
Retno sudah berhenti dari tangisnya, dan begitu sadar, ia segera menjauhkan tubuhnya dari dada Fatih
Retno sedikit malu. Ia sudah berani nempel-nempel pada orang lain, terlebih pada pria asing yang belum lama ia kenal
Fatih menarikkan tissue, lalu memberikannya pada Retno
Sekilas Retno menatap Fatih, lalu sedikit tersenyum
"Terima" Ucapnya sambil menyodorkan tissue tersebut
Retno menerima tissue tersebut dari tangan Fatih, lalu mengelapnya pada wajahnya
"Sudah mendingan?" Tanyanya sambil membenahi duduknya. Yaitu, sedikit membungkuk, dengan kedua siku tangannya ia taruh dikedua pahanya sebagai penopang
Retno kembali menatap Fatih lalu mengangguk
"Sudah makan?"
Retno menggelengkan kepalanya "Belum"
"Mau makan"
Retno sedikit bingung
Tiba-tiba Fatih memegang pundaknya "Makan sekarang?"
Retno sadar kembali dari lamunannya "Iya om, aye eh, aku lapar"
Fatih tersenyum "Mau makan diluar, sambil jalan-jalan? Atau, makan dirumah?"
Retno bingung lagi
"Aku ingin makan diluar. Tapi, tapi aku malu om"
"Malu ? Kenapa harus malu. Nanti aku temenin, mau?"
Retno kembali menatap Fatih dengan seksama
Fatih menaikkan kedua matanya, bermaksud untuk bertanya 'Mau atau tidak'
"Nanti, kalau orang ngejek aku bagaimana" Retno menundukkan kepalanya "Om"
"Aku lawan"
Retno membenahi pandangannya
Pandangan mereka bersirobok "Aku lapar, aku ingin makan diluar, aku ingin keluar, aku bosan dirumah. Tetapi aku takut, malu kalau orang-orang mengejek"
Fatih tersenyum dengan ucapan Retno yang tiba-tiba seperti kereta api "Aku jamin, mereka tidak akan berani mengejek kamu lagi"
Retno berdiri
Fatih mendongak karena Retno tiba-tiba berdiri "Jadi?"
"Iya"
"Baiklah, bersihkan wajahmu. Aku tunggu diluar" Fatih berdiri, lalu mengusap kepala Retno "Curly, aku tunggu di luar, ya" Ucapnya tersenyum, membuat Retno membalas senyuman, lalu mengangguk
Fatih keluar, lalu duduk dikursi tamu, yang tadi sudah ia duduki sebelum menemui Retno
Fatih sudah duduk dihadapan kedua orangtua Retno "Eng bu, beh. Retno katanya lapar. Bolehkah saya mengajaknya keluar? Untuk sekedar makan?" Izinnya
Babe dan Rani saling tatap, bermaksud meminta persetujuan dari masing-masing keduanya
"Gimana beh" Bisik Rani
"Terserah kamu bu"
Terlihat Retno sudah rapih berdiri dihadapan kedua orangtua nya
Rani berdiri "Kau mau kemana nduk?"
"Bu, aye bosen. Aye ingin makan diluar, boleh?"
Rani menatap Fatih, lalu menatap Retno kembali "Baiklah ibu izinkan. Tapi, habis makan langsung pulang ya" Rani mengabsen keduanya
"Iya" Dijawab bersamaan
Rani tersenyum
Retno Dan Fatihpun terlihat tersenyum, namun samar
"Kami izin dulu ya beh, bu" Ujar Fatih lagi
"Iya ati-ati"
Sambil membenahi jaketnya "Oh iya, aku kesini pakainya motor, nggak pa-pa?" Tanyanya pada Retno, masih ada di depan kedua orangtua Retno
"Nggak pa-pa"
Setelah izin, mereka pun keluar.
Fatih menaiki motor terlebih dahulu "Helmnya dipakai" Fatih memberi helm kepunyaan Fatihah tersebut, pada Retno
Retno memakainya. Setelah itu ia siap-siap untuk membonceng motor "Om, aku bonceng nya cewek apa cowok"
"Terserah. Enaknya kamu bagaimana"
Retno tidak menjawab, dia justru bonceng dengan model cewek "Eh bentar om, model cowok aja, takut jauh"
__ADS_1
"Boleh"
Setelah Retno benar-benar duduk, Fatih menengok kebelakang. Bermaksud mengecek siap atau belum
"Sudah siap"
"Siap om"
"Oke"
Fatih dengan pelan mengendarai motornya, agar lama sampai ditujuan "Kita mau makan dimana. Restoran?"
"Ih jangan om"
"Rumah makan Padang"
"Jangan om"
"Warteg?"
"Ih apalagi itu banyak bapak-bapak yang nongkrong disana om. Nggak mau"
"Apa dong. Mampir kerumah makan ayam dengkek, ayam poklek, ayam bebeg, ayam-ayaman"
"Nggak mau"
"Baiklah, aku carikan tempat yang nyaman. Kita makan dilapangan. Kalau perlu, kita makan ditengah-tengah lapangan, siap"
"Haha siap om"
"Ngebut ya.. "
"Iya..."
Sebelum Fatih ngebut, ia meraba tangan Retno, agar pegangan pada jaketnya. Maunya sih paha biar kerasa. Tapi takut dikatakan modus. Sudah seperti ini saja jantungnya sudah tak karuan
Kalau tidak malu, Fatih ingin menarik Retno, untuk duduk didepannya uh romantis.
"Pegangan yang erat"
"Siap om"
Seumur-umur, Fatih belum pernah naik motor berduaan sama cewek. Karena mantan istrinya, dulu tidak mau bonceng motor, takut debu pada naksir dan menempel diwajah
Fatih menurunkan gas motornya.
Dengan pelan, ia mengelilingi lapangan semacam alun-alun
Dibibir lapangan, banyak sekali warung lesehan yang menjajakan berbagai kuliner ringan hingga berat
"Mie ayam om"
"Belum"
"Lainnya"
"Ya udah, aku ingin makan nasi rames"
"Oke, kita parkir disebelah sana"
Setelah motor diparkirkan, Fatih tidak menggandeng Retno. Namun sesekali memegang pundak agar tidak dikatakan modus
Padahal inginnya menggandeng, tapi takut di bilang kurang ajar
Mereka sudah duduk diatas tikar, yang sudah disediakan disana
Retno memesan nasi rames dan teh hangat, sedangkan Fatih memesan sate ayam madura beserta kawannya yaitu lontong, beserta minumnya yaitu jeruk hangat
Mereka makan dengan lahap
Sesekali Fatih menatap Retno yang sedang makan nasi ramesnya. Lalu dengan hati yang berbunga, iapun kembali memakan lontongnya menggunakan tusuk sate yang ada satenya
Fatih menatap kembali Retno. Ternyata, diwaktu bersamaan, Retno pun menatapnya
Fatih melihat piring yang ada didepan Retno kinclong. Sedang piring didepannya, masih ada beberapa sate yang masih utuh
Fatih mengangkat piring, yang masih ada satenya "Mau??"
Retno malu-malu
"Atau mau pesan?"
"Enggak, aku mau satu"
"Boleh, dua juga boleh. Semua juga boleh, ini" Fatih mendorong piringnya kedepan Retno
"Terus, om tadi makan apa. Kok cuma dua tusuk yang om makan. Ntar om kurang"
"Nggak pa-pa aku udah kenyang kok, buat Retno aja"
Tobil tobil, kenyang darimana. Nyangkut dileher itu baru bener dok
Ngomong buat Retno, tapi tangannya masih ikut ambil sate yang sekarang pindah didepan Retno
Oh, gondoken kamu dok, makanan yang sudah dikasih diminta lagi
Retno sudah menghabiskan satu piring nasi rames, sate beberapa tusuk sisaan Fatih, satu gelas teh hangat, dan
"Om, aku masih laper"
__ADS_1
"Oh iya, Retno mau makan apalagi?"
"Aku ingin makan kebab om, terus ingin martabak juga, boleh nggak om"
"Boleh. Aku pesankan ya"
"Iya om"
Fatih memanggil pelayan yang menjual martabak dan kebab
Fatih menoleh pada Retno "Kebabnya dimakan disini?"
Retno mengangguk
"Kalau martabaknya. Dibungkus, apa makan disini?"
"Bungkus aja om. Aku suka laper kalau tengah malam. Yang manis aja"
Maksud Retno martabak yang manis, bukan martabak telor
"Sekalian yang spesial ya"
"Tapi perutku mana muat om"
"Ya, martabaknya buat babe, atau nggak buat ibu"
"Eng boleh deh, kalau om tidak keberatan"
"Boleh, asal jangan sama pedagangnya. Aku nggak bolehin"
"Ih, om"
Setelah kebab sudah didepan Retno, Retno kembali memakannya lagi.
"Om minumannya buat aku ya?"
"Ah iya, iya"
"Aku minum beneran om"
Fatih mengangguk "Iya"
Glek
Glek
Glek
"Alhamdulillah.. Kenyang om"
-
Hayo ngaku, kalian pasti pengin mendapatkan cowok bucin kan, alias selalu ada dan rela melakukan apapun buat kalian?
Well, cowok yang benar-benar sayang pada kita, tidak bakalan menilai kita hanya dari penampilan atau kepribadian yang buruk.
Mereka bahkan benar-benar menyayangi kita apa adanya, tanpa mempertanyakan. Bahkan, dia akan membuat kekurangan kita sebagai kelebihan.
-
Pagi harinya
Fatih menghadiri undangan seminar di universitas, dimana Fatihah menimbah ilmu disana
Sebagai salah satu penyakit yang mematikan, sudah sewajarnya penyakit jantung koroner mendapatkan perhatian ekstra. Untuk menyosialisasikan mengenai penyakit ini, universitas ternama di Jakarta, menggelar seminar kesehatan yang tertajuk
\=Penyakit Jantung Koroner, Deteksi dan Penanganannya\=
Dan seminar ini menghadirkan Dr Alfatih Putra Zayn SP JP sebagai pembicara.
Dokter yang berasal dari Rumah Sakit Semoga Cepat Sembuh ini, menjelaskan, bahwa jantung koroner merupakan penyakit jantung yang diindikasi dengan penyempitan atau penyumbatan pada organ pembuluh darah koroner.
Akibatnya, darah yang seharusnya dialirkan dari jantung ke otot-otot jantung menjadi terhambat.
Tentunya, kondisi ini akan mengganggu kerja jantung yang memiliki tugas untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
"Lebih parahnya lagi, kondisi ini dapat menyebabkan kematian "ungkap dokter yang akrab disapa Fatih ini.
Dokter Fatih menyebutkan, faktor-faktor penyebab seseorang dapat terserang penyakit ini karena, tingginya kolesterol dalam darah, diabetes, tekanan darah tinggi /hipertensi, kelebihan berat badan /obesitas, dan pola hidup yang tidak sehat. Selain itu, ada faktor lainnya yang tidak bisa dihindari yaitu faktor genetika, atau faktor keturunan.
Pola makan yang tidak sehat, seperti seringnya mengonsumsi fastfood (makanan instan) dan jarang berolahraga, merupakan pemicu timbulnya garis lemak di pembuluh darah. Jika kondisi tersebut dibiarkan, lemak yang terus-menerus menumpuk akan menjadi plak di pembuluh darah.
"Oleh karena itu, siapa pun bisa terkena penyakit ini tanpa melihat umur" Ujar dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah ini.
"Melakukan olahraga setidaknya 2-5 kali dalam seminggu dan istirahat yang cukup akan meminimalisir seseorang untuk terkena penyakit jantung koroner" Imbuh Fatih
Pada akhir materi, dokter Fatih berpesan, apabila ada di antara audiens telah terkena penyakit jantung koroner, sebaiknya minum obat secara rutin sesuai arahan dokter, tidak panik dan selalu rileks agar penyakit ini nantinya tidak mengancam jiwa.
Semoga bermanfaat
1.388 kata ya gengs... Jangan lupa pencet tombol penyemangat...
BERSAMBUNG.....
__ADS_1