
Sebelum Fatih dan Retno berboncengan mengendarai motor, pasukan gleput sudah pulang kerumah
Arin berjalan memasuki pintu gerbang, diikuti oleh kedua bocah kembar dengan bersenandung
"Aku naik odong-odong🎶 Aku naik odong-odong🎶"
Mereka bernyanyi hanya lagu itu yang diputer-puter. Tidak nambah, tidak pula dikurangi
Para satpam melongo melihat cucu sang majikan terlihat bulukan
Fatih dan Retno, yang sudah melihat pasukan dekilnya sudah pulang, merekapun turun dari motor, dan mendekati mereka bertiga
"Arin, Fahmi, Fahri" Absen Fatih
Fahri dan Fahmi memeluk kedua kaki papanya
Fatih membungkuk "Darimana kalian. Keringetnya bau, ih"
"Kami naik mobil-mobilan dad. Selu tau dad"
"Ha ah, temennya banak. Ada Kak Tus, Kak Mir, dan adaa... Siapa kak satunya?" Tanya Fahmi pada Arin
"Kak Ki !!" Teriak Arin berlari memasuki kamarnya
"Nggak kak tangan sekalian" Tanya Fatih menoleh kebelakang
"Mana ada nama orang seperti itu. Nggak ada nama lain, apa" Saut Arin yang sudah diambang pintu kamar
"Lah itu tadi kaki"
"Itu Riski pah, panggilnya Ki"
"Oh.. Ya sudah, sana mandi" Usirnya pada Arin
Fahmi kembali menarik-narik tangan papanya "Daddy, daddy.. Seneng loh dad naik mobil mobilan. Besok naik lagi ya dad"
"Iya" Jawab Fatih cepat
Mendengar sikembar sangat senang, Arin mengeluarkan kepalanya dari balik pintu "Iya, tapi bayar sendiri-sendiri, dan gayuh sendiri-sendiri"
"Ih, mana bisa kak. Kaki Fami pendek" Protes Fahmi yang sudah mendekati Arin
"Makanya cepat gede. Biar panjang"
"Calanya??" Kini Fahri yang mendongak
"DI SU NAT !! Belalai kalian, harus dipotong, gressss. Ures ures ures" Arin mempraktikkan seperti mengiris daging
"Hah!!" Kedua bocah kembar sudah ketakutan dan menutup mulutnya horor
"Kak Arin !! Nggak boleh" Tegur Fatih
"Hallla. Orang mereka aja gitu. Dikit-dikit, ental aku aduin loh sama daddy" Ucap Arin menirukan gaya sikembar "Apa nggak ngancam tu"
Fatih dan Retno saling senyum
Arin mendorong sikembar untuk menjauhinya "Sana, sana minggir"
"Kakak" Fahmi
"Ngaduh sana"
Sikembar menjauhi Arin "Ngadu apaan?"
"Terserah. Aku mau mandi. Ngerti mandi??"
Kedua bocah tadi mengangguk "Mandi ya kak"
"Iya !! Mandi madu. Minggir sana" Usir Arin lagi "Eh eh eh mbar, mbar. Sini"
Sikembar mendekat lagi
"Eh, nggak jadi. Mandi sana. Kalian bau"
Pasangan Fatih dan Retno hanya tepuk jidat melihat kelakuan keponakannya
-
__ADS_1
Malam harinya, Fatih dan kedua anaknya sedang melakukan video call dengan kakek babe dan nenek Rani
Sedangkan Arin, seperti biasa sedang berbelajar, tetapi mulutnya tidak ketinggalan memakan camilan yang ada disampingnya
Setelah selesai teleponan, sikembar datang mendekati Arin
"Kakak, Fali mau" Suara itu tidak jelas karena mulut si Fahri penuh dengan empeng yang ia isap
Arin menarik empeng tersebut "Hih, udah kumisan. Masih aja ngempeng" Ejeknya
Fahri yang dikata-katain berkumis, dengan otomatis tangannya menutup mulutnya sendiri "Kumis apa?"
"Kumis kucing. Sana-sana. Aku nggak mau main sama anak yang masih ileran" Usirnya agar tidak mengganggu
Fahmi mendekat "Kalau Fami, boleh ya kak"
"Boleh, asal jangan ngompolan" Ucapnya memplorotkan celana Fahmi yang masih menggunakan diaper, jika malam hari
Fahmi mewek sambil membetulkan celananya yang sudah melorot kebawah "Daddy.. Kak Alin natal"
Fahmi memang masih ngompol. Sedangkan Fahri, dia sudah tidak mengompol, tetapi sukanya ngempeng
-
Beberapa hari kemudian
Sebulan sudah Arin tinggal disini
Karena jajannya melebihi batas. Dan anaknya memang boros, uang yang ia pegang menipis dan adanya hanya uang recehan
Arin tidak berani meminta uang pada omanya, papanya, apalagi pada Retno yang biasa ia sebut mama
Arin sudah terbiasa meminta uang kepada kedua orangtuanya. Jadi untuk minta pada selain orang tua kandungnya, Arin tidak terbiasa
Siang ini sehabis pulang sekolah, Arin kehabisan uang "Daddy kapan ya, datang kemari" Wajahnya sudah ditekuk-tekuk
Pak Sopyan datang untuk menjemput "Eh non, kok bengong. Biasanya non bawa kresek yang isinya jajan"
"Lagi miskin pak" Jujurnya dan langsung duduk dikursi belakang
Arin belum menerimanya
"Sana, non. Ini duitnya. Biasanya, bapak yang ditraktir oleh non. Sekarang, mumpung bapak lagi ada uang, gantian. Bapak yang traktir non"
Arin menerima uang ratusan ribu dengan pelan "Makasih ya, pak. Ntar Arin ganti dilain waktu"
"Sudah. Jangan pikirkan itu. Bapak ikhlas ngasih itu buat non. Bapak tidak ngutangin, dosa ngajarin utang. Dah, sana jajan dulu"
"Baik pak"
Akhirnya, Arin jajan didepan sekolah seperti berbelanja kebutuhan dapur
Satu kresek isinya jajan semua
Arin masuk kembali kemobil "Pak, ini masih ada kembalian" Arin menyerahkan uang kembali pada pak Sopyan
"Eh, jangan non. Buat besok lagi aja, ya"
"Baiklah pak, terima kasih"
-
Setelah beberapa puluh menit, Arin sudah sampai dirumah
Sikembar menyambutnya dengan hangat
Mereka sudah memeluk Arin dan menggandeng tangan kanan dan kiri Arin
"Kakak, bawa oleh-oleh apa kak?" Sambut keduanya
"Biasa, jajan-jajan enak" Jawabnya, kemudian membuka kresek itu, agar kedua adiknya bisa memilih jajan sesuka hati
Mama Sifa dan Retno keluar "Oh, kamu baru pulang" Tanya mereka pada Arin
"Iya ma" Jawabnya sibuk membagi jajan sambil jongkok
__ADS_1
"Fahmi, Fahri jangan nakal" Tegur Retno pada keduanya
Arin berdiri tegak "Assalamualaikum grandma" Arin bersalaman dengan keduanya "Mamah"
"Waalaikumusalam" Jawab keduanya
"Kamu kok lelah banget kelihatannya" Tanya Retno
"Iya mah. Arin masuk ya, mah" Arin masuk kedalam rumah, mengabaikan jajan yang ia bawa barusan
"Ada apa dengan anak itu" Tanya mama Sifa pada Retno
"Tau. Sakit apa ya, ma" Retno menatap putra kembarnya mengambil jajan yang mereka suka "Eh, eh eh. Jangan ambil semua dong. Itu kan jajan milik kak Arin" Tegur Retno pada keduanya
"Olang tadi disuluh milih, mih" Fahmi
"Ya sudah ayo, bawa masuk. Sisain untuk kakak" Retno
-
Mama Sifa sudah masuk kekamar, yang sudah ada Arin disana
Dilihatnya, Arin masih mengenakan seragam biru putih nya, dengan melintir-lintir dasinya diatas ranjang pribadinya
"Arin" Panggil mama Sifa pelan
Arin menoleh "Daddy kok nggak pernah telpon ya mah. Nggak inget apa, sama anaknya" Ucapnya sendu
Mama Sifa duduk disisi ranjang milik Arin "Arin kangen ya, sama daddy?"
"Kangen kangen tidak"
"Hus, kok gitu"
Arin duduk dan mengendurkan dasinya
"Bajunya ganti sana" Sambung mama Sifa
"Arin tak berdaya ma" Arin membantingkan badannya lagi kekasur
"Nggak berdaya kenapa? Kamu terlihat lusuh, apa uang jajan kamu habis? Hum?" Tebak mama
Arin terdiam tidak menjawab
"Kapan sih ma, semuanya kumpul-kumpul lagi disini?" Arin justru bertanya
"Minggu ini "
"Lama"
"Ya enggaklah. Rabu, kamis, jum'at. Malam sabtu palingan sudah pada kumpul"
"Lama"
Mama Sifa mencerna omongan cucunya yang sedikit galau menurutnya "Kamu, kangen kedua orangtuamu, apa uang mereka"
Arin menatap omanya "Dua-duanya"
"Baiklah, gemma telponkan pada mereka, ya?"
"Ih, jangan ma. Arin mau ngomong apa?"
"Ya bilang aja jujur"
"Kangen ??"
"Iyalah. Kangen orangnya, jangan kangen duitnya"
"Ish, grandma"
"Benerkan tebakan gemma. Uang jajanmu habis, kan? Kenapa kamu tidak menerima uang pemberian papa Fatih. Malu??" Tebak mama Sifa
Arin terdiam. Tebakan omanya betul seratus persen
Mama Sifa mengambil tasnya yang berisi uang "Ini. Gemma kasih uang jajan untukmu"
"Tapi ma"
__ADS_1
"Nggak ada tapi-tapian. Terima"