
Fatih berbelok menatap Retno yang sudah duduk diatas ranjang, setelah tadi sudah membersihkan diri setelah pertempuran
Fatih duduk disamping Retno yang sudah berganti kostum
Tangan Fatih memegang kepala Retno yang sudah ada lilitan handuk yang menempel dikepala
Fatih melepasnya "Kok buru-buru mandi. Nggak nambah dong"
"Nggak betah mas, lengket"
Fatih mengangkat rambut Retno kehidungnya, lalu menghirupnya hingga bau wangi sampo itu tercium "Wangi. Nggak ada hairdryer nya ya?"
Retno geleng-geleng "Enggak"
-
Sementara ditempat lain
Sayra sibuk dengan dunia barunya, yaitu membantu memegang kendali perusahaan milik opahnya
Perusahaan ini sedikit kolabs karena marketing yang mereka miliki keluar karena pemecatan sepihak dari perusahaan ini
Disiang hari dilain waktu
Sayra mendatangi supermarket terbesar yang pernah menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan milik sang opa
Entah ada apa dan mengapa, supermarket ini memutuskan keluar dari kerja sama itu beberapa tahun silam
Siang itu, Sayra terduduk dengan marketing-marketing lain dari perusahaan lain yang sudah berjanjian untuk bertemu dengan pemilik perusahaan niaga ini
Tiba-tiba
Ada seorang pria mendatangi dengan memegang dadanya kesakitan "Tolong. Aku sangat tidak nyaman. Bisakah membantuku?" Ucapnya pada wanita muda yang duduk disebelah ujung sisi kiri Sayra
Wanita itu berdiri dengan tatapan sinisnya "Eh eh eh, Aku kesini sedang menunggu orang penting dengan harap-harap cemas. Kesana!! Aku tidak kenal dirimu. Untuk apa aku harus membantumu" Usirnya dengan sinis
Sang pemudapun berpindah pada gadis lain lagi, yang duduk ditengah-tengah antara gadis cantik tadi dengan Sayra
"Aku mohon padamu, aku benar-benar sakit" Mohonnya lagi pada gadis yang duduk ditengah-tengah
Gadis itupun berdiri "Kesana kamu !! Kita semua sedang memohon kerjasama dengan perusahaan ini. Aku sedang menanti bos disini. Kenapa aku harus membantumu!!" Bentaknya dengan sinis pula
Sayra ikut berdiri "Mbak, Mbak. Jangan kasar dengan orang yang sedang membutuhkan uluran tangan kita. Mas ini sedang sakit. Jika mbak tidak bisa membantunya, jangan membentaknya"
Sayra mengangkat tangan pria tersebut kepundaknya, agar Sayra mudah memapahnya "Duduklah dulu"
Setelah pria itu dibantu untuk duduk, Sayra mengambilkan air mineral miliknya yang sudah ia minum sedikit sebelumnya "Anda tidak apa-apa?" Dengan ragu, Sayra membuka tutup botol tersebut "Minumlah, tapi ini bekas saya"
Pria itu mengangguk "Tidak masalah" Kemudian meminumnya untuk menenangkan sedikit rasa sakit yang ia derita barusan
__ADS_1
Ketika Sayra sedang membantu, pundak Sayra dihempaskan oleh gadis tadi yang membentak pria yang sedang dibantu oleh Sayra
"Hei !! Kamu jangan campuri urusan orang. Nanti kamu yang disalahkan"
"Tidak apa mbak. Menyelamatkan nyawa orang lain yang membutuhkan, itu lebih penting daripada uang sekalipun" Tunjuk Sayra pada paper bag miliknya yang ada dibawah kursi yang barusan Sayra tempati
Tanpa sadar, Sayra memegang tangan pria tadi yang masih memegang dadanya "Mas, apa jantung mas yang sakit ?" Tanyanya tulus
Pria tadi mengangguk dan meringis kesakitan
"Baiklah, baiklah. Tunggu dulu" Sayra segera menelepon seorang ahlinya. Siapa lagi kalau bukan omnya yaitu papa Fatih
[Iya Sayra. Ada apa menghubungi papa. Opamu Sakit lagi] -Fatih
"Tidak pa. Ini ada seseorang butuh bantuan. Tolong pa, bantu aku membawanya kesana. Aku tidak kuat"
[Baiklah. Kamu Dimana ?]
"Aku disupermarket Takasimura, depan rumah sakit. Tapi aku bingung pa. Aku tidak kuat, berat" Ucapnya sedikit pelan, takut sang pemuda tadi tersinggung jika mendengarkan percakapan tadi
Sayra menatap pemuda tadi
"Ssssssss" Pria tadi terus mendesis kesakitan dengan tangan yang berada didadanya
"Sebentar ya mas, semoga bantuan segera datang. Sabar mas" Sayra kembali pada ponselnya "Papa, bisa kan datang kemari"
[Iya, iya. Papa sudah menyuruh perawat untuk menjemputnya]
Sementara dua gadis tadi yang melihat Sayra dengan tatapan sinis "Apa dia bodoh" Ucapnya pada gadis satunya (Bergunjing)
"Tau. Otaknya kongslet kali. Tidak mau bahas kontrak. Eh, malah bantu orang yang tidak dikenali"
"Benar. Yuk kita tunggu disana saja. Jangan urusi dia. Cari pusing"
"Iya ayo kita pindah"
Kemudian, mereka berdua melintasi Sayra yang sibuk mengurusi pemuda tadi
"Kamu tidak usah mengurusku. Masuklah" Usir pemuda tadi kepada Sayra
"Tidak apa. Aku akan antar mas kerumah sakit. Sabar ya, kita tunggu jemputan dari sana"
"Aku sudah sangat baik. Sebaiknya, kamu masuk" Usirnya lagi
Sayra berdiri bingung
"Aku sudah baik. Aku hanya sesak sedikit. Sana masuk" Usirnya entah sudah berapa kali
"Yang benar. Kamu beneran tidak apa-apa?" Tanya Sayra khawatir
__ADS_1
"Tidak apa. Cepat masuk !!!" Bentaknya membuat Sayra terpaku
"Tet tapi. Pihak rumah sakit akan segera datang untuk menolongmu"
Tidak lama kemudian, bantuan dari rumah sakit datang untuk membawa pemuda itu. Dan Sayra, tetap mengikutinya hingga kerumah sakit
-
Setelah diperiksa, pemuda tadi tersadar
Fatih tersenyum "Kenapa lagi, obatnya tidak diminum lagi?" Ucap Fatih pada pemuda itu, yang ternyata adalah pasiennya
"Maaf dok, akhir-akhir ini saya sedikit mengabaikan kesehatan" Jawabnya membuat Sayra mengerutkan dahi
"Papa kenal dengan mas ini?" Tunjuk Sayra pada pemuda yang ditolongnya
Fatih mengangguk "Kenzo namanya. Dia pasien papa. Yang bandelnya tiada tara"
"Papa??" Kenzo mulai bingung "Kamu putrinya pak dokter?" Tanyanya pada Sayra
Sayra dan Fatih saling tatap
Sayra segera memencet tangan Fatih agar tidak menjawabnya. Tetapi netra Kenzo, menatapnya dengan lucu karena Sayra sedikit mencengkram tangan dokter yang selama ini merawatnya
"Bisa tidak, bisa juga iya" Ucapnya sambil mengabsen dua pria itu bergantian "Kalau begitu, tugasku sudah selesai. Aku akan kembali kesana" Tunjuknya pada supermarket yang ada diseberang jalan "Papa, aku pergi kesana dulu. Siapa tau masih rejeki" Pamitnya pada Fatih
Sayra segera menyambar tangan Fatih untuk dicium, kemudian berlari kecil keluar dari ruangan ini
Fatih geleng-geleng kepala "Dia Sayra. Keponakan saya"
"Oh"
"Iya"
-
Selang beberapa puluh menit
Dari dalam ruangan, seorang pemuda tadi masuk, dimana Sayra dan kedua gadis yang membentak Kenzo ada disana
Perlahan Kenzo duduk dikursi kebesarannya
Ketiga gadis itu melongo menatap Kenzo, termasuk Sayra
Kedua gadis tadi, kembali bergunjing "Kenapa dia? Kok dia masuk keruangan ini" Tunjuknya pada Kenzo dengan tatapan remeh
"Tau. Siapa dia. Palingan hanya sekedar ajudan kali" Masih gadis tadi yang meremehkan Kenzo
Sayra langsung menatap papan nama yang berada diatas meja Direktur, yang sudah ada Kenzo disana "Kenzo Abdullah?"
__ADS_1
Sayra menatap Kenzo 'Jadi, dia itu Direktur. Mati aku... Dia minum bekas air mineralku. Wah kacau. Berantakan hidupku oh Tuhan...' Sayra kaku tak bernafas
Fikiran Sayra sudah buntu. Kerjasama yang ingin ia sambung lagi, pupus sudah karena perlakuannya tadi