Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Bertengkar Bumbunya Rumah Tangga


__ADS_3

Malam harinya


Mereka sudah siap untuk bercinta, tiba-tiba Retno ingat sesuatu


"Mas.."


Fatih yang sedang mencum bu, tiba-tiba berhenti "Ada apa"


"Nggak. Aku hanya ingin bilang, laundry nya ramai"


"Oh.. " Fatih kembali beraksi


"Sepertinya, Sri dan ibunya sedikit kuwalahan"


"Emm" Fatih terus menghentak-hentakkan pedangnya pada tempatnya


"Jadi..Aww.. Aww.." Nafas Retno ter engah-engah karena hentakan


"Jadi apa emm"


"Aku ajak.. Aww"


"Ajak siapa akh"


"Bibi Juunnnn... Aww"


"Akkkk"


"Untuk membantu aww.. Akk"


Fatih terus bersemangat karena berhasil membuat istrinya mengerang


"Apa akh.."


"Kerja dilaundry......." Teriaknya


Setelah pelepasan, Fatih segera menarik tissue andalannya


Sambil mengelap, Fatih mencium kening Retno "Tadi ngomong apa. Mas kurang jelas"


Retno mendorong Fatih "Mas sih, nggak ndengerin" Ucapnya sambil berlari ke kamar mandi


Retno segera mengguyur badannya setelah beradu kaki


Fatih juga sama. Mandi besar dimalam hari.


Mereka tidak ingin tidur, masih memiliki hadas besar. Mereka Takut, jika sewaktu-waktu Tuhan mencabut nyawanya, mereka dalam keadaan bersih


-


Mereka berdua sudah naik keatas ranjang kembali


Mereka sudah sama-sama rebahan


Badan enak, nyaman. Membuat mereka merasa ngantuk, tapi Fatih penasaran


"Tadi bilang, laundry rame?"


"Iya. Sri kuwalahan. Apalagi habis setrika, ia mengantarkan bajunya kerumah sakit"


"Emm"


"Ibu Erna hanya bisa bantu mencuci, karena bu Er, masih kurang vit. Ya.. sambil jaga gitu. Siapa tau ada orang yang nyasar ingin melaundry baju kemari"


"Apa, ada yang nyasar?" Ucapnya sambil tersenyum menggoda


"Ada. Orang bule katanya" Retno melirik suaminya yang senyam-senyum dihadapannya "Kenapa mas senyam-senyum"


"Nggak. Nggak nyangka aja, sayang dan kawannya bisa menjalankan bisnis ini. Apa sudah perlu tambahan karyawan?"

__ADS_1


"Ah.. Kebetulan mas ngomong. Pengasuh bayinya mantan istrinya mas... " Retno menusuk-nusuk dada Fatih menggunakan jari


Fatih langsung terdiam


"Aku tarik untuk kerja disini"


Wajah Fatih sudah berubah. Tadinya senyam-senyum sekarang redup "Kok bisa. Terus, bayinya ditinggalkan dirumah mama?!" Ucapannya agak meninggi


Retno memeluk Fatih. Dia tidak tau kemarahan Fatih sudah dipuncak. Yang Retno tau hanya kesal tingkat rendah "Ya, diajak kemari. Gimana?"


"Kok bisa??"


Retno mengurai pelukan "Ya bisa. Mak Jun, butuh uang. Kalau dia tidak kutarik sekarang, aku bantunya gimana. Lewat apa. Terus, kita kan memang butuh tenaga super"


"Tapi kan nggak perlu bawa bayinya segala"


"Terus, bayinya mau ditaruh dimana?"


"Ya di panti asuhan, kan bisa"


"Terus, kalau diminta orang" Retno melirik suaminya, lalu melanjutkan ceritanya kembali "Mak Jun, itu sudah kepalang sayang sama sibayi itu mas. Dia ingin membesarkannya"


"Ingin membesarkan kok bawa kerumah mama. Aneh"


"Dia itu bingung, pulang nggak punya ongkos, makan nggak bisa. Tapi kasihan sama bayinya. Ahhhhh.. " Retno agak kesal. Karena suaminya, sepertinya tidak mendukung


"Apa ah"


"Berarti, keluarga mas itu keluarga yang terkenal baik. Jika tidak, mak Jun tidak akan susah-susah mencari alamat mama"


"Pinter ya cari alasan"


"Bukan gitu mas. Orang kalau sudah terlanjur sayang itu, mereka akan melakukan apapun. Mas tau nggak. Tadi siang itu, papa dan mama bingung. Inginnya mama, biar anak ini tinggal disini. Tetapi berbeda dengan papa. Papa ingin anak tersebut dibawa kepanti asuhan sini mas"


"Iya, mas setuju dengan papa"


"Tunggu dulu. Mak Jun sedikit takut, kalau bayi tersebut, diminta sama orang. Cantik tau mas, bayinya. Gemesinnnnn" Retno menjembel kedua pipi Fatih


Retno melirik suaminya yang sudah benar-benar berubah. Dari jawaban yang ketus, senyumnya menghilang, tidurnya tidak memeluknya


Retno mendekati Fatih


"Emmuah" Retno mencium pipi Fatih "Selamat malam sayang.. " Retno kembali mencium pipi satunya, karena posisi Fatih, tidurnya menghadap keatap. Bukan miring.


Fatih masih terdiam, dan pura-pura tidur


Retno memeluknya erat, sesekali mengusap dagu Fatih yang tumbuh rambut "Emmuah" Retno kembali mencium bibirnya


Retno masih memperhatikan wajah suaminya dari kedekatan. Ia senyum-senyum sendiri didepan wajah suaminya


Fatih yang merasakan hembusan nafas hangat yang begitu dekat dengan wajah, sebenarnya tidak tahan. Ingin sekali ia melahapnya lagi. Tapi, egonya yang meluap, Fatih membiarkan istrinya ngoceh didepannya


'Kuat-kuat-kuat'


Retno menabok dada Fatih "Ih, masa sih sudah tidur. Cepat amat"


Retno tidur diatas tubuh suaminya sambil cengar-cengir


Fatih yang sudah tidak tahan, iapun menyingkirkan tubuh Retno, agar turun dari tubuhnya "Tidur yang bener" Lalu, Fatih tidur meringkuk memunggungi istrinya


"Halla... Tidurnya menghadap kesini mas" Retno menarik-narik kaus yang dipakai oleh Fatih, agar Fatih tidurnya menghadap kearahnya


"Sudah malam. Tidur"


"Ih, nggak bisa tidur. Mas!!" Retno terus menarik-narik


Dengan terpaksa, Fatih berbalik, lalu memeluk istrinya, agar mereka bisa lekas tidur


-

__ADS_1


Dipagi harinya


Seperti biasanya, Fatih membantu Retno mencuci baju.


"Mas, nyucinya dilaundry aja dibawah"


"Nggak ah, malas ke laundry" Jawabnya sedikit kesal, karena istrinya mengizinkan seseorang membawa bayi Viviana kemari


Retno sudah selesai memasak, dan sekarang, mengikuti Fatih untuk membantunya menjemur pakaian


Fatih masih terdiam, meskipun Retno berusaha mengganggu merebut baju dengan maksud bercanda, tapi Fatih tidak bergeming. Tidak melarangnya, apalagi merebutnya


Setelah selesai menjemur, iapun tidak ingin sarapan. Fatih malah memasak air, untuk membuat kopi


"Mas. Mas kok masak air. Mas mau bikin apa?" Tanyanya masih bermanja disamping tubuh Fatih


Fatih tidak menjawab. Dia hanya melirik, lalu sibuk dengan menyeduh kopi


Fatih berjalan kebalcon, yang ada dikamar utama


Retno mengikuti "Mas, kok mas malah minum kopi sih. Sarapannya gimana?"


Fatih duduk terdiam, dia tidak ingin memulai bicara, ataupun menjawab pertanyaan Retno


Retno milirik Fatih "Ya udah deh mas. Kalau disini sudah tidak ada yang mengajakku ngobrol, aku ingin kerumah ibu"


Fatih masih diam. Rasa kesal itu sudah sampai diubun-ubun. Kenapa bisa istrinya bersih keras menampung anak dari mantan istrinya


Retno sengaja menata baju dikoper.


'Memangnya aku nggak bisa kesal. aku juga manusia. Punya hati dan perasaan' Dengan kasar, ia menarik resleting koper, agar Fatih mendengar


Karena tidak ada tujuan, Retno pun bingung. Masa, hanya salah faham begini main kabur


Retno kembali berbuat ulah. Ia membungkus seluruh makanan tersebut, untuk dibawah ke laundry. Daripada mubazir dan tidak ada yang melirik, mending Retno kasihkan pada orang yang mau


Glomprang


Glomprang


Retno sedikit mengamuk biar suaminya mendengar jeritan hatinya


Retno segera menghubungi Sri. Tetapi yang mengangkat bukan Sri, melainkan bu Erna "Bu, udah sarapan belum?"


"--"


"Ya udah, jangan beli ataupun masak ya. Aku akan kesana"


Fatih mulai melirik Retno yang sedang berganti pakaian dikamar


Retno sengaja melepas baju semuanya, hanya penyisahkan pelindung dada dan pelindung bawah perut


Sebenarnya, Fatih sedikit tergoda melihat istrinya yang memakai bikini


Mau tanya gengsi, tidak tanya penasaran


Dengan cepat, Retno berpakaian rapih, lalu segera melenyap dari hadapan suaminya


Setelah terdengar pintu dikunci, Fatih segera kedepan, untuk mengintip istrinya yang sedang berdiri didepan lift


Retno terlihat memberengkut, diduga yang dibawa hanya makanan. Sedang baju yang ada didalam koper, masih teronggok didalam kamar


Fatih berjalan cepat menuju balcon kamar, untuk melihat istrinya dari atas


Fatih tersenyum, kemudian masuk lagi kekamar, untuk menyembunyikan koper istrinya, yang sudah siap-siap untuk minggat


"Jangan sampai terjadi ya... Kamu tidak boleh minggat. Apapun itu"


Fatih menyembunyikan koper tersebut, dari jangkauan Retno. Setelah puas, iapun mengganti bajunya, untuk segera kerumah sakit

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2