
Malam harinya
Mereka sudah siap untuk bercinta, tiba-tiba Retno ingat sesuatu
"Mas.."
Fatih yang sedang mencum bu, tiba-tiba berhenti "Ada apa"
"Nggak. Aku hanya ingin bilang, laundry nya ramai"
"Oh.. " Fatih kembali beraksi
"Sepertinya, Sri dan ibunya sedikit kuwalahan"
"Emm" Fatih terus menghentak-hentakkan pedangnya pada tempatnya
"Jadi..Aww.. Aww.." Nafas Retno ter engah-engah karena hentakan
"Jadi apa emm"
"Aku ajak.. Aww"
"Ajak siapa akh"
"Bibi Juunnnn... Aww"
"Akkkk"
"Untuk membantu aww.. Akk"
Fatih terus bersemangat karena berhasil membuat istrinya mengerang
"Apa akh.."
"Kerja dilaundry......." Teriaknya
Setelah pelepasan, Fatih segera menarik tissue andalannya
Sambil mengelap, Fatih mencium kening Retno "Tadi ngomong apa. Mas kurang jelas"
Retno mendorong Fatih "Mas sih, nggak ndengerin" Ucapnya sambil berlari ke kamar mandi
Retno segera mengguyur badannya setelah beradu kaki
Fatih juga sama. Mandi besar dimalam hari.
Mereka tidak ingin tidur, masih memiliki hadas besar. Mereka Takut, jika sewaktu-waktu Tuhan mencabut nyawanya, mereka dalam keadaan bersih
-
Mereka berdua sudah naik keatas ranjang kembali
Mereka sudah sama-sama rebahan
Badan enak, nyaman. Membuat mereka merasa ngantuk, tapi Fatih penasaran
"Tadi bilang, laundry rame?"
"Iya. Sri kuwalahan. Apalagi habis setrika, ia mengantarkan bajunya kerumah sakit"
"Emm"
"Ibu Erna hanya bisa bantu mencuci, karena bu Er, masih kurang vit. Ya.. sambil jaga gitu. Siapa tau ada orang yang nyasar ingin melaundry baju kemari"
"Apa, ada yang nyasar?" Ucapnya sambil tersenyum menggoda
"Ada. Orang bule katanya" Retno melirik suaminya yang senyam-senyum dihadapannya "Kenapa mas senyam-senyum"
"Nggak. Nggak nyangka aja, sayang dan kawannya bisa menjalankan bisnis ini. Apa sudah perlu tambahan karyawan?"
__ADS_1
"Ah.. Kebetulan mas ngomong. Pengasuh bayinya mantan istrinya mas... " Retno menusuk-nusuk dada Fatih menggunakan jari
Fatih langsung terdiam
"Aku tarik untuk kerja disini"
Wajah Fatih sudah berubah. Tadinya senyam-senyum sekarang redup "Kok bisa. Terus, bayinya ditinggalkan dirumah mama?!" Ucapannya agak meninggi
Retno memeluk Fatih. Dia tidak tau kemarahan Fatih sudah dipuncak. Yang Retno tau hanya kesal tingkat rendah "Ya, diajak kemari. Gimana?"
"Kok bisa??"
Retno mengurai pelukan "Ya bisa. Mak Jun, butuh uang. Kalau dia tidak kutarik sekarang, aku bantunya gimana. Lewat apa. Terus, kita kan memang butuh tenaga super"
"Tapi kan nggak perlu bawa bayinya segala"
"Terus, bayinya mau ditaruh dimana?"
"Ya di panti asuhan, kan bisa"
"Terus, kalau diminta orang" Retno melirik suaminya, lalu melanjutkan ceritanya kembali "Mak Jun, itu sudah kepalang sayang sama sibayi itu mas. Dia ingin membesarkannya"
"Ingin membesarkan kok bawa kerumah mama. Aneh"
"Dia itu bingung, pulang nggak punya ongkos, makan nggak bisa. Tapi kasihan sama bayinya. Ahhhhh.. " Retno agak kesal. Karena suaminya, sepertinya tidak mendukung
"Apa ah"
"Berarti, keluarga mas itu keluarga yang terkenal baik. Jika tidak, mak Jun tidak akan susah-susah mencari alamat mama"
"Pinter ya cari alasan"
"Bukan gitu mas. Orang kalau sudah terlanjur sayang itu, mereka akan melakukan apapun. Mas tau nggak. Tadi siang itu, papa dan mama bingung. Inginnya mama, biar anak ini tinggal disini. Tetapi berbeda dengan papa. Papa ingin anak tersebut dibawa kepanti asuhan sini mas"
"Iya, mas setuju dengan papa"
"Tunggu dulu. Mak Jun sedikit takut, kalau bayi tersebut, diminta sama orang. Cantik tau mas, bayinya. Gemesinnnnn" Retno menjembel kedua pipi Fatih
Retno melirik suaminya yang sudah benar-benar berubah. Dari jawaban yang ketus, senyumnya menghilang, tidurnya tidak memeluknya
Retno mendekati Fatih
"Emmuah" Retno mencium pipi Fatih "Selamat malam sayang.. " Retno kembali mencium pipi satunya, karena posisi Fatih, tidurnya menghadap keatap. Bukan miring.
Fatih masih terdiam, dan pura-pura tidur
Retno memeluknya erat, sesekali mengusap dagu Fatih yang tumbuh rambut "Emmuah" Retno kembali mencium bibirnya
Retno masih memperhatikan wajah suaminya dari kedekatan. Ia senyum-senyum sendiri didepan wajah suaminya
Fatih yang merasakan hembusan nafas hangat yang begitu dekat dengan wajah, sebenarnya tidak tahan. Ingin sekali ia melahapnya lagi. Tapi, egonya yang meluap, Fatih membiarkan istrinya ngoceh didepannya
'Kuat-kuat-kuat'
Retno menabok dada Fatih "Ih, masa sih sudah tidur. Cepat amat"
Retno tidur diatas tubuh suaminya sambil cengar-cengir
Fatih yang sudah tidak tahan, iapun menyingkirkan tubuh Retno, agar turun dari tubuhnya "Tidur yang bener" Lalu, Fatih tidur meringkuk memunggungi istrinya
"Halla... Tidurnya menghadap kesini mas" Retno menarik-narik kaus yang dipakai oleh Fatih, agar Fatih tidurnya menghadap kearahnya
"Sudah malam. Tidur"
"Ih, nggak bisa tidur. Mas!!" Retno terus menarik-narik
Dengan terpaksa, Fatih berbalik, lalu memeluk istrinya, agar mereka bisa lekas tidur
-
__ADS_1
Dipagi harinya
Seperti biasanya, Fatih membantu Retno mencuci baju.
"Mas, nyucinya dilaundry aja dibawah"
"Nggak ah, malas ke laundry" Jawabnya sedikit kesal, karena istrinya mengizinkan seseorang membawa bayi Viviana kemari
Retno sudah selesai memasak, dan sekarang, mengikuti Fatih untuk membantunya menjemur pakaian
Fatih masih terdiam, meskipun Retno berusaha mengganggu merebut baju dengan maksud bercanda, tapi Fatih tidak bergeming. Tidak melarangnya, apalagi merebutnya
Setelah selesai menjemur, iapun tidak ingin sarapan. Fatih malah memasak air, untuk membuat kopi
"Mas. Mas kok masak air. Mas mau bikin apa?" Tanyanya masih bermanja disamping tubuh Fatih
Fatih tidak menjawab. Dia hanya melirik, lalu sibuk dengan menyeduh kopi
Fatih berjalan kebalcon, yang ada dikamar utama
Retno mengikuti "Mas, kok mas malah minum kopi sih. Sarapannya gimana?"
Fatih duduk terdiam, dia tidak ingin memulai bicara, ataupun menjawab pertanyaan Retno
Retno milirik Fatih "Ya udah deh mas. Kalau disini sudah tidak ada yang mengajakku ngobrol, aku ingin kerumah ibu"
Fatih masih diam. Rasa kesal itu sudah sampai diubun-ubun. Kenapa bisa istrinya bersih keras menampung anak dari mantan istrinya
Retno sengaja menata baju dikoper.
'Memangnya aku nggak bisa kesal. aku juga manusia. Punya hati dan perasaan' Dengan kasar, ia menarik resleting koper, agar Fatih mendengar
Karena tidak ada tujuan, Retno pun bingung. Masa, hanya salah faham begini main kabur
Retno kembali berbuat ulah. Ia membungkus seluruh makanan tersebut, untuk dibawah ke laundry. Daripada mubazir dan tidak ada yang melirik, mending Retno kasihkan pada orang yang mau
Glomprang
Glomprang
Retno sedikit mengamuk biar suaminya mendengar jeritan hatinya
Retno segera menghubungi Sri. Tetapi yang mengangkat bukan Sri, melainkan bu Erna "Bu, udah sarapan belum?"
"--"
"Ya udah, jangan beli ataupun masak ya. Aku akan kesana"
Fatih mulai melirik Retno yang sedang berganti pakaian dikamar
Retno sengaja melepas baju semuanya, hanya penyisahkan pelindung dada dan pelindung bawah perut
Sebenarnya, Fatih sedikit tergoda melihat istrinya yang memakai bikini
Mau tanya gengsi, tidak tanya penasaran
Dengan cepat, Retno berpakaian rapih, lalu segera melenyap dari hadapan suaminya
Setelah terdengar pintu dikunci, Fatih segera kedepan, untuk mengintip istrinya yang sedang berdiri didepan lift
Retno terlihat memberengkut, diduga yang dibawa hanya makanan. Sedang baju yang ada didalam koper, masih teronggok didalam kamar
Fatih berjalan cepat menuju balcon kamar, untuk melihat istrinya dari atas
Fatih tersenyum, kemudian masuk lagi kekamar, untuk menyembunyikan koper istrinya, yang sudah siap-siap untuk minggat
"Jangan sampai terjadi ya... Kamu tidak boleh minggat. Apapun itu"
Fatih menyembunyikan koper tersebut, dari jangkauan Retno. Setelah puas, iapun mengganti bajunya, untuk segera kerumah sakit
__ADS_1
BERSAMBUNG......