sendirian, sambil menata nafasnya yang sempat naik turun gara-gara ulah istrinya


Tiba-tiba


Brakk


Fatih menoleh "Sayang.. Sayang itu kamu lagi hamil. Kenapa angkat-angkat tangga, terus bawa kesini"


Retno bukannya menjawab, malah naik tangga "Pegangin"


"Sayang. Sayang turun"


Retno tidak menggubris, kemudian duduk ditangga paling atas


Sambil memetik buah markisa yang sudah tua, Retno mulai bicara "Mas, tangga ini kan pendek. Terus nggak dipegangin juga nggak pa-pa, aman mas"


Setelah Fatih mengabsen tangga aluminium tersebut, memang aman. Tingginya paling semeter dan berbentuk huruf A


"Tapi tetap aja hati-hati. Sayang kan lagi hamil"


Retno turun dengan keranjang nya


Fatih membantu Retno untuk turun "Hati-hati sayang. Ntar lagi jangan lakukan lagi. Mas nggak mau terjadi apa-apa sama sayang"


"Iya suamiku tercinta. Ayo masuk"


-


Semua keluarga sudah berkumpul untuk beristirahat bersama


Disana sudah ada babe, ibu Rani, Retno dan juga Fatih


Fatih sudah mencicipi minuman markisa yang asamnya tidak ketulungan, bagi orang yang sehat-sehat saja seperti babe dan bu Rani


"Bapak, sama ibu mau?" Tawar Fatih.


Fatih sengaja mengganti panggilan


"Ih babe mah ogah. Perut babe ntar masaleh" Tolaknya


"Ibu"


"Ibu juga nggak mau. Takut kurus" Tolak ibu Rani


"Kalau gemuk, gemuk aja bu. Biarpun satu kilo dimakan juga" Ejek Retno


"Iye, abis ntu, bolak balik dah ke wece"


Ahahah


Semuanya tertawa, kecuali ibu Rani


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2