
Malam harinya, Fatih pulang kerumah papa Ilham, sendirian
Hatinya masih berdenyut "Ternyata sudah lama dia berani menyembunyikan bayi milik si Vivi" Gerutunya sambil berjalan, dan berpapasan sama mama Sifa
"Fatih.." Sapa mama "Kok sendirian? Ngomong sama siapa kamu?"
Fatih kebingungan untuk menjawab "Eng enggak kok. Siapa yang ngomong sendirian" Elaknya
"Enggak kok, orang tadi mama denger kamu ngeromet sendirian. Retno mana?" Mama Sifa mengabsennya sampai melongok keluar rumah, dan belum ada mobilnya yang terparkir dihalaman "Kok kamu pulang sendiri. Kamu nggak ke laundry?"
Fatih masih diam berdiri
"Hei... Istrimu sejak tadi siang belum pulang loh. Sana susul ke laundry. Kasihan, sepertinya laundry ada masalah, makanya belum pulang"
Fatih sedikit malas mendengar mamanya berbicara terus soal Retno
"Fatih, kenapa diam. Mama tidak mau terjadi apa-apa sama istrimu, dan juga sama kedua bayimu"
"Mungkin dia kelelahan dan ingin istirahat di apartemen ma" Jawabnya malas dan terlihat enteng
"Mungkin?? Terus, kamu tidak khawatir, gitu"
Fatih diam dan belum menjawab
"Mama tidak mau, kau menyakiti istrimu ya"
"Ma, mama kok gitu"
"Lagian kamu ya, kayak patung. Kayak nggak ada respek"
"Ma, kalau aku kesana, mama dan papa kesepian. Retno nggak masalah kok disana"
Jawaban Fatih membuat mama Sifa ingin menelan putranya
Mama memutari Fatih "Kau ada masalah dengan Retno ?" Tebaknya
"Eng, enggak. Siapa bilang ada masalah" Jawabnya sedikit gagap
"Ada apa dengan kamu" Mama memicingkan matanya "Dugaan mama bener kan? Kamu pasti ada masalah. Sejak kapan?"
"Ma, namanya rumah tangga, slek sedikit wajarlah"
"Slek??"
Fatih mengangguk
"Kamu bilang wajar ??"
Fatih terdiam kembali
"Dari siang sampai sekarang istri belum pulang, kamu bilang wajar?"
Fatih duduk sambil mendengus kesal
"Laki-laki model apa tua-tua begitu nggak ada ibanya sama perempuan" Mama berdiri menjulang didepan Fatih "Jangan sampai ya terjadi apa-apa sama Retno"
"Mama tidak tau masalahnya. Jangan membelanya terus"
"Oh, jadi benar kalian ada masalah" Mama duduk berjauhan dengan Fatih. Mama bersedekap "Kalau mama jadi Retno, sudah mama tinggal minggat sejak dulu"
"Ma"
"Memangnya nggak capek ngurusin anak dan dapur melulu. Mama sudah pernah ngalamin"
"Beda ma. Mama memiliki 4 putra. Sedangkan Retno.."
__ADS_1
Ucapan Fatih dipotong oleh mama
"Jangan bedakan jumlah. Yang jelas, baik satu ataupun sepuluh, seorang ibu itu capek, ngurusin rumah dan anak"
"Kok mama jadi belain dia"
"Dia siapa ??!" Bentak mama "Dengar ya, Retno pegang sendiri pekerjaan rumah. Sedangkan waktu kalian masih bayi, mama dibantu oleh 3 baby sitter sekaligus. Itupun mama masih kuwalahan. Dan satu lagi, jika sedikit saja mama disalahkan oleh papa, sudah dipastikan, mama lebih baik minggat"
"Ma. Mama tidak tau masalahnya" Fatih berdiri lalu duduk dihadapan mama "Oh, jadi mama ingin, menantu mama itu minggat menghindari masalah. Mama mendukung?"
Untuk sesaat, mama terdiam
Fatih memiringkan wajahnya pada mama "Jangan-jangan mama sekongkol dengan Retno"
"Maksudnya?"
"Mama solid banget belain dia. Anak mama itu aku, kenapa belain Retno"
Mama berdiri sambil melirik Fatih "Istri nurut disia-siain. Serah kamu. Jika papa dengar, dan marah gara-gara ini, mama nggak akan belain kamu. Meskipun kau putra mama sekaligus" Kemudian mama masuk meninggalkan Fatih sendirian
-
Sementara diapartemen
Retno menerima chat dari mama Sifa
[Nduk, kamu dimana? Kok belum pulang? Kau baik-baik saja kan?]
"Maaf ma, aku belum bisa balikin mobil mama. Kami ada diapartemen. Kami baik-baik saja" Balas Retno
[Ya sudah, jaga diri baik-baik ya? Masih bersama bibi kan?]
"Masih ma"
[Ya sudah, kalau besok ada waktu, biar mama yang kesitu]
[Oh, gitu. Ya sudah, jaga diri baik-baik ya? Mama mau istirahat]
"Iya ma. Makasih, ma"
[Sama-sama]
Setelah selesai berkirim pesan, Retno kembali bersedih
"Maaf mbak, mbak kok bersedih. Pesan dari mas Fatih ya?" Tanya Poniyem yang kasihan melihat menantu majikannya, yang meneteskan airmata terus tanpa henti
Retno geleng-geleng
"Daddynya nggak kirim pesan ataupun telpon bik. Sudah bosen denganku kali ya bik. Aku kurus banget, jelek. Sedang mbak Vivi, masih tetap segar dan cantik" Retno sedikit cemburu jika habis melihat mantan istri suaminya
"Nggak kok mbak. Mbak tetap cantik dan muda. Kalau mas Fatih masih suka sama bu Vivi, mata mas Fatih juling kali mbak" Mulut Poniyem langsung ditutup oleh tangannya sendiri, lalu menabok mulutnya sendiri "Dasar mulut tidak makan bangku sekolahan, jadinya susah direm"
Retno meliriknya. Ingin sekali tertawa tapi hatinya masih dipenuhi dengan rasa sakit yang mendalam
Retno tersenyum miris "Kenapa justru mertuaku yang khawatir ketimbang suamiku bik. Kalau bukan bosen apa??"
"Kalau menurut saya, mending disayang mertua dari pada dibenci"
"Bik, aku hidupnya kan bareng suami. Kenapa sampai mertua"
"Faham mbak. Tapi, jika disayang mertua, setidaknya, mbak dibelain terus. Dikangenin"
"Ah, tau lah bik. Mama kan memang orangnya nggak banyak ngomong. Kalau kulihat sih, sayang semua sama menantunya"
"Tapi orangnya tegas loh mbak. Dan keempat putranya, tidak satupun yang berani menolak permintaan beliau. Apalagi tuan dokter. Semuanya patuh sama nyonya. Makanya, nyonya dijuluki ratu serumah. Karena tidak ada yang ngalahin titahnya. Meskipun begitu, orangnya memang baik. Jadi, tuan dokter sungguh beruntung. Dan saya lihat, sifat pak dokter itu menurun ke mas Fatih. Bener kan mbak?"
__ADS_1
"Kalau itu, aku nggak ngerti bik. Yuk bik, tidur aja. Kepalaku pusing"
-
Sementara diujung perkampungan yang ada didaerah Bandung
Fatihah benar-benar kelaparan
Malam ini, semua kawan-kawan Fatihah belum pulang, tetapi Fatihah jenuh dan perutnya mulai keroncongan
"Mister, perutku lapar... "
[Sayang, kok bisa]
Fatihah menangis
[Ya sudah, aku pesankan makanan untukmu ya? Tunggu]
Fatihah mengangguk, lalu menutup ponselnya
-
Fatihah menunggu makanan yang dijanjikan oleh Naufal
Tetapi, makanan yang ditunggu belum hadir-hadir juga didepannya
Akhirnya, Fatihah keluar sambil menutup punggungnya dengan selimut
"Brrr... Dingin banget"
Disaat bersamaan, Taufan juga diluar, menerima paket makanan dan langsung masuk kedalam rumah
Mata Fatihah melebar "Hah?? Pasti makanan itu milikku. Serakah banget dia"
Fatihah ingin mengejarnya. Tetapi, selang beberapa detik, Taufan keluar dengan membawa mie ayam campur bakso, yang masih menguap dimangkoknya
Taufan duduk akan menikmati makanan tersebut.
Tak diduga, gadis yang sombong memakai sarung itu merebut mangkoknya
Mangkok berisi makanan sudah ditangan Fatihah
Taufan berdiri kesal dengan serta merta "Hey, pendekar bersarung. Ngapain kamu merebut makananku? Kelaperan kamu? Sampai nggak tau malu maling makanan didepan mata pemiliknya, iya ?! " Teriak Taufan tak terima
Fatihah mendekap makanannya, sambil makan dan masih berdiri "Kamu yang maling" Ucapnya tanpa rasa bersalah
Taufan mengangah "Ada ya, ngebegal sendiri nggak mau ngaku" Taufan terus berdiri didepan Fatihah dengan kesal. Lalu mengangkat sendok yang masih tersisa ditangan "Jangan dihabiskan makananku" Taufan berusaha merebut makanannya dengan sendoknya
"Heh?? Ini milikku" Fatihah terus melindungi makanan, dengan membelakangi Taufan
Tiba-tiba
"Delivery order" Teriak sang kurir, lalu turun dari motornya "Mbak Fatihah lurah Ridwan" Teriaknya kembali, membuat Fatihah dan Taufan saling tatap
"Oh, jadi, malingnya bernama Fatihah? Kasihan banget orang tuanya kasih nama bagus, tapi tukang maling"
Fatihah cuek, kemudian Fatihah berjalan kedepan, diikuti Taufan yang berada dibelakangnya
"Buat, siapa pak?" Tanya Fatihah ragu
"Mbak Fatihah, dalam kurung lurah Ridwan mbak"
"Oh, iya betul itu paket untukku"
"Oh, iya betul itu paket untukku" Ulang Taufan memparodikan wajah yang dibuat menyek-menyek mengejek
__ADS_1
BERSAMBUNG......