Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Salah Pakai


__ADS_3

Fatih sudah merebahkan tubuh istrinya. Mereka saling tatap dan sangat dekat


"Mas" Panggil Retno


"Hmm" Fatih menatap istrinya yang sudah beberapa hari ini tidak ia tatap seintens ini


Kemudian Fatih kembali mencum bu, dan memulai melepas bajunya dan juga baju istrinya


Retno mendorong Fatih agar ada jarak dan tidak terlalu berat


Fatih memegang tangan Retno yang sedikit mendorongnya "Kenapa?"


"Mas janji ya, jangan bentak-bentak aku lagi. Kalau mas lakuin itu lagi, aku nggak mau ngasih beneran" Retno menutupi jimatnya menggunakan tangan


Fatih menarik tangan Retno yang menutupi benda tersebut, dan menindihnya kembali "Maafkan mas, ya sayang. Mas janji, nggak akan ngulangi itu lagi"


"Janji ?"


"Iya, janji" Fatih kemudian membelai kepala dan rambut istrinya itu


"Tapi mas, boleh nggak aku nanya sesuatu" Retno menatapnya dengan penuh harap


"Boleh, tanya aja"


Retno menenggelamkan wajahnya pada dada suaminya, lalu menatapnya kembali walaupun sedikit takut "Mas pernah memarahi mbak Vivi?"


Telinga Fatih terasa panas jika cum buannya diselingi nama mantan


Fatih mengangkat tubuhnya, tetapi masih ada tangan Retno yang masih memegang perutnya agar tidak menjauh "Tidak sebelumnya"


"Sebelumnya?" Retno sedikit melepas tubuh suaminya. Iya sedikit kecewa, dan Fatih tau itu


Fatih mengangguk "Ya. Yang mas ingat, mas hanya sekali memarahi dia. Karena mas tidak tahan lagi dengan perlakuannya"


"Apa itu"


"Dia menolak berlibur dengan keluarga besar papa. Dan akhirnya, perceraian itupun terjadi"


Retno mendorong pelan suaminya "Jadi, mas membentakku artinya? Mas marah besar padaku?" Retno sudah berkaca-kaca


Fatih meraup Retno kedalam dadanya kembali "Beda sayang. Mas membentakmu, ada alasan lain. Yaitu mas tidak ingin kamu disakiti oleh orang lain. Terlebih itu maminya Fatihah. Mas tidak rela" Jelasnya jujur


Retno mulai melunak dari bahasa tubuhnya


"Sekali lagi, mas hanya ingin memberi pelajaran padamu, agar kamu tidak melakukan kesalahan itu. Mas pernah bilang, urusan dengan maminya Fatihah, mas tidak terima. Mas tidak ingin sayang disakiti olehnya. Kalau mas ingin meninggalkanmu, itu tidak mungkin. Jika ini terjadi, mas lebih baik menduda seumur hidup. Mas malu"


Fatih menatap Retno kembali "Mas tidak ingin kehilangan wanita yang pengertian sepertimu. Mas tidak ingin kawin cerai lagi"


"Maksud mas"


"Rumah tangga itu saling bekerjasama dan saling mendukung. Mas cinta sama kamu, kamupun begitu kan?" Fatih kembali mengusap wajah istrinya "Mas, tidak ingin menjadi duda lagi. Maafkan mas ya, jika mas terlalu egois"


Retno mengambil tangan suaminya, lalu menciumnya "Mas, aku yang egois ya?"


Fatih tersenyum, lalu menggeleng "Enggak. Justru mas yang merasa seperti itu"


Retno sudah tidak tahan dengan mimik wajah suaminya, yang sudah berkali-kali mengungkapkan kesalahannya


Fatih mengadukan keningnya pada kening istrinya, lalu menatapnya kembali "Semua keluarga mas nyaman sama kamu. Papa dan mama selalu memuji kebaikanmu. Dari perilakumu, masakanmu, dan banyak lagi. Mas justru yang tersingkir dibanding kamu. Mas seperti anak tiri"


Retno tersenyum, lalu membelai rambut poni suaminya yang menghalangi wajah

__ADS_1


"Ish, kapan kita bercinta. Dari tadi ngomongin orang melulu" Protes Fatih


"Ih, mas. Inget aja kalau soal begituan" Retno melengos


Fatih menangkup dagu Retno agar menatapnya "Tanggung kan, kita sudah telan jang"


"Iya ya" Ucap Retno sudah ikhlas dan siap lahir bathin


Setelah pergumulannya hingga dibolak balik seperti goreng pisang, Fatih memeluk Retno dari arah belakang


"Mas, kakiku capek" Keluh Retno sehabis diguncang berkali-kali


"Ah iya, iya. Sini mas pijat sebentar"


Fatih meluruskan kaki Retno sekaligus memijat paha istrinya yang katanya capek


"Mas lama banget. Kalau ibu dengar decitan ranjang, gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana. Kita pura-pura aja tidak tau"


"Ih, mas menyebalkan"


Fatih tersenyum "Habis, beberapa malam ini puasa. Tidak ada yang ngangetin" Godanya


"Memangnya makanan?" Ucapnya cemberut


"Lebih enakan ini"


"Ish. Kumat"


"Hahaha"


-


"Mas" Retno terbangun dari ngantuknya karena kelelahan


Fatihpun langsung terduduk "Ada apa??"


"Nduk-nduk" Suara ibu tiba-tiba terdengar dari luar pintu kamar mereka


Retno menunjuk pintu "Ibu mas, gimana ini" Ucapnya mulai panik


Fatih masih mencari CD nya yang ia lempar kesembarang tempat


"Mas, mas. Buruan pakai bajunya aduh...." Retno sudah panik. Apalagi mendengar suara bayi yang menangis disana


"Sebentar-sebentar" Jawab Fatih sambil sibuk mencari baju. Tapi nemunya baju milik Retno "Bajumu juga dipakai sayang" Ujar Fatih kemudian


"Aku ketoilet aja mas, sekalian bersih-bersih" Retno merebut bajunya, tetapi tanpa ****** ********


"Yaudah sana"


Fatih dengan cepat memakai ****** ***** "Ih, ini celana sesak amat sih" Fatih segera memakai kaus serta celana pendek


Ketukan itu terdengar lagi


"Retno, Fahmi nangis nduk. Udah ibu su suin, tapi malah nangis kejer" Ucap ibu lagi karena belum ada jawaban dari dalam


"Iya bentar bu" Jawab Fatih sambil cenonoran menyemprotkan obat nyamuk agar bau percintaannya sedikit menghilang


Fatih membuka pintunya "Iya bu, sini sayang" Fatih menjawab ibu mertuanya, sekaligus mengambil Fahmi dari tangan ibu mertuanya "Haus ya, bentar ya... Mami lagi dikamar mandi" Ucapnya membuat ibu mertuanya sedikit melirik kearah tempat tidur

__ADS_1


Ibu Rani melihat ada sesuatu yang tertinggal diatas tempat tidur


'Aku pasti ganggu kali ya. Mosok, menantuku nggak pakai ****** *****. Bau-baunya sih, mereka habis tempur' Ibu Rani menggeleng-gelengkan kepalanya agar pikiran kotor dari otaknya keluar


"Ya sudah. Ibu tinggal ya?" Pamit ibu Rani.


"Eng, bu. Fahrinya bagaimana?"


"Dia aman. Tadi sudah mimi satu botol. Sekarang tidur lagi"


"Oh"


"Ya sudah. Biar Fahri bobo dengan engkong dan ibu"


"Oh.. Iya, ya bu" Kemudian, bu Ranipun berlalu


-


Fatih masih menggendong Fahmi yang sudah menangis karena kehausan


Retno sudah segar dan mengambil Fahmi dari tangan sang suami


Selagi memberikan asinya pada putranya. Retno mulai fokus pada CD pria yang masih tercecer disamping bantal


"Mas. Mas nggak pakai CD?"


"Pakai"


"Terus. Itu CD milik siapa?" Tunjuk Retno pada benda yang teronggok bebas disana


Fatih menoleh "Hah, iya itu punyaku"


"Terus. Mas pakai apa? Ambil baru"


Fatih menggeleng "Enggak. Terus, aku pakai CD milik siapa?"


"Mana aku tau. Coba buka. Siapa tau CD milik babe"


"Ah, nggak mungkin"


Fatih memplorotkan celananya


Retno menatap ponganya "Mas. It's celana dalamku. Kenapa dipakai"


"Hah, masa sih" Fatih memperhatikan dengan seksama "Lah iya. Pantesan kecil"


"Kenapa dipaksa pakai. Kan kecil"


"Mana mas tau. Warna CD nya saja hampir sama kok. Kalau warnanya terang, mas nggak bakalan pakai"


"Ahahaha" Retno tertawa ngakak


"Mana kupaksakan tadi"


"Ahahaha" Retno tertawa sampai terkencing-kencing, membuat Fahmi kembali menangis karena kaget


Fatih segera kekamar mandi, dan melepas celananya yang susahnya tiada tara "Sayang, kesini deh"


Retno masih tersenyum "Ada apa mas"


"Gunting aja ya? Susah ini dilepasnya"

__ADS_1


Retno tidak bisa menjawab. Melainkan tertawa terpingkal-pingkal "Lucu mas, rata. Hahaha"


BERSAMBUNG.....


__ADS_2