
Hari berikutnya
Setelah Arin pulang sekolah, Arin tidur-tiduran sambil menonton televisi
Tiba-tiba kedua bocah kembar itu ikut tiduran disamping kanan dan kiri Arin
"Kak Alin, main ke lumah sebelah yuk" Ajak Fahri
Arin menoleh "Tumben kamu ngomong. biasanya begu"
Fahmi tertawa mendengar Fahri diejek "Hahaha, Fahli begu katanya. Ahahaha"
Fahri berdiri mengancam Fahmi dan Arin "Fahli aduin ntal sama daddy" Ucap Fahri ingin mengadu sama papanya
"Aduin aja sanaaaa... Aku nggak takut" Ucap Arin enteng dan masih tiduran
Tiba-tiba Fahri mengambil kemoceng yang biasa untuk membersihkan debu-debu disini. Kemudian memukul Arin dengan serta merta
Plok plok plok
"Eh, eh eh. Kotor Fahri !!" Teriak Arin dengan tangan yang ingin merebut kemoceng dari tangan Fahri
Fahri tertawa karena berhasil menyamplok Arin
Arin berdiri sambil mendelik "IKAN PARIIIIIIIII !!! SEKARANG.... PERGI KAMU !!!" Teriak Arin sambil menunjuk-nunjuk jalan keluar
Semua orang tua berlari mendekat "Ada apa ini" Tanya mama Sifa dan Retno bersamaan
"Mamah, grandma. Buka cctvnya aja. Biar tau siapa yang nakal" Aduh Arin berapi-api
Fahri ketahuan membuang kemoceng sembarangan
"Fahri.. Fahri nakal ya sama kak Arin?" Tanya Retno
Fahri menunduk
"Tatap mami" Ucap Retno lagi, tetapi ditolak oleh Fahri. Dengan menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri
Mama Sifa mendekati cucu-cucunya "Ada apa sebenarnya"
Fahmi mendekati mama Sifa "Gem ma, Fahli natal. Tadi pukulin kak Alin. Pakai bulu ayam" Adunya
Mama Sifa mengabsen semuanya "Arin, ikut gemma sekarang"
Arin berdiri "Kok Arin sih Grandma. Yang salah kan bukan Arin mah"
Terkadang Arin menyebut nama dirinya dengan sebutan Arin, dan terkadang menyebut dirinya aku
"Sudah, kamu itu paling besar. Dan kamu juga perempuan. Ayo, ikut gemma sekarang"
Arin melemah karena tidak bisa melanjutkan bersantainya sambil menonton acara kesukaannya
Mama Sifa menarik tangan Arin "Udah. Udah gede kok, mainnya berantem melulu"
"Tuh kan, pasti aku yang disalahin" Gerutu Arin tak terima
"Sudah" Mama Sifa menarik pergelangan tangan Arin dengan paksa
Retno terkekeh melihat tingkah Arin
Arin menoleh kebelakang, sambil menjulurkan lidahnya "Hululululu" Ejeknya pada Fahri berkali-kali
"Mami !!!" Teriak Fahri mengadu
"Sudah ah"
Arin kembali menoleh kebelakang, dan memamerkan gigi bawah sambil digoyang kekanan dan kekiri bermaksud untuk mengejek "Ewek ewek ewek"
__ADS_1
"Mamiiiii.. Kak Alin nakal"
"Mana, nggak nakal. Orang udah diseret ama gemma kok" Jawab Retno
Arin kembali mengiwi-iwi "Ewek ewek ewek"
"Mamiii... Kak Alin natal lagi"
Plok
Mama Sifa menabok tangan Arin "Arin, jangan nakal"
"Grandma, Arin nggak nakal" Elaknya
"Nggak nakal kok Fahri menjerit-jerit" Mama Sifa
"Iya, kak Alin Natal" Fahri
Arin menoleh kebelakang "Enak aja. Siapa yang nakal. Memangnya sakit kamu" Teriak Arin pada Fahri
"Hei" Mama Sifa menjewer telinga Arin "Kamu memang tidak nakal secara fisik. Tapi gigi yang kamu pamerin itu nyakitin hati orang"
"Addadadada, lepasin grandmaaaa"
Ahahahahaha
Kedua bocah kembar itu, akhirnya tertawa penuh kemenangan
-
Mama Sifa sudah jongkok dikebun belakang rumah, yang penuh dengan tumbuhan sayur-sayuran dan buah-buahan
Arin berdiri, dan belum ingin mengikuti saran mama Sifa
"Sini jongkok. Ayo, petik daun ubi ini. Gemma, ingin masak tumis daun ubi. Dan untuk besok, gemma ingin bikin pecel. Buru bantuin"
"Kalau tidak nurut gemma, gemma akan telpon daddymu, untuk jemput kamu" Ancam mama Sifa
"Ish, jangan grandmaaaa"
"Makanya, nurut"
Disaat mereka berdua sedang sibuk memetik daun ubi, sikembar datang membawa pancingan, dan akan memancing ikan yang ada dikolam buatan
Arin berdiri, dan mendekati mereka, kemudian menarik pancingan milik Fahmi "Coba liat"
"Kakak, jangan!!" Teriak Fahmi
Pancingan sudah dipegang oleh Arin "Ahahaha. Ahaha" Arin tertawa terpingkal-pingkal "Sampai tuapun, kalian nggak bakalan bisa dapat ikan mbar, mbar. Ahahaha" Arin tertawa terbahak-bahak "Mana ikannya mau, kalau umpannya nggak ada. Ahahah" Ejeknya terus dan terus
Fahmi menarik-narik baju Arin "Memangnya halus dikasih umpan? Iya, kak?"
"Harus!!! Errrrrrrrrr !! Bukan halus. Itu bubur" Ejeknya lagi
"He em. Halllllluuuss" Kata Fahmi berlatih mengucap kata R biar tidak cadel
"Iya !! Biar cepat" Jawab Arin lantang
"Memangnya umpannya apa?" Tanya Fahmi lagi
"Roti. Roti bakar isi selai. Hmmm enak" Bohongnya
"Arin... Jangan suka berbohong" Tegur mama Sifa
Arin melirik omanya, kemudian menarik salah satu tangan si kembar "Sini mbar"
Arin sudah jongkok dan diikuti Fahri dan Fahmi
__ADS_1
"Fahri, ambilin cangkul kecil tu" Tunjuk Arin pada salah satu alat berbentuk cangkul, tetapi cangkul mini
Fahri berlari "Yang ini ya kak"
"Ya, ya itu betul. Siniin"
Fahri sudah memberikan alat tersebut pada Arin. Dan Arin mulai mencangkul tanah "Bentar, tunggu aku, ya?" Arin berlari kedapur dengan terbirit-birit
Setelah mendapatkan yang diinginkan, Arin datang kembali membawa baskom berisi air "Bentar. Kita kasih oralit dulu tanahnya ya, biar tidak mencret. Dan mereka akan keluar"
"Meleka siapa kak?" Tanya Fahmi
"Adikmu" Jawab Arin sekenanya
"Arin !! Bilang apa tadi" Tegur mama Sifa lagi
"Ish grandma. Sibuk aja sempet-sempetnya tegorin aku" Gerutunya membuat mama Sifa menggelengkan kepalanya
Tak menunggu lama, cacing tanah itu pada keluar satu persatu
"Ih, ulal ulal" Ucap Fahri dan Fahmi bersamaan
"Arin !!!" Mama Sifa
Arin hanya menatap sekilas pada omanya, kemudian fokus lagi pada sesuatu yang dicarinya "Haissss. Mana bisa ular jalannya kleler-kleler begini. Ini namanya cacing tanah mbar, kembar. Bukan ular"
"Oh bukan ya?"
"Bukan. Mana pancingan kalian. Sini aku pasangin umpan"
"Ih, ih takut"
"Ingin dapat ikan nggak?"
"Ingin. Tapi takut"
"Hadeeewww.. Cowok kok letoi"
-
Sore harinya
Arin membawa si kembar untuk menyewah odong-odong keliling, yang digayuh sendiri
Karena sifat Arin yang banyak bicara, tetangganya dipanggil, untuk ikutan naik, karena kursi dibelakang masih kosong dan -tak berpenghuni
Mereka menaikinya dan mengelilingi komplek ini, dengan penunjuk jalan sitetangga yang ada dibelakang
Tiba-tiba ditikungan, odong-odong yang Arin gayuh, berpapasan dengan Fatih, yang barusan pulang dari rumah sakit
Fatih mengernyitkan dahi "Itu Arin kan?? Bener nggak sih itu Arin" Fatih segera pulang kerumah, tetapi pikirannya berlarian membayangkan Arin menaiki odong-odong
Fatih masuk kerumah. Setelah salam diucapkan, Fatih teringat ditikungan tadi "Mih, kok sepi. Anak-anak pergi kemana"
"Nggak pergi kemana-mana kok, mas. Mereka ada dikebun bersama mama. Palingan lagi mancing"
"Mancing??"
"Iya"
Fatih kekebun belakang, ternyata kosong tak ada siapapun disana "Mih !!" Teriaknya pada Retno
"Iya mas"
"Nggak ada. Berarti bener. Arin, Fahmi dan Fahri, mereka naik odong-odong"
"Odong-odong?? Kok bisa. Kalau mereka nyasar, bagaimana mas ? Kita jemput yuk mas"
__ADS_1
"Hadewww... Adaaa ada aja. Dasar bocah tengil" Gerutu Fatih