
"Haha Fatihah, apa kabar?" Kini Fariz yang bertanya
"Ah, papa. Telat, nggak asyik" Ucapnya sedikit kesal
"Jangan ngambek dong. Sejak semalam papa disini juga nggak ada yang nanya. Tapi biarin aja, mungkin pada lupa, hilaf haha" Sambung Fariz
"Mungkin karena kita udah pada tua Riz, jadi nggak perlu ditanya. Dan yang jelas, kita semua sibuk sendiri-sendiri" Timpal Husayn sambil tersenyum
"Nggak mungkinlah pah, masa nggak ada yang tanya. Sombong amat semuanya" Fatihah
"Tuh tau. Makanya, jangan suka ngambek. Pamali" Fariz
"Iya, Fariz nggak ditanya juga nggak ngambek. Takut cepat tua ya Riz, haha" Husayn
Sementara mereka beradu argumen, Hanan dan Fatih masih serius membicarakan Arin
"Gimana Arin kak. Rewel, atau nakal nggak disini"
"Nggak sih, masih wajarlah bocah remaja"
"Nggak bikin ulah?"
"Bikin ulah mah biasa. Tapi sayang kok sama adik-adiknya. Meskipun berantem terus tiap hari, tapi sekejap saja akur kembali"
"Oh, suka minta duit sama kakak nggak?"
"Nggak pernah sama sekali. Dikasih juga nggak mau. Mama bilang juga nggak pernah ngasih. Heran. Jajannya super boros, tapi kalau mau dikasih duit, masih ada duit katanya"
Hanan tersenyum "Mungkin uang tabungan kali"
"Maybe"
Tiba-tiba
"Eh, bus nya udah dateng tuh" Ucap Husayn memberi tau
"Memang udah siap semua" Saut Fatih
"Sudah" Husayn
"Ya udah, cabut yuk" Fariz
-
Pagi ini, mereka akan jalan-jalan ke puncak, yang ada didaerah Bandung
Mereka jalan-jalan menggunakan armada bus medium jet bus 31 seat
Satu persatu semuanya naik
Hanan sudah diatas duluan "Mama, sini ma"
Hanan membantu mama Sifa untuk duduk dikursi barisan kedua. Biar dekat dengan semuanya
Fatih naik keatas "Ini perempuan depan kan, para pria kumpul dibelakang aja" Saut Fatih
"Iya" Saut para pria
Ratna, Retno, sudah duduk paling depan. Sedangkan Alana dan Hawa, duduk berdampingan dibelakang sopir
Hawa berdiri menengok kebelakang "Terus anak-anak bang. Mereka duduk dimana"
"Ini bangku nomor tiga" Jawab Husayn
"Yo wislah terserah. Eh terus terus. Pasangan pengantin baru, bagaimana duduknya" Masih Hawa yang sibuk
"Untuk sementara dipisah dulu. Biar nggak pada ngiri" Celetuk Husayn yang masih menata para penumpang
"Oh, ya sudah. Fatihah, depan sayang" Hawa melambaikan tangan pada Fatihah, seperti kondektur betulan
Fariz masih berdiri dibelakang Aaliyah "Ini, ini Aaliyah. Aaliyah duduk dimana ini"
"Samping mama Sifa, bang" Jawab Hawa lagi
Aaliyah kedepan, dan duduk disebelah kiri mama
"Eh, mama Sifa, mama mau dipinggir jendela, atau disitu aja" Tawar Aaliyah
"Mama disini saja nak. Biar mama bisa menghadap sesuka mama" Jawab mama sambil tersenyum
Mama Sifa dan Aaliyah sudah duduk dikursi nomor dua. Sedangkan sampingnya, sudah ada Fatihah yang duduk sendirian
"Aku sama siapa dong!!" Teriaknya "Sama suamiku, boleh??"
Husayn berdiri lagi "Oh, nggak boleh. Kamu sama Faruq"
"Ya, payah. Yaudah. Kamu sini Faruq" Lambainya pada Faruq
Faruq kedepan
"Awas, jangan ada penindasan ya" Ancam Husayn
"Yeh, mana ada pa" Fatihah
Faruq masih berdiri celingak celinguk "Ya udah, Faruq mending pilih sama..." Faruq mulai bingung "Faruq sama Zira aja pah"
"Boleh" Husayn
"Terus. Aku sendirian dong" Protes Fatihah sambil menunjuk bangku Arin yang over penumpang
__ADS_1
Semuanya menatap bangku Arin, yang sempit karena kebanyakan penumpang
Husayn berdiri menjulang didepan kursi yang desak-desakan "Ini apa-apa an. Salah satu pindah" Husayn akan membopong Fahmi
Fahmi menolak "Nggak mau. Fami ingin duduk sama kak Alin"
"Fali juga" Tolak Fahri
"Fahri, bareng kakak yuk" Tawar Fatihah yang butuh teman
"Nggak mahu" Fahri
Arin berdiri diatas kursi "Kalau begitu, aku yang pindah !!"
"JANGAN !!!" Teriak Fahri dan Fahmi bersamaan
Fatih tepuk jidat "Hadewwww"
-
Setelah penumpang semuanya duduk dan beres semua. Tetapi tidak beres dengan Arin. Karena bangku ini tidak bisa dipisahkan. Akhirnya deal. Jika Arin terpaksa momong dua bocah kembar ini
"Karena sudah beres, kita karaoke yuk" Ajak Hawa
"SETUJU !!!" Jawab para pria
"Nggak bisa nyanyi" Alana
"Halah. Memangnya aku bisa. Nggak bisa. Pokoknya kita hepi" Hawa
Hawa kedepan mengambil mikrofon "Bang sopir, puterin lagu kenangan dong, biar mamaku nyanyi"
"Lagu apa bu?" Tanya sopir
Hawa menoleh kebelakang "Lagu apa ma"
"Kok mama" Tolak mama Sifa
"Mama mama !! Mama mama" Yel yel dari belakang sudah ramai diserukan oleh quadruple
"Wa jangan lagu dangdut ya, mama sukanya lagu kebangsaan" Teriak Husayn "Melambai lambai 🎶hihi🎶" Husayn menyanyi bernada seriosa
Hahahaha
Semua orang tertawa terpingkal-pingkal
Mama Sifa menoleh "Hus"
"Oh, salah ya ma. Ehhem" Husayn berdehem kemudian menarik nafas, dan menyanyi lagi "Padamu negeri🎶🎶" Husayn menyanyi dengan nada serius
"Hus, mau upacara bendera apa" Mama Sifa menabok pantat Husayn menggunakan kipas tangan sebagai aksesoris mama
Hahaha
Mama menoleh lagi "Ah kau ini"
"Yang lagunya gini ma. Lingsir wengi sepi durung🎶🎶"
"Nggak jadi piknik bang. Semuanya tidur semua. Sekalian sama sopirnya" Hawa
Hanan berdiri "Ah, qosidahan" Hanan menoleh kedepan dan kebelakang seperti tukang ngamen didalam bus "Gimana kalau mama menyanyi lagu qosidahan. Setuju??"
"SETUJU !!"
"Yang lagunya apa bang"
Hanan menghadap kebelakang "Bila bom nuklir diledakkan🎶, toret toret"
HAHAHA
Semua orang tertawa melihat tingkah Hanan
Plok
Hawa menabok bahu Hanan "Bang !! Ternyata abang somplak ya"
"Aku kesetrum kamu Wa, jadi yang pada somplak hari ini, itu ulahmu" Ucap Hanan yang ditertawakan oleh semuanya
Alana geleng-geleng tidak percaya "Ya Allah mas. Seumur-umur baru liat suamiku begitu" Alana tepuk jidat
"Nggak pa-pa Mbak. Aku juga ingin Mas Fatih slow begitu. Lihat, mas Fatih tidak bereaksi. Padahal kak Husayn dan Kak Fariz vocal dari tadi" Retno
Fatih berjalan kedepan
"Ih, mas mau karaoke?" Tanya Retno semringah
"Enggak. Mas hanya bawa ini" Tunjuknya pada flesdisk yang ia bawa "Ini Wa, kasihkan kesopirnya"
"Lagu apa bang"
"Lagu mandarin"
"Yang lagunya Wang sinawang wang sinawang🎶, ya bang"
"Hahaha terserah. Pokoknya ntar mama pilih sendiri"
Setelah didesak, mama Sifa akhirnya menyanyikan lagu
__ADS_1
Ni wen wo ai ni you dou she🎶
Wo ai ni you ji fen🎶
Wo de xing ye zhen🎶
Wo de ai ye zhen🎶
Yue liang dai biao wo de xing🎶
Ni wen wo ai ni you tuo shen🎶
Wo ai ni you ji fen🎶
Wo de xing buyi🎶
Wo de ai bubian🎶
Yue liang dai biao wo de xin🎶
Qing qing de yi ge wen🎶
Yi jin da dong wo de xing🎶
Shen shen de yi duan qing🎶
Jiao wo si nian do ru jin🎶
Ni wen wo ai ni you dou shen🎶
Wo ai ni you ji fen🎶
Ni qu xing yi xing🎶
ni qu kan yi kan🎶
Yue liang dai biao wo de xing🎶
Terjemahan
Biarlah Bulan Mewakili Hatiku
Kau bertanya padaku
Seberapa dalam kumencintaiku
Seberapa banyak aku mencintaimu
Hatiku sungguh-sungguh
Dan cintaku juga sungguh-sungguh
Biarlah bulan mewakili hatiku
Kau bertanya padaku
Seberapa dalam ku mencintaimu
Seberapa banyak aku mencintaimu
Cintaku tak berubah
Hatiku tak berpindah
Biarlah bulan mewakili hatiku
Sebuah ciuman lembut
Sudah dapat meruntuhkan hatiku
Sesudah perasaan yang mendalam
Membuatku merindu hingga sekarang
Kau bertanya padaku
Seberapa dalam ku mencintaimu
Seberapa banyak aku mencintaimu
Cobalah kau pikirkan
Lihat dan perhatikanlah
Biarlah bulan mewakili hatiku
Prok prok
Semuanya tepuk tangan sorak sorai
Huuuuuuuuu
"Lagunya romantis, bagus ma" Hanan memeluk mamanya
Fatih menoleh kearah Fariz "Lagu itu kesukaan papa"
"Berarti mama sedih dong"
"Biar Hanan yang mengatasi"
__ADS_1
Fariz manggut-manggut
Kemudian, mereka bergantian menyanyi sesuka hati