
"Ya sudahlah. Mungkin sudah nasibku yang harus begini" Fatih mundur dan merebahkan tubuhnya disofa kembali
Fatih pura-pura tidur
Retno hanya melirik dan tidak ingin melarang
Suasana kamar begitu hening. Pasangan ini semuanya pura-pura tidur
Malam semakin larut. Hawa dingin semakin terasa. Tiba-tiba Fatih memeluknya dari belakang, dan mencari kehangatan disana
Retno yang merasa ada seseorang yang memeluk, hatinya semakin menghangat
"Biarkan mas begini. Badan mas pada sakit"
Retno menyikut seseorang yang merayu sampai larut "Belum juga aku gebukin. Dah bilang sakit semua" Kata Retno yang mulai mau menjawab
"Kaki mas nggak cukup disofa. Nekuk semua. Mas juga kedinginan"
Retno mengangkat tangan Fatih yang sedang memeluknya "Sudah malam. Tidur"
"Jadi, mas sudah dimaafin ya" Peluk Fatih semakin erat
Retno kembali melepas tangan suaminya yang semakin kuat "Jangan kuat-kuat. Aku sesak nafas"
"Ah, iya-iya" Fatih mengendurkan pelukannya "Main yuk" Ajaknya tanpa malu secuilpun
Retno menoleh kebelakang "Enak aja. Sudah larut, tidur"
Fatih kembali merayu "Eh, jangan lama kesalnya. Mas nggak bisa tidur, suwer" Fatih ingat jika dirinya dirayu Fatihah, kata suwer selalu untuk senjata
"Suwar suwer, kaya Fatihah aja"
Fatih tersenyum "Memang betul" Membuat Retno tidak tahan untuk mencubit suaminya itu
"Adddaah"
"Makanya diam. Tidur"
Fatih kembali beraksi. Tangan lincahnya sudah membuka piyama bagian atas
Netra Fatih melebar saat melihat dua gundukan yang membuatnya ingin menerkam saat ini juga
"Stop" Retno menghalanginya dengan tangan "Ini milik Fahri dan Fahmi. Mas nggak boleh ikutan nyedot"
"Nggak pa-pa. Dikit sayang. Mas ingin nyicipin dikit"
"Nggak bisa. Ntar habis"
"Ya udah, tutupin deh. Biarin mas lemas begini"
Retno melirik, lalu naik keatas tubuh suaminya. Kemudian, Retno membuka dadanya yang putih dan membesar "Buruan kalau mau. Tapi jangan diambil semuanya"
"Apanya??" Fatih bingung
''Ini, isep buru" Tunjuk dadanya yang ia dekat-dekatkan pada bibir suaminya
"Hah??" Mata Fatih melebar sempurna, dan selanjutnya bermain riang disana
Selagi Fatih hampir menenggelamkan sesuatu, Fahmi menangis
Retno langsung turun dan ingin mengangkat Fahmi
Fatih menarik tangan Retno "Cuci dulu bekas mas. Biar Fahmi, mas yang angkat"
-
__ADS_1
Retno sudah kembali dan menyu sui bayinya
Fatih hanya bersandar dikepala ranjang dengan lemas. Meskipun demikian, Fatih berusaha bersabar
Tangan Fatih menjulur dan mengusap kepala Fahmi "Sisain buat daddy ya? Daddy lemas"
"Dih, dah tua juga main rebutan"
Fatih tersenyum. Istrinya sudah banyak ngomong meskipun mengejeknya
Fatih kembali memegang kepalan tangan putranya yang menggenggam erat jarinya "Manis ya sayang"
Retno mencubit perut Fatih "Mas tadi beneran ngisap??"
"Iya dikit. Nggak ada sesendok"
"Kirain seliter"
"Mana ada. Ntar Fahmi njerit-jerit dong kehabisan"
-
Pagi harinya setelah pekerjaan rumah selesai, Retno duduk disofa sambil mainan ponsel
"Sayang, temanku hari ada yang nikah. Kasih duit dua juta dong. Dulu, waktu kita nikah, dia transfer mas satu juta. Sekarang mas harus ganti"
Retno tanpa menanggapi, tetapi langsung menstransfer uangnya satu juta duaratus ribu rupiah
Fatih langsung membuka ponselnya, dan ternyata uang transferan dari istrinya sejumlah itu
"Sayang. Kok cuma satu juta duaratus. Semua gaji mas kan masuk kerekeningmu"
"Mas, sini. Mana kertas"
"Buat apa?"
Fatih menurut saja dan sudah memberikan kertas beserta penanya untuk dikasihkan kepada Retno
Retno mulai mencoret-coret jumlah nominal "Nih, uang mas yang aku telan bulat-bulat tiap hari ya"
Fatih duduk disamping istrinya, sambil menyimak apa yang akan Retno terangkan
"Nih ya mas. Tabungan bulanan untuk pendidikan Fahri dan Fahmi. Tabungan untuk beli rumah, biar tidak diapartemen melulu. Transferan untuk Fatihah yang sedang KKN, biarpun tidak seberapa, aku transferin mas. KKN itu butuh duit untuk itu dan ini, bukan pakai daun. Bayar listrik, iuran sampah, keamanan, makan, diaper, su su formula. Belum lagi kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi. Nih, aku jumlahin"
Fatih menerima coretan pada kertas dari istrinya "Iya juga ya, pengeluarannya besar"
"Nggak pa-pa. Yang ngabisin kan aku mas. Kalau semua kawan mas nikah tiap hari, dan jumlah kondangannya ditambahin semua, besok-besok kita makan tanah aja mas. Irit"
Fatih tersenyum sambil menyenggol dengan sikunya "Ish, jangan gitu. Mas lakuin itu, karena mas nggak enak. Masa dikondangin sejuta pulangnya masih utuh"
"Memangnya, yang kondangan sama mas dari pihak bank semua ya. Makanya, mas nggak enak dan kasih lebihnya. Jangan begitu mas, riba. Itu bunga namanya"
"Terus. Kita nggak ngasih lebihnya gitu"
"Ya udah terserah mas. Aku transferin lagi ya? Dan besok, kita makan tanah dan air. Kita kan cinta tanah air. Ya nggak"
Tiba-tiba ponselnya Retno berbunyi
"Pinky. Ada apa"
"Angkat aja, siapa tau penting"
Retno menurut, apa kata suaminya
[Retno, hari minggu ini aku mau nikahan. Undanganmu udah aku kasih keibu kamu. Kata ibumu, suruh telpon sendiri biar kamu bisa hadir. Jangan lupa hadir ya. Ntar aku fotoin undangannya. Agar kamu tau alamat gedungnya. Jangan lupa ajak suamimu. Maaf, pas kamu nikahan, aku nggak hadir]
__ADS_1
"Iya mas. Penting"
Fatih menutup mulutnya, menyembunyikan senyumnya
"Ngapain dulu nggak hadir, sekarang ngasih undangan" Retno tertunduk lesuh
Dalam hati Fatih tertawa tapi tidak ditunjukkan. Bisa-bisa ngamuk si Retno
"Sudah, sabar. Kalau kita ada waktu, kita hadir. Kita kasih angpau aja berapa ratus. Bereskan, pajak muka biar nggak malu"
"Ih, mas ya. Selalu begitu"
"Lah, benerkan. Ganti makan disana"
"Mas, bukan itu. Kita itu wajibnya, yang pernah hadir dipernikahan kita aja yang didahuluin. Yang kawanku ini, ntar aja kalau sempet. Kenal aja kagak, giliran mau ada perlu, main inget. Kemarin kemana"
"Kemarin sayang sengaja nggak undang-undang kan?? Jadi mereka pada nggak tau, kalau sayang sudah menikah"
"Si Pinky sudah tau mas. Dia juga nyuruh aku, bawa suami kepernikahannya. Gimana, sih"
"Sudah jangan emosi. Ntar lekas tua"
"Biarin. Biar kita sama-sama tua sekalian"
"Dih istriku. Tadinya mas sudah merasa muda loh, waktu mau diajak kondangan. Tapi sekarang mendadak tua lagi karena istriku tidak mau menghadiri undangan tersebut"
"Ya udah, besok kita makan tanah"
"Hahahaha" Fatih tertawa ngakak
Retno melirik "Kenapa, senang begitu"
"Kamu sejak tadi ingin makan tanah melulu. Tanah juga mahal. Lihat didepan sana" Fatih menarik tangan Retno melongok jalanan dari arah balkon "Yang ada tanah disebelah mana? Semuanya tertutup beton"
"Tau. Kerumah ibu kalau gitu" Retno menoleh kearah suaminya "Katanya, aku mau diantar kerumah ibu. Mana janjinya"
"Mas kan belum makan" Ucapnya sambil senyum-senyum
"Belum makan bagaimana? Mas kan sudah sarapan"
"Tapi belum sarapan kamu"
"Kondangan dulu sana. Biar kenyang. Biar bisa berfikir jernih dan tidak mesum"
"Ck.. Malah fikirannya melayang kalau belum dikasih"
"Anaknya nangis" Retno buat alasan
"Kata siapa, enggak"
"Ya aku bangunin, biar emaknya tidak diganggu"
"Kok gitu sih"
"Udah ah, pintunya udah kugembok. Tidak menerima tamu"
"Kok gitu"
"Bebas dong. Kan punya-punyaku sendiri"
"Tapi itu rumahku sayang. Boleh ya, tengok dikit. Semalam kan gagal. Masa gagal melulu. Kangen"
"Damai sebentar, bilang kangen. Tapi kalau marah, nglirikpun nggak mau"
"Maaf" Fatih memeluk Retno erat "Mas hanya ingin, kau tidak terlibat urusan dengan maminya Fatihah. Mas tidak mau kamu terluka"
__ADS_1
BERSAMBUNG.....