
Kawan-kawan Retno akhirnya pada bubar tangkar, karena sudah pada kenyang
Kebiasaan keluarga babe, jika habis panen, Kawan dirinya, istrinya, bahkan anaknya, selalu diundang untuk makan-makan gratis
Bisnis budidaya ikan lele yang babe geluti, setahun bisa panen 3 kali panenan. Dan, tiga kali juga, babe mengundang tetangga, teman-temannya untuk makan bersama dalam setahun
Rumah babe tergolong antik karena bangunan dulu, masih ia pertahankan
Tapi jangan salah, dalamnya mempunyai perabot yang kekinian
Babe memiliki mobil bak satu, motor-motor butut jumlahnya lebih dari tiga. Ditambah punya Retno yang kemarin mogok terus. Jadi, motor bututnya babe, nambah memenuhi gudang
Keluarga ini sangat sederhana, adem ayem, tentrem, senang berbagi, dan tidak sombong
Mungkin karena apa yang mereka punya, semata-mata bukan miliknya semua, ada yang harus mereka bagi untuk para tetangga dan handai taulan. Terkecuali pada Toto, penggemar sejati Retno
-
"Kalau begitu, kami pulang dulu be. Terimakasih atas jamuannya" Ucap Fatih
"Same-same. Kapen-kapen bu bos same pak dokter Ilham diajek dimari. Biar tau gubuknye aye, ye"
"Iya be, salim dulu sama babe" Menjawab babe, namun tangannya mendorong lengan Fatihah
Fatihah mencium tangan babe "Be, jika kapan-kapan kak Retno aku ajak nginep dirumah, boleh nggak"
Kembali Fatih menoel lengan Fatihah "Eh, disuruh pamit malah merayu"
"Ahaha" Babe malah tertawa
"Tuh, babe aja ngizinin, ya be ya?"
"Babe tertawa. Bukan ngizinin, Fatihah..." Kesal Fatih
"Kagek ape-ape. Asel nginepnye di rumeh Fatihe, babe setuju-setuju aje. Tapi kalau Fatihe jadi laki, babe kagak mbolehin, alias tolek"
"Tuh, dengerin"
-
Di perjalanan pulang
Fatih membelokkan mobilnya ke dealer motor
"Daddy, aku jadi mau dibeliin motor ya dad"
"Siapa yang mau mbeliin. Orang daddy mau main"
"Ah bohong"
"Daddy ingin beli motor, untuk daddy sendiri. Bukan untuk kamu"
Fatihah mengangah "Daddy kok gitu sih"
Sambil berantem, Fatih mulai memegang motor yang sama persis seperti motor yang dimiliki Retno. Dari merk, warna pokoknya sama
"Dad, kok pilihnya sama kayak kak Retno. Warna hitam aja dad"
"Nggak, cakepan putih"
"Aneh"
"Kan daddy yang mau"
"Ih daddy. Ya deh ngalah, ntar pinjam ya dad"
"Mau??"
"Mau"
Setelah pembayaran usai, merekapun pulang dengan hati yang gembira
-
Sore hari dilain waktu
Babe membawa istri dan anaknya kondangan ke daerah Pasar minggu
Didalam perjalanan menuju pulang, tiba-tiba mobil bak yang babe kendarai berbunyi
Duk
Duk
Duk
"Beh, mobilnya kok bunyi beh. Kagak nabrak polisi tidur kan beh" Ucap Retno ketakutan
"Kagak, jalan raya mane ade polisi ngorok. Nyang ade, lagi berjage-jage noh dipos" Tunjuk babe dipos polisi yang sudah tertinggal dibelakang
"berhenti beh, berhenti. Ai takut mobil babe meledak"
"Bentar-bentar" Babe segera menepihkan mobilnya, lalu babe turun disusul mereka berdua
__ADS_1
Retno jongkok sambil mengendus-endus ban mobil yang ada dibawahnya tadi "Sebeleh sini beh" Tunjuk Retno pada roda depan bagian kiri
Retno masih jongkok dengan maksud mengontrol "Beh, bau gosong"
Babepun ikut-ikut ngontrol "Iye bau kanvas gosong"
Mereka kebingungan berdiri dipinggir jalan, sedangkan babe sesekali menekan-nekan ban dengan kakinya
"Beh, ntu ade asapnye beh"
"Waduh, gimana ini" Babe terlihat bingung
"Gimana beh. Aduh, sudah sore kok ya ada-ada aja ya beh" Gerutu Rani
Tiba-tiba ada mobil hitam yang melintas, lalu menyalahkan lampu sen dan ikut menepi
Pintu kemudi terbuka. Dan keluarlah pria berperawakan tinggi dan gagah, menghampiri mereka
Semuanya menatap terkejut
"Dokter" Diucap bersamaan
"Kenapa beh" Tanyanya
Semuanya masih terkesima melihat Fatih dengan pakaian jas rapih, yang tidak seperti biasanya
"Kok dokter lewat sini"
"Iya beh, saya biasa lewat sini, kan mau pulang. Mobil babe kenapa?"
Babe belum menjawab
"Mogok?" Tanyanya lagi. Karena pertanyaan pertama, belum mendapatkan jawaban
"Eh bukan. Sepertinye, kanvas remnye kebaker"
"Oh, mungkin itu ngerem terus. Apa mau dibawa ke bengkel, beh"
"Tapi sore gini, mana ada bengkel buka dok"
"Sebentar" Fatih segera menelepon bengkel milik almarhum papi, yang sekarang menjadi sumber rejekinya Aaliya
Setelah beberapa menit, dua montir itu datang kelokasi
"Bawa kerumah aja mas, kalian sudah bawa alat-alatnya kan" Tanya Fatih pada salah satu montir
"Sudah pak dokter"
"Siap"
"Oiya, beh, Retno, bu. Yuk, masuk kemobilku. Kita mampir kerumah"
"Oh, memangnye rumah dokter deket" Tanya Babe
"Lumayan beh. Mobilnya babe juga mau dicek dirumah"
"Oh, wah.. Untung kenal orang-orang baik ya bu"
Rani mengangguk
"Ret, kamu depan neng" Ucap babe
"Sana nduk. Ibu belakang sama babe"
Setelah sudah siap semua, Fatih mulai mengemudi dengan pelan. Karena sudah masuk kekawasan perumahan, dimana ia tinggal sekarang
Karena jalan yang dilalui berbeda, Retno mulai protes "Kok lewat jalan sini om"
Fatih menoleh "Memangnya waktu nganterin Fatihah, Retno lewat jalan mana?"
"Ai lewat gang-gang sempit gitu om, kagak lewat jalan gede kek gini"
"Oh, berarti Retno lewat gang bakso"
"Oh beda ya om"
"Beda"
"Tapi nyampai"
"Nyampai. Tuh mobil babe"
Fatih mulai memarkirkan mobilnya disisi mobil Sifa
Fatih turun dari mobil "Mama baru pulang pak?" Tanya Fatih pada satpam yang jaga-jaga disana
"Inggih tuan, barusan"
"Oh"
Merekapun turun semua dari mobil, yang disambut senyum oleh para satpam
Kedua orangtua Retno dibuat tertegun dengan bangunan mewah yang bersih dan terawat
__ADS_1
"Sambil menunggu, mari masuk dulu beh, bu, Retno" Ajak Fatih yang sudah berjalan didepan
Merekapun masuk
"Wah, rumah dokter besar banget. kayak hotel aje" Bisik babe tapi masih terdengar oleh sekitar
Plok
Retno menabok lengan babe "Babe ih, jangan bikin malu"
Fatih tersenyum "Mari silakan duduk"
Dari dalam sudah terdengar berisik, dan berjalan kedepan "Eh, lah kok ada tamu" Sifa sedikit malu karena habis memarahi Fatihah "Sayang, bicara sendiri sama daddy ya, nih"
Fatih sudah menerima ponsel milik Sifa "Ada apa ma" Fatih masih bingung
"Fatihah, mau nginep katanya"
Selagi Fatih teleponan dengan Fatihah, Sifa berbincang-bincang dengan keluarga babe
"Kamu dimana?" Tanya Fatih pada Fatihah
"Daddy, aku ingin nginep dirumahnya papa Husayn, aku ingin tidur sama Sayra"
"Kamu nggak ingin pulang? Ini ada kawanmu loh"
"Siapa?"
"Sini Retno" Fatih melambaikan tangannya agar Retno duduk disampingnya
"Siapa dad"
Retno sudah duduk disamping Fatih
"Bentar. Coba, Fatihah disapa" Suruhnya pada Retno
"Fat"
"Daddy.. Kok suara daddy berubah perempuan. Siapa dad"
"Tebak dong siapa" Ucap Fatih, lalu menyuruh Retno untuk menyapanya lagi "Retno, sapa lagi"
"Hallo Fatihah.."
Fatihah mulai menebak "Kak Retno ya? Iya kak"
"Video call aja ya?" Ucap Fatih pada Retno
"Boleh, boleh om"
Wajah Fatihah sudah memenuhi layar, begitupun dengan wajah Retno
"Hallo... " Sapa Retno
Setelah hello say, akhirnya merekapun berhenti, dan menyerahkan ponselnya pada Fatih
"Sudah?" Ucap Fatih pada Retno
"Sudeh om. Kate Fatihah, bentar lagi pulang"
"Ya sudah, tunggu depan yuk" Ajak Fatih
Retno mengangguk, lalu berdiri.
Fatih memberi jalan, agar Retno berjalan didepannya
Dan ternyata, kedekatan mereka berdua, diperhatikan oleh para orang tua
"Ji, anak kamu sudah punya pacar belum?" Bisik Sifa to the point
"Yang ku tau sih, belon. Kenape emang bu bos"
"Anakku duda Ji. Kalau mereka dekat bagaimana?"
"Ye, kagek ape-ape. Terserah, ya bu ya" Jawab babe meminta dukungan Rani istrinya
Rani mengangguk
"Tapi anakku kan tua Ji. Mana pantes dapat prawan" Mulut Sifa langsung ia tutup. Sifa keceplosan
Ilham yang ada disampingnya cuma tersenyum, dan tidak menimpali
"Ya kalau jodoh, mau gimane lagi bu bos"
"Ah, aku takut kalau Retno nggak terima Ji, nolak"
Ilham berdiri "Dulu sampingnya papa juga terima. Padahal papa sudah tua" Lalu, Ilham berjalan sambil tersenyum kembali "Ya Ji, ya" Ilham meminta dukungan sama haji Kohar
Sifa malunya tidak ketulungan "Papa.. Kenapa kartunya dibuka didepan orang lain"
Maaf ya... Garing ya...
BERSAMBUNG.......
__ADS_1