
Fatih dan Retno sudah pulang keapartemen, untuk mengambil baju ganti, dan mobil yang berada dibasement apartemen
Kali ini, Retno dan Fatih ingin menginap dirumah babe
Sesampainya disana, mereka berdua disambut oleh ibu Rani
Bu Rani sudah menerima buah tangan dari mereka, dan diterima oleh art yang membantu bu Rani mengerjakan segudang kegiatannya dirumah "Wah.. Nduk, ibu kangen banget sama kamu nduk" Ibu Rani memeluk Retno erat "Kok kalian tau, kalau ibu tuh rindu berat sama kalian"
Retno tersenyum mengembang
"Iya bu, Retno juga, katanya kangen banget sama ibu dan bapak" Ujar Fatih mendekati ibu mertuanya, dan mencium tangannya "Apa kabar bu?"
Ibu Rani menyambutnya "Alhamdulillah baik"
Ibu Rani mengusap perut Retno yang kian jempling "Masih ingin buah markisa?"
Fatih tersenyum lagi "Sudah enggak bu"
"Sekarang aku bu, yang sering ingin sesuatu" Saut Retno
"Ya bagus itu nggak pa-pa. Kamu kan dirumah. Kalau suamimu yang ngidam terus, kasihan. Fikirannya mau konsentrasi memeriksa pasien, buyar karena ingin muntah. Betul nggak?"
Fatih dan Retno saling tatap
"Iya bu, kasihan" Ujar Retno membuat Fatih merangkul Retno sekilas
Tak berapa lama kemudian, babe mendekati mereka bertiga "Eh he he Tong.. Ai harus panggil ape ye" Babe Kohar garuk-garuk kepala yang barusan ia buka topinya
Para kulinya babe ikut tertawa melihat bosnya bingung cara panggil menantunya
"Nama aja pak. Bapak sibuk ya" Ucapnya sambil bersalaman dan berpelukan pada bapak mertuanya
'Waduh, ai dipeluk segale. Padahel ai bau lumpur. Aduh, mantu-mantu'
Mereka berempat mendekati empang-empang yang terbuat dari terpal itu, yang mulai dikosongkan lelenya alias panen
"Beh, yang ini udah transmigrasi semua ya beh" Tanya Retno pada babe, membuat Fatih tersenyum, lalu mengusap kepalanya
Kedua orangtua Retno saling lirik
'Pantesan anek ini beteh dengan ini suami. Dielus-elus muluh. Ade mertue aje, tanganye clekatakan pegang-pegang kepale anak gua'
'Alhamdulillah.. Pantesan genduk betah. Suaminya romantis bener. Nggak banyak ngomong, nggak kayak babe, cerewetnya kayak petasan' Ibu Rani menatap anak dan menatunya 'Genduk ngomongnya juga tertata, nggak nyablak kayak dulu'
Meskipun Retno bergandengan dengan ibunya, tangan Fatih sering memegang punggung, kepala, dengan santai.
Walaupun yang dilakukan hanya sekilas, tandanya mereka memang benar-benar sudah akrab, dan orang tua tidak perlu khawatir itu
"Ayuk masuk dulu, sudah sore. Pamali, ora ilok. Kalau cah wedok hamil, diluar rumah. ayok masuk" Ajak ibu Rani, untuk memasuki rumah
"Cah wedok apa bu?" Tanya Fatih
"Anak perempuan" Tunjuk bu Rani pada Retno
"Oh, cah wedok... Kamu cah wedok sayang" Ucapnya sambil mengusap kepala Retno lagi dan lagi
Lagi-lagi ibu Rani menatap pasangan ini bahagia sungguhan. Bukan karbitan
Memangnya pisang bu, dikarbit
-
Setelah makan malam bersama, Retno dan Fatih masuk kekamar
Kemana pun pergi, atau meskipun terbiasa berpindah-pindah menginap, rumah sendiri akan tetap menjadi tempat yang paling nyaman.
Seperti malam ini
Malamnya memang sudah larut, tapi mereka berdua belum bisa tidur.
Kamar ini begitu asing, walaupun sudah bolak-balik menginap disini
Retno dan Fatih sudah selonjoran dikamar.
Mereka saling tatap
"Sayang, sayang belum ngantuk?" Tanya Fatih
"Belum" Jawabnya sambil geleng-geleng
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku memikirkan mas"
"Memikirkan mas?" Ulangnya
Retno mengangguk "Iya"
"Kenapa?"
"Mas pasti nggak bisa tidur ya.." Tebak Retno
"Kata siapa nggak bisa tidur" Elaknya
"Nggak usah bohong. Aku juga nggak bisa tidur waktu menginap dirumah mama papa. Padahal tempatnya nyaman. Tapi aku nggak tau alesannya apa"
"Tapi dirumah kita betah kan?"
Retno mengangguk "Betah mas"
Fatih memeluk Retno "yang penting, kita berdua itu bareng. Mas pasti bisa tidur"
"Oooo" Retno menghambur, membalas pelukan dari sang suami
"Main yuk, daripada kita melek melulu kayak ikan"
Retno mengurai peluk, menatap wajah suaminya, lalu menatap celana pendek suaminya
"Kenapa liat-liat celana. Mau dipegang? Pegang aja"
Tangan Retno ditarik paksa oleh Fatih, untuk memegang anunya dibalik celana
"Mas. Cepet banget nantangin aku mas"
Fatih tersenyum "Makanya.. Ini ulah kamu yang main elus-elus"
Retno mendorong suaminya "Ih, kapan aku mengelus-elus, enggak"
"Sayang main peluk-peluk, memangnya nggak nyentuh ini" Tunjuknya pada pisangnya yang masih terbungkus
"Tapi tanganku nggak merasa"
Retno menariknya kakinya dengan pelan "Tuh, enggak"
"Nggak bisa mengecil, udah terlanjur"
"Aaaaah" Retno menutup wajahnya dan memunggungi suaminya
Tangan Fatih membalikkan tubuh Retno "Biasanya juga senewen kalau nggak ditengokin"
"Tapi tidak harus tiap malam juga"
"Terus, kita mau ngapain. Tidur nggak bisa, nggak ada mainan lain selain itu"
"Iiiiih" Retno menghentak-hentakkan kakinya keselimut. Membuat selimut itu terbuka dan sang pemiliknya memperlihatkan pahanya yang mulus dan menggoda
"Oke ya, deal ya"
"Ya deh. Tapi aku nggak mau nglepas sendiri"
"Tenang. Soal itu mas ahlinya"
Tiba-tiba
Brot brot brot
Barang-barang antik mereka sudah terpampang dengan jelas
Fatih mulai men cumbu istrinya yang sudah sama-sama bu gil
"Kalau disuruh makein baju, mas nggak bisa. Tapi kalau disuruh nglepasin, mas jagonya" Bisik Fatih membuat sang pemilik telinga mulai meremang
Cup cup cup
Fatih mulai menciumi daerah yang tertutup sekalipun
Retno mulai tak bisa menahan has ratnya yang kian memuncak
Akhirnya
__ADS_1
basah basah basah
Tissue tissue tissue
Untung disini tersedia tissue. Jika tidak, mungkin pakai sarung, ataupun sprei
Seperti biasa, mereka mandi ditengah malam
-
Pagi harinya
Mereka sarapan pagi, dipagi-pagi sekali sekitar jam 06:00
Keluarga babe sarapannya memang jam segitu. Dan itu sudah menjadi tradisi turun-temurun
Setelah sarapan, babe, bu Rani, dan juga Retno, sibuk dengan acaranya sendiri-sendiri
Untuk menghilangkan rasa bosan tinggal di rumah mertua, pagi ini Fatih membantu Retno menyapu halaman. Sedangkan Retno sudah sibuk menyiram halaman serta menyiram bunga yang penuh dengan debu
"Sayang, mas mandi dulu ya?" Ucapnya setelah selesai menyapu halaman yang banyak sekali dedaunan yang terjatuh karena tersapu angin
"Iya mas" Jawabnya sambil terus menyiram tamannya, yang sedikit terbengkalai karena ditinggal hidup dengan suaminya dikota
Retno masih sibuk menyiram bunga dan halaman yang barusan disapu oleh suaminya
Sesekali iapun merapihkan tanamannya, dengan memotong menggunakan gunting khusus tanaman itu
Fatih mendekati Retno untuk berpamitan sebelum bekerja
Tapi tak tau mengapa, kaki Fatih menginjak selang yang sedang dipakai menyiram oleh Retno
"Kok mati" Ucap Retno sambil menggoyang-goyangkan selang tersebut, lalu mengintipnya juga
"Sayang, mas berangkat ya"
Retno menoleh menyambutnya "Hati-hati mas" Ucapnya saling bersalaman dan saling mencium
Retno mencium tangan suaminya, dan Fatih mencium kening istrinya
Tiba-tiba
Soooorrrr
Selang yang keinjak Fatih, airnya mengalir bebas karena Fatih sudah pindah dari sana
Alhasil, Fatih dan Retno sama-sama basah terkena semprotan air yang deras dari dalam selang
"Sayang, sayang, airnya. Matiin matiin"
"Hah, hah mas, mas" Retno ikut kebingungan karena buyar konsentrasinya
"Selangnya hadapin kesana" Fatih mendorong selang tersebut
"Ed dah. Udah babe matiin" Babe mendekati menantu dan anaknya "Kamu sih neng, suaminye mau berangkat kerje, masih aje mainan selang"
"Ya kan tanggung beh. Ya.. Baju dan sepatu mas basah" Retno sedikit tidak enak dengan suaminya
"Waduh. Bawe ganti lagi nggak"
"Enggak pak. Tapi nggak pa-pa. Disana nanti kan ganti seragam" Ucap Fatih, tidak mau menyalahkan siapapun
"Tapi sepatu mas kotor tu mas"
Fatih tersenyum sambil merangkul istrinya "Gampang, tinggal disemir aja"
"Memangnya dimobil ada?"
"Ada. Ya sudah, mas berangkat ya" Pamit Fatih pada istrinya, lalu berpamitan pula pada mertuanya
Fatih sudah masuk kedalam mobil, lalu membuka kacanya "Sayang, mas berangkat ya" Teriak Fatih
Retno tersenyum "Iya mas hati-hati, jangan ngebut-ngebut"
Fatih mengangguk "Berangkat dulu ya pak"
"Iye, iye. Ati ati Tong"
BERSAMBUNG....
__ADS_1