Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Viviana menyandang janda kembali


__ADS_3

Sementara ditempat lain


Viviana sudah menerima surat akta cerai kembali yaitu, dia resmi menyandang status janda untuk yang kedua kalinya


Beberapa bulan yang lalu, suami Viviana mengeryitkan dahi "What !!! Serius seratus ribu? Tuntutan pemenuhan nafkah iddah hanya berjumlah seratus ribu rupiah?"


Viviana tidak menjawab. Dia sudah malas berhubungan dengan Bobby suami bayarannya yang tak pernah bertanggung jawab, serta ringan tangan


"Bagaimana mungkin nafkah iddah selama 3 bulan itu hanya dihargai dengan jumlah seratus ribu rupiah? Bukankah nafkah iddah itu mencakup tempat tinggal, makanan dan pakaian, yang diberikan aku kepadamu selama masa iddah?Jangankan untuk sebulan, untuk hidup sehari saja di kota Jakarta dengan uang seratus ribu belum tentu cukup?" Ejeknya


Viviana tersenyum mengejek "Apa selama kita berumah tangga, pernah sekali kau memberikan nafkah padaku?"


"Kamu ngungkit? Bukannya dulu kamu yang bilang apapun akan aku kasih. Lalu, salahku dimana?" Sergahnya tidak mau kalah


"Apa bedanya uang masa iddah"


"Ya bedalah. Kali ini, aku benar-benar menjadi orang yang tajir melintir"


"Yang tajir ceweknya kan, bangga"


"Diam!! Yang jelas, tidak seperti kamu, gembel" Bentaknya


Viviana memejamkan mata


"Sudah anaknya hilang, gembel. Apa yang bisa aku harap darimu hah haha" Ejeknya berulang-ulang


Viviana terdiam. Dia tidak ingin terpancing ejekan sang mantan, yang pernah menghancurkan mahligai rumah tangganya bersama Fatih


Viviana berjanji. Suatu saat jika dia sudah mampu. Akan ia cari baby Elsa, yang menghilang entah kemana


Viviana berusaha tegar untuk menerima kenyataan ini.


Hari ini, Bobby meninggalkan Vivi dipengadilan sendirian sehabis keputusan hakim


Viviana kembali tersenyum mengejek dirinya sendiri


'Dulu, aku yang mengajukan gugatan cerai kepada mas Fatih. Dan sekarang, aku yang tergugat oleh Bobby'


Viviana mengusap air matanya


'Dunia seakan mengejekku'


Bagai mendapatkan karma, Viviana seakan merasakan betapa sakitnya sebagai orang yang tergugat


Dulu dia rebut apapun milik Fatih. Sampai Fatih benar-benar tidak memiliki harta sepeserpun


Kini, seakan dunia membalikkan Viviana. Setelah cerai dari Fatih, berangsur dia melarat melebihi Fatih yang pernah ia buat melarat.


Beruntung mantan suaminya memiliki keluarga yang baik. Sedangkan dia, wanita sebatang kara


Viviana menangis kembali


'Seandainya dulu aku tidak sombong dan tidak sok kaya. Mungkin hidupku tidak seperti ini. Mas Fatih sekarang sudah bahagia dengan keluarga besarnya'


Viviana menarik nafas dalam


'Aku tidak boleh mengingatnya. Mas Fatih berhak bahagia dengan putriku. Fatihah, Elsa... Aku kangen padamu'


Kembali Viviana menangis mengingat kedua putrinya


"Bu Vivi" Panggil seorang gadis yang menggunakan tongkat, turun dari mobil


Viviana menoleh "Putri ya?"


"Iya. Kok bu Vivi ada disini"


Viviana terdiam


"Oiya bu, perkenalkan ini papaku. Papa Hermawan. Dan papa, ini bu Vivi yang pernah menolongku waktu itu"


"Oh"


Mereka berjabat tangan berkenalan


"Viviana / Hermawan" Diucap bersamaan


"Bu, kita ngobrol didalam saja yuk" Ajak Putri, untuk masuk ke mobil


"Tapi.. " Viviana ragu


"Nggak pa-pa bu, sama-sama orang, kita harus saling bantu" Saut Hermawan ramah


"Tapi pak, saya akan naik angkot saja. Paling sekali juga nyampai"


"Nggak pa-pa bu. Anggap saja aku memberi tumpangan ini, untuk berterima kasih pada ibu" Ucap Putri "Aku sengaja mencari ibu beberapa hari lalu loh. Dan ternyata, kita bertemu disini"

__ADS_1


Viviana tersenyum


"Ayo masuk"


Viviana dan Putri duduk dijok belakang


"Tadi aku sempat ragu loh sama bu Vivi" Ucap Putri lagi


"Ragu kenapa?"


"Ibu nampak beda menggunakan baju biasa. Maaf.." Putri memegang tangan Viviana


Viviana tersenyum "Tidak apa-apa, teruskan"


"Ibu nampak cantik menggunakan baju ini. Ibu pantasnya pegawai apa, gitu"


"Putri, jangan menyakiti lewat lisanmu" Tegur sang papa


"Tidak apa-apa pak. Saya terhibur kok melihat Putri. Sepertinya, usia Putri sama seperti putriku" Ucapnya sendu


'Yang sudah aku tinggal bersama daddynya'


"Oh, jadi ibu memiliki anak seusia aku bu. Terus, putri ibu ada dimana? Dirumah?"


"Tidak. Dia tinggal bersama opa dan omanya"


"Ibu kangen??"


"Kangen. Tapi malu Put"


"Kenapa?"


"Putri... Jangan mengorek pribadi seseorang" Tegur pak Hermawan kembali


"Tidak apa-apa pak. Seusia Putri itu memang penasaran" Saut Viviana


Putri manyun sambil mengambil sesuatu yang ada dijok paling belakang "Oh iya, ini untuk bu Vivi. Terimakasih, bu Vivi telah menyelamatkan aku waktu itu"


Vivi menerima bingkisan sambil berkaca-kaca "Terima kasih" Vivi meneteskan air mata


Vivi teringat Elsa 'Elsa, kamu dimana nak?'


"Bu Vivi, bu Vivi kenapa bersedih?" Tanya Putri yang pernah ditolongnya sewaktu hampir ketabrak mobil ugal-ugalan yang diduga pembalap liar


Viviana tersenyum menatap gadis yang ada didepannya "Tidak Put, aku tidak apa-apa?"


Kembali Vivi meneteskan airmata mengingat anak gadisnya yang pernah ia bentak-bentak sewaktu dirinya membuat ulah dipernikahan mantan suaminya


"Ibu" Panggil Putri lagi


"Eh, iya" Senyum perih dimatanya sudah tercetak jelas, bahwa Viviana sedang tidak baik-baik


"Bu Vivi melamun?"


"Ah, tidak" Bohongnya "Putri sudah mendingan?" Tanyanya halus, sambil memegang kaki yang masih terbalut kain putih


"Sudah bu"


Viviana mengusap punggung Putri "Oh iya pak, saya turun didepan saja"


"Oh, bu Vivi tinggal disini?" Ucap pak Hermawan


"Iya"


"Dimana bu, boleh kita mampir?" Ucap Putri antusias


"Hanya tinggal dikontrakan Put. Tempatnya sumpek. Ntar Putri nggak betah"


"Kan belum. Kenapa ibu menolak" Saut Putri yang sudah penasaran


Viviana terdiam


"Iya nggak pa-pa, Putri orangnya nggak pilih-pilih. Oiya, rumahnya yang mana bu?" Tanya pak Hermawan


"Itu kontrakan depan, yang berderet berwarna biru" Tunjuk Viviana


Mereka turun menuju kekontrakan Viviana


Vivi berjalan didepan, untuk membuka pintu kontrakannya "Mari silahkan masuk"


Bapak sama anak, untuk pertamanya menginjakkan kakinya dikontrakan yang sempit, namun sejuk, karena didepan ada pohon mangga yang rindang


"Putri duduk dikursi ya, kakinya kan masih sakit" Ujar Viviana


Putri duduk dikursi plastik

__ADS_1


"Bapak juga duduknya dikursi. Jangan dilantai. Ntar masuk angin" Vivi mengambil kursi depan, yang ditarik untuk duduk sang tamu


"Terus bu Vivi duduk dimana?"


"Saya dikarpet nggak pa-pa" Jawabnya sambil kebelakang untuk membuatkan sesuatu untuk kedua tamunya


"Papa" Panggil Putri pada ayahnya


"Hmm"


"Papa tidak kasihan dengan bu Vivi?" Bisik Putri


"Maksud kamu?"


"Kalau dilihat-lihat, bu Vivi cantik loh pa. Baik lagi" Putri masih berbisik pada papanya


Dokter paruhbaya ini menatap punggung Viviana sekejap, lalu bertanya pada anaknya "Memangnya Putri mau kalau papa menikah lagi?"


Putri mengangguk "Kelihatannya bu Vivi tulus orangnya"


Kedua tamu ini menatap Vivi bersamaan, yang sedang membawa baki kearah mereka


"Silahkan dicicipi" Ucap Vivi mempersilakan


"Kenapa repot-repot bu" Ucap pak Hermawan turun dari kursi, dan duduk lesehan seperti tuan rumahnya


"Bapak duduk aja dikursi"


"Saya turun kan ingin mencicipi camilan ini bu. Kalau saya diatas, susah lagi untuk mengambilnya" Pak Hermawan terkekeh "Put, kamu mau?" Tawar papanya


"Aku haus pa" Jawab Putri, dan diambilkan minum juga oleh papanya


"Eng bu, itu didalam kresek tadi, ada camilan dan juga nasi. Jika ibu ingin memakannya, silahkan" Kemudian Putri menyenggol kaki papanya dengan tongkatnya "Bantuin buka, pa"


"Iya"


Viviana membuka kresek dengan kesulitan


"Sini bu saya bantu" Hermawan segera membantu membukakan kresek yang besar dan penuh


Selagi papanya sibuk membuka kresek, Putri mengabsen "Oh iya, bu Vivi disini tinggal sendiri?"


"Iya"


"Oh.. Terus tadi ibu didepan kantor pengadilan ngapain ? Memang Ibu tidak kerja hari ini"


"Putri... " Tegur papanya


"Tidak pa-pa pak. Memang benar, saya dari pengadilan"


"Pengadilan??"


Viviana mengangguk


"Memangnya ada apa bu? Maaf keppo aku bu" Tanya Putri


Viviana tersenyum "Aku habis sidang terakhir keputusan cerai"


"Cerai?"


"Iya. Aku digugat cerai oleh suamiku. Semuanya meninggalkan aku. Anakku hilang, bapaknya kabur" Viviana tersenyum miris


"Hilang?? Tadi katanya ditempat opanya, kok jadi hilang"


"Masa laluku suram Putri. Anak pertamaku ikut papanya. Sedang putri keduaku entah"


"Entah??"


"Kau masih kecil Put, sebaiknya jangan memikirkan masalahku. Maaf jadi curhat"


"Tidak mengapa bu. Mungkin bercerita pada kami, bisa mengurangi beban bu Vivi" Hermawan sedikit iba


"Terima kasih sarannya pak. Tapi kehidupanku terlalu rumit. Aku sudah dua kali gagal berumah tangga" Viviana kembali meneteskan airmata


"Bu" Panggil Putri pada Viviana


"Iya"


"Jangan berlarut dalam kesedihan bu. Ibu orangnya baik. Aku yakin, ibu akan menemukan orang-orang yang baik pula"


"Terima kasih, Put. Eh dicicipi dong. Oiya, ini nasinya banyak sekali Put" Viviana menurunkan oleh-oleh dari Putri didepannya


"Untuk teman-teman ibu"


"Oh... Makasih sekali lagi ya, semoga keberkahan selalu mendatangi keluargamu" Doa Viviana tulus

__ADS_1


"Aamiin... "


BERSAMBUNG


__ADS_2