
Siang dihari minggu
Fatih sudah membawa Retno dan kedua putranya kerumah babe
Kedua orang tua Retno senangnya minta ampun kedatangan anak, menantu, dan juga cucu kembarnya
Selagi kedua putranya sibuk dengan engkong dan embahnya, Retno masuk kekamar diikuti oleh Fatih
Retno menghentikan langkahnya mendadak
Sedangkan Fatih, karena langkahnya lebar, otomatis menabrak punggung Retno
Bruk
'Asyik' Fatih tersenyum-senyum dan langsung memeluknya dengan sayang. Kemudian menghujani ciuman kepipi istrinya ber kaliber "Mas kangen banget sayang"
Retno sudah bosan mendengar ucapan kangen dari suaminya, dari mereka damai, dari siang sampai malam, dan malam sampai siang
Retno mengurai tangan suaminya yang mengalung diperutnya "Ini siang-siang ya mas. Dan ini dirumah babe" Ucapnya penuh penekanan
"Ya mas tau"
"Kalau sudah tau, ya sudah. Kita libur"
"Kok gitu"
"Sudah ah, aku mau menata baju anak-anak" Retno mulai sibuk dengan baju anak-anak
"Perlu bantuan?" Fatih ingin membantu Retno menata baju-baju milik sikecil, tetapi Retno melarangnya
"Nggak perlu"
"Oh"
Daripada berantem, Fatih duduk dan memperhatikan istrinya yang sibuknya tidak selesai-selesai
'Sebenernya ngerjain aku atau gimana sih'
"Sayang, kapan selesainya"
"Ntar malam baru selesai. Ya sabar dong. Lemarinya kan penuh dengan baju-bajuku"
"Oh. Apa sebaiknya beli almari khusus untuk baju bayi saja, biar tidak campur aduk"
"Nggak perlu, nggak pa-pa"
"Oh" Fatih manggut-manggut, kemudian Fatih berdiri memperhatikan istrinya, yang sengaja dilama-lamain menatanya
Daripada panas bara, Fatih akhirnya memilih keluar menemui babe
-
"Wah haha, cucu engkong tampan. Mirip babe nggak bu" Babe sedang menggendong Fahri sambil ngoceh tak berhenti-henti
"Beda beh. Ini mirip papanya"
"Jangen liet kulitnye bu. Deh tau kulit babe butuk. Wajeh, wajeh" Babe menunjuk wajahnya sendiri
"Wajah juga tampanan cucu kita beh. Kulitnya kebule-bulean. Kalau babe kan kenegro-negroan"
"Busyet ibu... Tapi gue pan manis bu"
"Iya, ya manis. Tuh, semut pada ngerebung. Semut api tapi"
Fatih berdiri mendengar pertengkaran kecil sang mertua "Ahaha. Bapak bener bu. Bapak itu manis. Nangis nggak pak, Bu?" Tanya Fatih
"Enggak. Sama engkong seneng ya.." Ucapnya terus menimang cucunya
Tiba-tiba Fahri menangis, dalam gendongan babe "Ya ya, nangis" Babe kebingungan
"Nggak pa-pa pak, mungkin haus. Sini pak, biar saya gendong" Fatih mau mengambil Fahri dari tangan babe "Sini ikut daddy"
Belum juga ditangan, Retno sudah berlari dan berada didepan Fatih "Sini-sini, lapar ya" Retno sudah mengambil paksa Fahri dari tangan babenya
Babe sedikit merasa kasihan sama menantunya 'Kayaknye mereka ade masaleh'
Retno segera menjauh dan masuk kekamar
__ADS_1
"Mantu. Yuk ikut panen. Biar sikembar, urusane same perempuan. Te tek kite kemarau melulu, kagak bise keluer tu air su sunye. Adanye air tube hahaha"
Fatih tersenyum dan mengikuti babe keluar menuju empang
-
Retno keluar dan melongok kearah empang
Dari banyak para pria yang sibuk dengan lele, hanya satu pria yang terlihat menonjol karena berbeda kulit dan tenaga
Lainnya pada lepas baju dengan warna kulit yang hitam kelam. Sedangkan suaminya masih terlihat memakai kaus sendirian dan terlihat kecapaian sendiri
"Lihat apaan?" Suara itu tiba-tiba mengagetkan lamunannya
Retno menoleh "Eh, bu. Enggak, lelenya panen banyak ya bu?"
"Ya biasa segitu. Kan bibitnya sama kayak kemarin lalu"
"Yuk, nata makanan. Kasihan tu suamimu. Nggak biasa pegang jala, sekarang ikut-ikutan" Sambung ibu
Retno mengangguk dan tidak menyambung percakapan ibunya
-
Setelah selesai, yang datang ke ruang makan hanya babe seorang. Sedangkan Fatih, belum nampak batang hidungnya
"Loh, Fatih mana beh. Kok nggak ikut masuk" Tanya ibu
"Masup kok tadi" Ucap babe sambil kipas-kipas didepan makanan yang sudah siap diatas meja
"Oh, mandi kayaknya nduk" Tebak ibu
"Kalau gitu, babe dan ibu makan aja dulu. Ntar kami nyusul" Ucap Retno sambil berlalu
-
Retno masuk kekamar, dan mendapati suaminya yang sedang sholat ashar yang hampir habis waktunya. Retno berdiri menunggunya
Setelah salam dan melipat sajadah, Fatih menoleh kearah Retno "Kenapa?"
"Iya"
"Kenapa telat banget"
"A" Fatih ingin menjelaskan. Tetapi Retno memotong
"Seharusnya, sebelum terjun ke empang, sholat dulu"
"Iya maaf. Kirain hanya sebentar"
"Ya sudah, makan sana. Sudah ditungguin babe"
"Iya, sayang" Kemudian Fatih mencium pipi sang istri, dan berlalu
Retno mematung "Heran. Dijutekin malah nyosor melulu"
-
Mereka makan malam, tapi waktunya menjelang magrib
Maklum orang kampung. Makan tidak pakai aturan jam. Pakainya aturan perut. Jika perut mulai keroncongan, artinya butuh asupan makan
Fatihpun ikut aturan kampung
Karena tenaganya tadi terkuras banyak, makan jam segini saja enaknya tidak ketulungan
"Nambeh, nambeh. Mantu pasti tenaganye abis banyak" Ucap babe sambil makan dan sibuk menawarkan pada Fatih
Fatih tersenyum "Iya pak"
"Retno, ntar suami lu, pijitin. Biar bisa tidur" Titah babe
Fatih dan Retno saling lirik
"Iya beh" Jawab Retno sambil disenyumi Fatih
-
__ADS_1
Malam tiba
Fatih sudah tertidur karena kecapaian
"Sepi. Biasanya cerewet, sekarang tidur pulas. Padahal belum kupijat dia. Sudahlah. Mending ikut tidur" Retno bermonolog
Malam ini Retno merasa kesepihan karena kedua putranya tidur dengan mbahnya
Retno merebahkan tubuhnya disamping suaminya yang sudah terlelap
Retno memiringkan badannya menghadap kearah suaminya
Perlahan tangan Retno mengusap wajah suaminya hingga kerambut. Wajah yang tadinya putih bersih, malam ini sedikit kemerahan
"Makasih ya mas, sudah bantu babe" Retno terus mengusap alis tebal sang suami, lalu turun kebibirnya "Biasanya ini cerewet"
Fatih membuka matanya, kemudian menyerang istrinya. Dan dalam sekejab, Retno dalam kungkungannya
"Apa??" Ucap Fatih tersenyum menggoda
"Nggak, nggak pa-pa" Retno blingsatan
"Tadi mas dengar semua. Kau kesepian kan?" Fatih turun dari tubuh Retno "Tapi sayangnya mas capek. Nggak bisa nemenin kamu" Mata Fatih terpejam, tapi pendengarannya ditajamkan
"Mau dipijit" Retno sudah menggenggam kaki Fatih
"Nggak usah, jangan" Tolak Fatih menyingkirkan tangan Retno
Retno terbengong karena penolakan dari suami
Mata Fatih terbuka "Mas takut nggak bisa nahan kalau ini bangun" Ucapnya memegang sosisnya yang mulai mengeras
Retno mengikuti tangan suaminya yang menutupi sosis tersebut
Retno menatap wajah suaminya yang sudah memelas
Retno menyerang Fatih "Maaaassss"
Buk
Buk
Buk
Retno sudah gebukin dada Fatih "Mas fikirannya itu melulu" Suara Retno sudah manja
Fatih menangkup wajah Retno yang sudah diatasnya "Meskipun usia mas tidak muda, mas masih kokoh. Daripada melehoi. Sayang mau?"
"Ish" Retno menenggelamkan wajahnya didada suaminya
"Sayang kangen, tidak?" Tanya Fatih yang sudah menghangat nafasnya
Retno belum menjawab, tapi lama-lama, Retno mengangguk "Iya mas, aku kangen"
"Oooo" Fatih memeluk Retno dan membalikkan tubuh istrinya, agar dirinya bisa kuasa "Mas lebih kangen"
Cup
Cup
Cup
Fatih sudah mengabsen seluruh wajah istrinya
"Tapi mas"
Fatih menghentikan aksinya "Apa? Kamu haid?"
Retno geleng-geleng
"Apa?"
"Kalau anak-anak nangis"
"Makanya kita cepetin"
BERSAMBUNG.....
__ADS_1