Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Cemburu


__ADS_3

Fatih merebahkan badannya disamping Retno, setelah mencium kedua putranya yang sudah terlelap


"Aku sudah tua ternyata" Ucap Fatih sambil menekuk kedua lengannya untuk bantalan dikepalanya


Retno berbalik dan memeluknya "Kenapa? Nyesel sudah tua?"


Fatih melirik Retno "Enggak. Nggak percaya aja. Kemarin-kemarin, gara-gara malam itu membawamu keluar makan, aku diserbu oleh keluargaku, untuk segera melamarmu, dan disuruh menikah cepat. Eh, sekarang, mas akan segera punya mantu, dengan cepat pula"


Retno tertawa "Aku juga ikut tua ya mas. Nggak terasa. Tau-tau dah mau punya mantu juga"


Fatih tersenyum menatap Retno, lalu memeluknya "Nyesel nggak mempunyai suami tua?" Tanya Fatih yang belum melepaskan istrinya


Retno menatap bola mata suaminya yang sudah menyipit "Nyesel"


Fatih perlahan melepaskan tubuh Retno


Retno segera merekatkan lagi jemari suaminya biar tetap mendekapnya "Eh, eh. Kenapa dilepas. Aku kan belum selesai ngomong"


Fatih menurut pasrah, walaupun sedikit sakit ketika istrinya bilang nyesel


"Mas itu belum tua. Tapi, dewasa. Entahlah, kenapa aku mau digoda oleh om-om seperti om Fatih hihi" Retno terkekeh sendiri


"Om-om senang dong"


"He emz. Aku senang sama om-om seperti mas. Nyaman aja gitu"


"Memangnya pacarmu dulu juga om-om?"


"Heh??" Retno menjauhi Fatih "Mana pernah aku pacaran mas. Babe kan melarang"


Hati Fatih mulai mencair. Ternyata dirinya yang pertama bagi istrinya


Fatih kembali memeluk istrinya erat, lalu menghujani ciuman pada pelipis istrinya


"Mas" Panggil Retno


"Emm" Jawabnya


Retno sedikit mengurai tangan suaminya yang memeluk dirinya dengan kuat, tetapi belum lepas "Eng, kira-kira, ntar yang duduk dipelaminan saat Fatihah menikah, pasti mas sama mbak Viviana. Betul, kan?" Ucapnya mulai sendu


Fatih merenggangkan dan mengurai peluk pada istrinya "Cemburu ??"


"Eng" Retno belum bisa menjawab


Fatih kembali menyenggol Retno dengan lengannya "Ayo, bilang"


"Hehe, sedikit" Ucapnya belum begitu memudar wajah sendu yang menghiasi wajah ayu istrinya


Fatih mengecup bibir sang istri, sedang tangannya berada diatas perut Retno yang sudah kempis "Kenapa? Kan mas nggak pernah bertemu"


Retno menatap lekat suaminya tak ada kebohongan, lalu memegang rahang suaminya "Kira-kira, gimana ya mas kabarnya" Cemburu, tetapi memikirkannya


Fatih mengurai peluk, lalu duduk dan bersandar "Kok tiba-tiba sayang memikirkannya. Jangan banyak fikiran. Ntar pusing"


Retno ikut duduk dan bersandar pada bahu suaminya "Mas, bagaimanapun, Mb Vivi adalah ibu kandung Fatihah. Sebelum Fatihah menikah, kita harus mencari keberadaannya, dan memberi tahu padanya"


Fatih menghela nafas "Sebenarnya malas"

__ADS_1


Retno mendongak pada suaminya "Jangan terlalu dendam, nggak baik"


Fatih meliriknya sekejab, lalu menatap lurus kedepan "Jika maminya Fatihah kangen putrinya, harusnya ia berkunjung kesini. Bukan diam-diaman seperti ini. Dia kan tau rumah mama papa. Kalau mas, mana tau dia tinggal dimana?"


"Ya kita cari mas"


"Jakarta luas sayang"


"Kita cari gerombolan orang yang berseragam biru aja, waktu kita bertemu dulu"


Tiba-tiba Retno teringat baby Elsa "Ah, iya mas" Sambungnya


"Apa?"


Retno langsung terdiam "Ah, nggak pa-pa Mas, lupa, nggak jadi" Retno sedikit memutar otak


'Gimana dengan Elsa ya. Mbak Vivi... Kamu dimana'


"Hei, kenapa bengong" Tanyanya pada istrinya


"Ah, iya ya, mas. Kita kok jarang bertemu"


"Maksudmu?"


"Kita jarang bertemu seragam biru lagi. Kita tidak bertemu mbak Vivi lagi"


Fatih manggut-manggut "Semoga dipernikahan Fatihah, maminya Fatihah sudah berjodoh dengan orang yang lebih baik dariku. Jadi, kita tetap bahagia berpasangan, dan dia juga bahagia bersama pasangan"


Retno menatap suaminya dengan seksama "Kenapa mas bicara seperti itu. Bagiku, mas pria dewasa yang baik, yang tidak ada basa-basinya. Kalau bilang A ya A, nggak melenceng ke B"


Fatih menoleh dan mencium bibir sang istri "Gitu ya" Kemudian turun dari kasur dan memindahkan sikembar ke ranjang bayi


Fatih sudah memindahkan baby Fahri. Dan sekarang ditangannya, masih ada baby Fahmi yang akan ia letakkan diranjang bayi


Tiba-tiba Retno bergelayut dipunggung Fatih


"Eng, mas"


Fatih sudah meletakkan baby Fahmi, tapi masih membungkuk karena ada istrinya yang sudah menumpuk diatasnya "Apa?" Liriknya sambil tersenyum


"Dalam lubuk hati mas yang paling dalam, mas masih cinta nggak sama.. "


"Sudah cukup. Jangan diteruskan" Fatih berdiri tegak dan memegang istrinya yang bergelayut seperti menggendong dipunggung.


Fatih faham, istrinya sedang cemburu padanya "Yang jelas, pernikahan kita, mas menginginkan kebersamaan kita hingga menua bersama seperti papa dan mama"


"Jadi?"


Fatih menurunkan Retno dan memutar tubuhnya agar saling berhadapan


Mereka bertatapan dan sangat dekat


"Jangan mikirin mantan, ya. Meskipun kata sayang kita harus mencari maminya Fatihah, bukan berarti mas akan balikan sama dia. Mas fikir, idemu bijaksana juga. Apalagi Fatihah pernah ia lahirkan ke dunia. Mas tidak mau dicap egois"


Retno terdiam


Hati kecilnya sedikit tercubit ketika suaminya bilang melahirkan ke dunia

__ADS_1


Retno tertunduk dan terdiam kembali


Fatih mengangkat dagu Retno


Cup


Fatih mencium bibir Retno "Kenapa ? Ucapan mas ada yang menyinggung perasaanmu?"


Retno geleng-geleng


Mulutnya berkata tidak, tetapi hatinya berbohong


Fatih segera menarik istrinya untuk duduk dipangkuannya


Ada banyak cara merayu istri, agar hatinya bisa luluh dan makin mencintai suami.


Para suami pastinya harus menguasai kemampuan untuk merayu istri, tidak melulu soal percintaan di atas ranjang, tapi juga untuk menguatkan ikatan emosional mereka.


Fatih mulai berbicara lirih dan lembut, seperti kebiasaannya. Ia tidak suka berteriak kecuali dengan Fatihah karena keterlaluan


Dengan nada suara yang rendah penuh kelembutan, Retno sudah terhipnotis dan menjadi prifat penuh kemesraan


Atmosfer romantis pun lebih mudah tercipta.


Fatih mulai membisikkan kata-kata pujian di telinga sang istri


"Cemburupun istriku tetap cantik"


"Siapa yang cemburu" Elaknya, padahal pipinya langsung bersemu merah karena tersipu


Fatih menurunkan Retno agar duduk sendiri, lalu mendekatkan wajahnya pada Retno tanpa menyentuhnya sama sekali


Tatapan seperti itu membuat Retno gelagapan "Mas kenapa sih, menatapku begitu, ngeri tau"


"Begini ngeri?"


Retno berdiri lalu pindah kekasur "Kebalikannya" Kemudian menutup seluruh tubuhnya


Fatih menyusul, lalu membuka selimut yang menutupi tubuh istrinya "Mas masih kangen. Malam ini, tempur yuk"


Retno mendorong tubuh suaminya "Ish, aku belum ber KB. Ntar kalau kebobolan bagaimana?"


"Mas sudah siapin pengaman. KB nya besok, ya? Ini sudah malam. Rumah sakit tutup"


"Nggak ada bukunya rumah sakit tutup, mas. Itu tulisan 24 jam. Sekarang sudah diganti aturannya?"


"Maksudnya per KB an, sayang" Fatih mulai kalap dan segera memasang alat pengamannya


Retno duduk menatap suaminya yang sedang memasang sesuatu "Jadi, mas bawa alat itu kemari?"


Fatih mengangguk saja


"Tapi sakit mas, nggak enak"


"Nggak enaknya bukan karena ini. Tetapi karena keadaan ibu yang habis melahirkan itu, jalannya masih kering, makanya mas basahin. Biar nggak sakit"


Aduh maaf ya... Jangan dibikin panas....

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2