Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Mama Sifa Menyanyi


__ADS_3

"Haha Fatihah, apa kabar?" Kini Fariz yang bertanya


"Ah, papa. Telat, nggak asyik" Ucapnya sedikit kesal


"Jangan ngambek dong. Sejak semalam papa disini juga nggak ada yang nanya. Tapi biarin aja, mungkin pada lupa, hilaf haha" Sambung Fariz


"Mungkin karena kita udah pada tua Riz, jadi nggak perlu ditanya. Dan yang jelas, kita semua sibuk sendiri-sendiri" Timpal Husayn sambil tersenyum


"Nggak mungkinlah pah, masa nggak ada yang tanya. Sombong amat semuanya" Fatihah


"Tuh tau. Makanya, jangan suka ngambek. Pamali" Fariz


"Iya, Fariz nggak ditanya juga nggak ngambek. Takut cepat tua ya Riz, haha" Husayn


Sementara mereka beradu argumen, Hanan dan Fatih masih serius membicarakan Arin


"Gimana Arin kak. Rewel, atau nakal nggak disini"


"Nggak sih, masih wajarlah bocah remaja"


"Nggak bikin ulah?"


"Bikin ulah mah biasa. Tapi sayang kok sama adik-adiknya. Meskipun berantem terus tiap hari, tapi sekejap saja akur kembali"


"Oh, suka minta duit sama kakak nggak?"


"Nggak pernah sama sekali. Dikasih juga nggak mau. Mama bilang juga nggak pernah ngasih. Heran. Jajannya super boros, tapi kalau mau dikasih duit, masih ada duit katanya"


Hanan tersenyum "Mungkin uang tabungan kali"


"Maybe"


Tiba-tiba


"Eh, bus nya udah dateng tuh" Ucap Husayn memberi tau


"Memang udah siap semua" Saut Fatih


"Sudah" Husayn


"Ya udah, cabut yuk" Fariz


-


Pagi ini, mereka akan jalan-jalan ke puncak, yang ada didaerah Bandung


Mereka jalan-jalan menggunakan armada bus medium jet bus 31 seat


Satu persatu semuanya naik


Hanan sudah diatas duluan "Mama, sini ma"


Hanan membantu mama Sifa untuk duduk dikursi barisan kedua. Biar dekat dengan semuanya


Fatih naik keatas "Ini perempuan depan kan, para pria kumpul dibelakang aja" Saut Fatih


"Iya" Saut para pria


Ratna, Retno, sudah duduk paling depan. Sedangkan Alana dan Hawa, duduk berdampingan dibelakang sopir


Hawa berdiri menengok kebelakang "Terus anak-anak bang. Mereka duduk dimana"


"Ini bangku nomor tiga" Jawab Husayn


"Yo wislah terserah. Eh terus terus. Pasangan pengantin baru, bagaimana duduknya" Masih Hawa yang sibuk


"Untuk sementara dipisah dulu. Biar nggak pada ngiri" Celetuk Husayn yang masih menata para penumpang


"Oh, ya sudah. Fatihah, depan sayang" Hawa melambaikan tangan pada Fatihah, seperti kondektur betulan


Fariz masih berdiri dibelakang Aaliyah "Ini, ini Aaliyah. Aaliyah duduk dimana ini"


"Samping mama Sifa, bang" Jawab Hawa lagi


Aaliyah kedepan, dan duduk disebelah kiri mama


"Eh, mama Sifa, mama mau dipinggir jendela, atau disitu aja" Tawar Aaliyah


"Mama disini saja nak. Biar mama bisa menghadap sesuka mama" Jawab mama sambil tersenyum


Mama Sifa dan Aaliyah sudah duduk dikursi nomor dua. Sedangkan sampingnya, sudah ada Fatihah yang duduk sendirian


"Aku sama siapa dong!!" Teriaknya "Sama suamiku, boleh??"


Husayn berdiri lagi "Oh, nggak boleh. Kamu sama Faruq"


"Ya, payah. Yaudah. Kamu sini Faruq" Lambainya pada Faruq


Faruq kedepan


"Awas, jangan ada penindasan ya" Ancam Husayn


"Yeh, mana ada pa" Fatihah


Faruq masih berdiri celingak celinguk "Ya udah, Faruq mending pilih sama..." Faruq mulai bingung "Faruq sama Zira aja pah"


"Boleh" Husayn


"Terus. Aku sendirian dong" Protes Fatihah sambil menunjuk bangku Arin yang over penumpang

__ADS_1


Semuanya menatap bangku Arin, yang sempit karena kebanyakan penumpang


Husayn berdiri menjulang didepan kursi yang desak-desakan "Ini apa-apa an. Salah satu pindah" Husayn akan membopong Fahmi


Fahmi menolak "Nggak mau. Fami ingin duduk sama kak Alin"


"Fali juga" Tolak Fahri


"Fahri, bareng kakak yuk" Tawar Fatihah yang butuh teman


"Nggak mahu" Fahri


Arin berdiri diatas kursi "Kalau begitu, aku yang pindah !!"


"JANGAN !!!" Teriak Fahri dan Fahmi bersamaan


Fatih tepuk jidat "Hadewwww"


-


Setelah penumpang semuanya duduk dan beres semua. Tetapi tidak beres dengan Arin. Karena bangku ini tidak bisa dipisahkan. Akhirnya deal. Jika Arin terpaksa momong dua bocah kembar ini


"Karena sudah beres, kita karaoke yuk" Ajak Hawa


"SETUJU !!!" Jawab para pria


"Nggak bisa nyanyi" Alana


"Halah. Memangnya aku bisa. Nggak bisa. Pokoknya kita hepi" Hawa


Hawa kedepan mengambil mikrofon "Bang sopir, puterin lagu kenangan dong, biar mamaku nyanyi"


"Lagu apa bu?" Tanya sopir


Hawa menoleh kebelakang "Lagu apa ma"


"Kok mama" Tolak mama Sifa


"Mama mama !! Mama mama" Yel yel dari belakang sudah ramai diserukan oleh quadruple


"Wa jangan lagu dangdut ya, mama sukanya lagu kebangsaan" Teriak Husayn "Melambai lambai 🎶hihi🎶" Husayn menyanyi bernada seriosa


Hahahaha


Semua orang tertawa terpingkal-pingkal


Mama Sifa menoleh "Hus"


"Oh, salah ya ma. Ehhem" Husayn berdehem kemudian menarik nafas, dan menyanyi lagi "Padamu negeri🎶🎶" Husayn menyanyi dengan nada serius


"Hus, mau upacara bendera apa" Mama Sifa menabok pantat Husayn menggunakan kipas tangan sebagai aksesoris mama


Hahaha


Mama menoleh lagi "Ah kau ini"


"Yang lagunya gini ma. Lingsir wengi sepi durung🎶🎶"


"Nggak jadi piknik bang. Semuanya tidur semua. Sekalian sama sopirnya" Hawa


Hanan berdiri "Ah, qosidahan" Hanan menoleh kedepan dan kebelakang seperti tukang ngamen didalam bus "Gimana kalau mama menyanyi lagu qosidahan. Setuju??"


"SETUJU !!"


"Yang lagunya apa bang"


Hanan menghadap kebelakang "Bila bom nuklir diledakkan🎶, toret toret"


HAHAHA


Semua orang tertawa melihat tingkah Hanan


Plok


Hawa menabok bahu Hanan "Bang !! Ternyata abang somplak ya"


"Aku kesetrum kamu Wa, jadi yang pada somplak hari ini, itu ulahmu" Ucap Hanan yang ditertawakan oleh semuanya


Alana geleng-geleng tidak percaya "Ya Allah mas. Seumur-umur baru liat suamiku begitu" Alana tepuk jidat


"Nggak pa-pa Mbak. Aku juga ingin Mas Fatih slow begitu. Lihat, mas Fatih tidak bereaksi. Padahal kak Husayn dan Kak Fariz vocal dari tadi" Retno


Fatih berjalan kedepan


"Ih, mas mau karaoke?" Tanya Retno semringah


"Enggak. Mas hanya bawa ini" Tunjuknya pada flesdisk yang ia bawa "Ini Wa, kasihkan kesopirnya"


"Lagu apa bang"


"Lagu mandarin"


"Yang lagunya Wang sinawang wang sinawang🎶, ya bang"


"Hahaha terserah. Pokoknya ntar mama pilih sendiri"


Setelah didesak, mama Sifa akhirnya menyanyikan lagu


   

__ADS_1


Ni wen wo ai ni you dou she🎶


Wo ai ni you ji fen🎶


Wo de xing ye zhen🎶


Wo de ai ye zhen🎶


Yue liang dai biao wo de xing🎶


Ni wen wo ai ni you tuo shen🎶


Wo ai ni you ji fen🎶


Wo de xing buyi🎶


Wo de ai bubian🎶


Yue liang dai biao wo de xin🎶


Qing qing de yi ge wen🎶


Yi jin da dong wo de xing🎶


Shen shen de yi duan qing🎶


Jiao wo si nian do ru jin🎶


Ni wen wo ai ni you dou shen🎶


Wo ai ni you ji fen🎶


Ni qu xing yi xing🎶


ni qu kan yi kan🎶


Yue liang dai biao wo de xing🎶


Terjemahan


Biarlah Bulan Mewakili Hatiku


Kau bertanya padaku


Seberapa dalam kumencintaiku


Seberapa banyak aku mencintaimu


Hatiku sungguh-sungguh


Dan cintaku juga sungguh-sungguh


Biarlah bulan mewakili hatiku


Kau bertanya padaku


Seberapa dalam ku mencintaimu


Seberapa banyak aku mencintaimu


Cintaku tak berubah


Hatiku tak berpindah


Biarlah bulan mewakili hatiku


Sebuah ciuman lembut


Sudah dapat meruntuhkan hatiku


Sesudah perasaan yang mendalam


Membuatku merindu hingga sekarang


Kau bertanya padaku


Seberapa dalam ku mencintaimu


Seberapa banyak aku mencintaimu


Cobalah kau pikirkan


Lihat dan perhatikanlah


Biarlah bulan mewakili hatiku


Prok prok


Semuanya tepuk tangan sorak sorai


Huuuuuuuuu


"Lagunya romantis, bagus ma" Hanan memeluk mamanya


Fatih menoleh kearah Fariz "Lagu itu kesukaan papa"


"Berarti mama sedih dong"


"Biar Hanan yang mengatasi"

__ADS_1


Fariz manggut-manggut


Kemudian, mereka bergantian menyanyi sesuka hati


__ADS_2