Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Masih Fatihah


__ADS_3

Fatihah makan, sambil diplototi oleh Taufan terus-terusan


"Apa liat-liat" Bentak Fatihah pada Taufan


"Makan apa kamu?" Tanyanya dari kejauhan


Dengan terpaksa, Fatihah menyobek Pizza seperdelapan bagian, dan berjalan mendekati "Nih, kuganti mie ayammu yang tadi, dengan ini"


Taufan menerima dengan dua jarinya, lalu mengangkat keatas "Ini gantinya??" Kemudian, Taufan menyerahkan kembali sesuatu yang barusan ia terima, bermaksud menolak pemberian makanan dari Fatihah "Nggak bisa. Masih kurang. Ini, anak bayi saja nggak kenyang. Balikin sesuai porsi"


Fatihah berbalik menantang, dan tidak menerima penolakan "Hah?? Belagu banget diganti segini bilang kurang. Mie ayam semangkuk harganya berapa bang. Mahalan ini tau nggak" Fatihah menunjuk Pizza lainnya, yang masih utuh didalam kardusnya


"Apa, apa tadi. Panggil apa kau barusan sama aku, hah??! Anak kecil baru nginjak gede aja udah sok-sokkan bandingin harga"


"Lah bener kan. Mie ayam itu paling harganya berapa boss"


"Eh. Kau ya, sudah salah, galak, egois, tidak mau meminta maaf pula. Pokoknya, ganti mie ayamku tadi, sama pizza yang masih utuh"


"Enak aja. Ini dari pacarku. Untuuuuukkk... Seluruh temanku" Kemudian Fatihah berjalan menuju kamarnya, lalu berhenti dan menoleh kebelakang "Dan satu lagi, terima kasih atas mie ayamnya. Bye Angin topan..." Fatihah menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat


Taufan gedeknya tidak ketulungan 'Jika kau bukan cewek, sudah kuremas-remas biar jadi bubur'


-


Diwaktu bersamaan ditempat lain


Fatih pulang keapartemen dengan terpaksa. Sebenarnya yang Fatih kangen, tentulah pada kedua putranya. Sedangkan sama istrinya, ia masih kesal


Mereka berdua masih diam-diaman. Terbukti, kepulangan Fatih tidak disambut oleh Retno


Mereka belum saling sapa. Disamping Fatih juga tidak ada senyum, Retnopun sudah sakit hati karena bentakan dari suaminya tadi siang


Malam ini, Fatih diusir oleh mama Sifa dari rumahnya. Dan dengan terpaksa, Fatih pulang keapartemen.


Malam ini, mereka tidur terpisah.


Karena Retno lebih memilih tidur dengan Poniyem, dan kedua anaknya, dikamar Fatihah


Dan malam ini, Fatih sengaja pulang larut agar tidak bertemu dengan istrinya. Tapi perhitungannya salah. Fatih masih melihat Retno sedang mengganti diaper milik Fahri, dan tidak sengaja, Retno menatap Fatih yang melongok kekamar itu


Pandangan mereka bertabrakan


Fatih langsung menghindar dan berbelok kekamarnya. Kesalnya masih diubun-ubun.


Meskipun sudah diberi penjelasan oleh mamanya, tetap saja Fatih belum menerima alasan istrinya yang terlalu baik dengan mantan istrinya


-


Pagi harinya, Fatih buru-buru pergi kerumah sakit. Jangankan membantu pekerjaan istrinya, sarapan saja, Fatih meninggalkan kebiasan kegiatan tersebut. Tujuannya, untuk menghindar bertemu dengan istrinya


Sejak pagi, setelah kepergian suaminya bekerja. Retno sudah kerepotan karena tidak dibantu oleh suaminya. Meskipun Poniyem membantu, rasanya kurang sreg dengan kinerjanya


Siang harinya, waktu istirahat


Fatih tetap tidak pulang


Rasa sakit pada hati Retno, tambah membesar karena terlalu dicueki oleh sang suami

__ADS_1


"Mas Fatih kok nggak pulang ya bik?" Tanya Retno pada Poniyem "Apa nggak lapar?"


"Memangnya tiap hari mas Fatih selalu pulang ya mbak?" Tanyanya pada Retno


Retno mengangguk "Iya bik. Selalu pulang jika istirahat siang seperti ini" Retno berdiri berjalan menuju balkon "Mas Fatih marah besar kayaknya bik"


Poniyem terdiam. Sedikit banyak, Poniyem tau sifat putra majikannya ini. Orangnya pendiam, tetapi sekali marah berbahaya, kecuali dengan Vivi sang mantan istri, Fatih takluk padanya. Dulu.


Dulu, jangankan membentak. Fatih lebih banyak mengalahnya daripada menyerang kepada Vivi. Apalagi diam-diaman seperti sekarang tanpa sapa. Seperti bukan Fatih


"Yang sabar ya mbak. Mas Fatih melakukan ini pasti ada alasannya"


Mereka berdua saling tatap


"Maksud bibi apa?"


"Dilihat dari perilakunya, mas Fatih itu lebih sayang sama mbak Retno"


Retno terdiam, seakan butuh jawaban sekarang juga


"Mas Fatih tidak mau, mbak itu diamuk sama nyonya Vivi. Makanya, mbak Retno, disuruh tetap tinggal disini, dan tidak diperbolekan kemana-mana"


'Mungkin juga'


"Tapi kenapa cuek bik"


"Itu memang sifatnya mbak. Mbak rayu saja biar luluh. Dengan non Fatihah juga seperti itu mbak. Seperti memberi pelajaran gitu"


Retno memejamkan mata mencerna omongan bibik barusan


Retno faham tentang kesalahannya 'Jika dulu aku mau mendengarkan mas menyuruh baby Elsa untuk ditempatkan dipanti asuhan milik almarhum papi, pasti urusannya tidak separah ini' Retno kembali menangis


"Yang sabar ya mbak"


-


Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang.


Mama Sifa datang keapartemen, untuk bertemu dengan cucu kembarnya dan juga menantunya


"Nduk, tadi Vivi dan suaminya datang"


"Datang??"


Mama Sifa mengangguk


"Mencariku ma?"


Lagi-lagi mama Sifa mengangguk


Retno langsung memeluk mama Sifa sambil meneteskan airmata "Maafkan Retno ma. Retno sudah membuat mama kecewa. Retno merepotkan mama"


Mama Sifa menggelengkan kepalanya sambil mengurai "Kenapa harus meminta maaf sama mama. Kamu salah apa?"


Retno terlihat bingung


"Tadi, mereka datang itu untuk berterima kasih padamu. Dan meminta maaf padamu"

__ADS_1


"Maaf ??"


"Ya. Maafkan perilakunya yang tidak senono padamu waktu itu"


Retno lagi-lagi terdiam kebingungan


"Sudah. Jangan difikir terlalu keras. Dan ini, ada hadiah untukmu dari Vivi"


Retno tambah bingung


"Ayo terima" Mama Sifa menyodorkan paper bag


Retno sedikit ragu menerima hadiah tersebut


"Mama taruh diatas meja ya? Oiya, mama kesini mau menjemput bibik. Biar Fatih bertanggung jawab membantumu meringankan pekerjaan rumahmu"


Retno terdiam


"Mama tau, Fatih pasti cuekin kamu kan?"


Retno ingin menjawab


"Nggak usah jawab. Kau diam, mama sudah tau jawabannya. Jadi, jalan satu-satunya, mama harus jemput bibik sekarang juga"


"Mama tidak ingin, Fatih terlalu lama cuek padamu lagi. Maafkan anak mama ya?" Sambung mama dan diangguki oleh Retno


-


Malam harinya


Fatih pulang dengan keadaan lampu yang sudah dipadamkan, kecuali kamar Fatihah dan dapur. Menandakan, penghuninya telah terlelap


Fatih berjalan kekamarnya, untuk membersihkan diri. Setelah usai, Fatih masuk kekamar istrinya


Retno sudah tertidur ditengah-tengah kedua bayinya, tanpa Poniyem


Fatih berdiri mengabsen kedua bocah kembar dan juga istrinya dengan seksama.


Ada rasa kasihan, setelah tau bahwa istrinya tidak sepenuhnya bersalah atas bayi milik sang mantan istri


Fatih tersenyum tipis sambil mengusap kepala istrinya "Maafkan mas ya" Fatih mengecup kening sang istri sambil mengusap kedua bayinya


Fatih menatap Retno dengan iba "Masalah besar sudah berani kamu ambil. Padahal resikonya jeruji penjara jika sang pemilik bayi tidak terima"


Kemudian, Fatih duduk dipinggir tempat tidur, lalu menciumi satu persatu putranya, dan memindahkan kedua putranya diboxnya masing-masing


Fatih naik ketempat tidur, yang sudah ada Retno disana


Fatih menarik Retno kedalam pelukan, lalu mengusap wajah sang istri sedikit bergetar "Sayang, maafkan mas ya" Fatih kembali mencium wajah istrinya "Mas sudah egois. Mas tidak mau mendengarkan alasanmu"


Karena merasa ada yang mengganggu, Retno terbangun dan terkejut "Bayiku. Mana bayiku" Dengan spontan, Retno loncat dari tempat tidur


"Sayang. Hati-hati jangan loncat begitu"


Retno berdiri menatap suaminya yang mulai mendudukkan diri dari rebahannya


MINAL AIDIN WALFAIZIN... MOHON MAAF LAHIR BATHIN..... MAAF BARU UP

__ADS_1


__ADS_2