
Seminggu setelah kepergian papa, mama Sifa berangsur-angsur membaik keadaannya. Mama jarang menangis dan jarang termenung
Setiap pagi setelah habis subuh, mama Sifa selalu menyiapkan bunga dan air untuk diserahkan pada salah satu anaknya, untuk dibawa kemakam "Ini bunga dan airnya"
Hanan menerimanya "Apa, pagi ini mama ingin ikut menyekar kemakam, bersama kami?" Tawar Hanan yang sudah dibuntuti oleh keempat putra-putrinya, dan kedua anak kembar dari Fariz
Mama Sifa geleng-geleng "Tidak. Mama belum sanggup mengunjungi papa. Sampaikan salam saja untuk papa. Mama baik-baik saja disini"
Mama Sifa belum bisa menerima keadaan ini. Meskipun tau suaminya telah tiada, tapi rasanya belum percaya
Entah apa alasannya, yang jelas belum bersedia
Kemudian mama memutar badan, dan duduk diatas ayunan rotan, yang usianya sudah tua, tetapi masih terawat
'Ayunan ini telah menjadi saksi, beberapa puluh tahun lalu. Dulu, pertama kali kita menikah, mama sering menunggumu disini pa. Papa selalu berenang disini' Mama Sifa tersenyum kecut
"Mama" Panggil Fatih
Mama Sifa menoleh
"Jangan melamun terus"
"Mama baik-baik saja nak. Cepatlah, papamu menunggu"
Fatih mencium kepala sang mama, kemudian merangkul Hanan "Ayo, kita jangan sampai kesiangan"
Sementara didapur, seluruh para menantu sibuk menyiapkan sarapan, untuk keluarga besar ini
Fatih berjalan mendekati Retno, yang sibuk meracik masakan untuk sarapan nanti setelah para suami dan anak-anaknya pulang dari makam
"Sayang, masih lama masaknya?"
"Masih mas"
Hawa langsung nyelonong "Hayo, ngapain bapak-bapak masuk kedapur. Keluar" Usirnya sambil memegang alat pemotong sayur
"Busyet Wa, gitu aja meletus"
"Ini lokasi ibu-ibu. Keluar sana"
"Hawa... " Tegur Hanan
"Apa sih bang, ikut-ikutan. Mbak Alana.." Panggilnya pada Alana "Tu bang Hanan" Tunjuk Hawa dengan dagunya
"Apa mbak. Biarin, lagi repot" Jawab Alana
"Minta cium barangkali"
__ADS_1
"Mas Hanan ada wudlu, dan kita bau asap" Ucap Alana kembali sibuk dengan urusannya
Fatih memukul kepala Hawa dengan gulungan kertas "Kami kedapur, untuk meminta tolong sama kalian. Mama sendirian noh. Jangan dibiarkan mama melamun, ya" Pesan Fatih, kemudian berbelok dan berjalan cepat keluar dari dapur
-
Dipemakaman
Hanan memegang batu nisan milik sang papa "Papa, hari ini keluarga kami, harus pulang ke Semarang lagi. Seminggu sudah papa pergi meninggalkan kami, seminggu pula kami tinggalkan urusan dunia ini demi papa"
Ada jedah
"Dan hari ini, mama belum bisa berkunjung kemari. Bukan karena mama tidak mencintai papa, melainkan mama sangat mencintai papa. Seperti biasa, mama mengirimkan doa dan salam, lewat bunga dan air ini. Untuk papa" Hanan sedikit berkaca-kaca
Setelah selesai menyekar, quadruple dan semua anak-anaknya pulang kerumah mama
-
Malam nanti, keluarga Hanan akan segera terbang ke Semarang
Disamping itu, kedua putra Hanan yaitu Imran dan Altaaf, dan kedua anak kembar milik Fariz yaitu Fawas dan Ghozy, harus pergi ke luar negeri lagi karena pendidikan
Hanan duduk dan mulai mengabsen kedua putri kembarnya "Arin, Zira"
Arin dan Zira menoleh
Arin menyembul minta pendapat Zira. Karena mereka duduknya terpisah
Arin mendorong kedepan tubuh Altaaf "Eng, Zira. Zira" Bisiknya sambil menarik-narik baju Altaaf yang menjadi pembatas mereka
Plok
Altaaf menabok tangan Arin "Apaan sih tarik-tarik baju kakak. Kecekek tau"
"Ish, Arin butuh jawaban"
"Jawabannya ada pada kamu" Ucap Altaaf membuat Arin melebarkan matanya
"Lah. Kenapa Arin kak. Yang ditanya kan kami. Harus kami berdua dong, yang jawab"
Altaaf melirik Arin "Terserah kamu. Kalau menurut kakak sih, yang cocok menemani grandma, adalah kamu" Tunjuk Altaaf pada Arin
"Kok Arin. Harus ada Zira dong" Protesnya
Eh hem
Hanan berdehem "Sudah diskusinya?"
__ADS_1
"Ish, daddy. Kayak guru pengawas aja modelnya" Masih Arin yang protes
Fatih angkat bicara "Sudah, kalau menurut papa sih.. " Fatih menunjuk dirinya sendiri "Lebih baik kamu Arin. Kamu itu mewakili 5 bocah"
"Kok Arin pa" Protes Arin
"Iyalah. Nggak mungkin kak Fawaz dan kak Ghozy. Mereka berdua juga akan pergi lagi keluar negeri bersama kak Imran dan kak Altaaf. Nggak mungkin juga dek Fahri dan dek Fahmi. Mereka terlalu kecil. Mereka belum bisa menjaga grandma"
"Eng, jangan Arin doang dong. Ditemenin kak Sayra ya. Kak Sayra kan sendiri, belum ada suaminya. Nggak kayak kak Fatihah, dan kak Aaliyah"
"Kata siapa kak Sayra masih sendiri. Kak Sayra hampir menikah loh " Saut Fariz, membuat mata Imran melebar
Klek
Serasa remuk hati Imran
Imran menoleh kearah Sayra "Ra, bener yang dikatakan papa Fariz ?"
Sayra menatap Imran
"Jawab yang jujur, Ra" Bisik Imran butuh jawaban secepatnya
Semua papa-papa disini sudah tau gelagat Imran
Husayn berdiri didepan Imran dan Sayra "Sudah. Kalian berdua, selesaikan dulu urusan kalian. Dan kamu Imran, papa sudah tau, kamu ada sesuatu pada Sayra" Husayn memegang bahu putrinya "Sekarang, ajaklah Imran bicara baik-baik, klirkan urusan kalian berdua. Dan saling memaafkan jika diantara kalian, ada yang sakit hati. Pergilah"
-
Siang harinya, Imran pergi lagi bersama Sayra.
Imran sangat mencintai Sayra sudah lama. Setiap pulang libur semester, Imran rela untuk datang ke Jakarta, demi sang pujaan hati
Sebenarnya Sayra sedikit menyukai Imran, tetapi bimbang, karena Imran masih saudaranya. Dan Imran, masih berstatus mahasiswa, belum memiliki pekerjaan. Rasanya ada yang mengganjal dihati Sayra. Ditambah, usia Imran lebih muda dari dirinya
Tetapi, Imran selalu membuatnya nyaman, dan akhirnya sedikit terlena terhadap Imran
Banyak hal menarik yang terjadi seiring perjalanan Imran memperjuangkan cintanya. Nah, bagaimana kisah selanjutnya. Apakah Imran berhasil mendapatkan cintanya Sayra. Dan apa yang terjadi dengan cinta segitiga mereka selanjutnya. Kita tinggalkan kisah ini, siapa tau ada novelnya hihi. Tapi tunggu ya, biar kisah Fatih klir dahulu
-
Sebagai lelaki normal, tentu saja Imran merasakan sakit hati dengan kejadian seperti itu. Terlebih lagi, Sayra akan dilamar dengan cucu teman dari opa Sohail. Kakek dari Sayra
"Sudah satu minggu kita bersama, aku sangat senang kau akhirnya menerimaku menjadi kekasih kamu. Kau tau Saya, sejak lama kita tidak pernah berjumpa, dan akhirnya kita bertemu dilebaran dua tahun lalu, aku benar-benar terpesona, bukan karena kecantikan dan kepintaran kamu, tetapi hatimu yang tulus, aku terus mengejarmu untuk mendapatkan ketulusan hatimu itu, dan aku sangat senang ketika akhirnya aku mendapatkan kamu karena ketulusan kamu pada ku. Di saat pertama kali kau bersikap padaku, itu tak pernah kudapatkan dari teman, saudara, bahkan keluargaku. Tapi sekarang aku sadar, aku mendapatkan kamu karena kau terpaksa menerimaku" Imran berdiri "Karena keegoisanku, sehingga aku tak melihat ketulusan kamu yang seperti dulu, sekarang aku benar-benar menyesal"
"Imran"
"Cukup Sayra, aku menyerah" Imran akhirnya menyerah. Seketika itu juga, Imran menangis.
__ADS_1
Singkat cerita, Sayra menjalin hubungan dengan cowok lain. Sampai akhirnya Imran frustasi dan akhirnya memilih segera bertolak keluar negeri dan tidak ingin kembali