
"Tunggu dulu... Jilbabmu.. " Teriak Fatih sambil menjulurkan jilbab, yang ada ditangannya
Retno berhenti mendadak. Begitu berbelok, Fatih sudah menjulang didepannya
"Mau minta gendong sama security?" Ucapnya, masih dengan jilbab yang menjulur
Retno merebut jilbabnya, lalu memakainya dengan kasar "Iyaaaa" Ucapnya menantang
Takut Retno beneran nekad, tangan Fatihpun segera mengunci pintu dari dalam.
"Kok dikunci, aku mau pulang" Retno berbelok kearah pintu, lalu berbelok lagi kearah suaminya
"Katanya mau minta gendong. Jadi nggak"
Lalu Fatih berdiri setengah jongkok, didepan Retno "Naik" Sambungnya sambil menepuk-nepuk punggungnya
"Bapak kuat pak?" Candanya sambil mengintip Fatih dari samping
Fatih berdiri tegak "Sayang jangan mengejek. Fatihah saja mas kuat. Apalagi sayang"
Retno bersedekap "Ya. Berat badanku cuma 20 kilo. Sama lengan mas aja, gedean lengan mas. Aku mah apa"
"Ahaha, 20 kilo itu isinya apa" Fatih menunjuk kedua kaki Retno "Ini berapa kilo" Kemudian Fatih menunjuk perut, lalu keatas, dan sedikit meremas dada milik Retno "Ini berapa kilo"
"Ih..." Retno mendorong tangan suaminya yang telah menunjuk-nunjuk, sambil meremas dadanya "Ini...." Retno menunjuk dadanya sendiri "1 ons, 1ons, puasss"
Fatih menatap Retno sambil senyum-senyum "Dih, gitu aja ngambek. Yuk ah pulang"
"Pulang? Memang mas sudah selesai"
Fatih mendekatkan wajahnya pada wajah Retno
Cup
Bibir Retno sudah menjadi santapan
Retno mendorong "Ih, kebiasaan"
"Nggak pa-pa sudah dikunci" Lalu Fatih kembali mencium bibir Retno yang akhirnya menjadi ciuman panjang
Retno yang mendapatkan serangan siangpun tidak menolak. Dia justru mengalungkan tangannya dileher Fatih, lalu membalas.
Fatih melepas pagutannya, menatap intens wajah istrinya, membuat Retno belingsatan "Terusin dirumah yuk" Kemudian, ia usap bibir istrinya, menggunakan ibu jarinya
-
Sesampainya dirumah
"Sayang, mas lapar"
"Lapar??" Jawabnya sambil mengingat-ingat "Aku juga iya" Retno segera menubruk dapur, untuk membuat sesuatu yang cepat "Memangnya sejak tadi pagi, mas belum makan sesuatu?" Ucapnya sambil berteriak
Fatih yang sudah mengganti baju rumahan, iapun kembali mendekati istrinya, lalu memeluknya dari belakang "Memangnya sayang menyisakan makanan untuk mas. Bawa kabur semua kan?"
"Salah siapa ngopi. Memangnya nggak sakit hati. Capek-capek dibuatkan sarapan, mas malah ngopi"
Fatih memeot mulut Retno
Cup
Lagi-lagi bibir istrinya yang ia santap "Iya maaf, kan cuaca hati tidak mendukung. Eh, masak apa sayang"
"Simpel aja, masak ikan manis pedas"
"Emm baunya enak. Emmmuah" Pipi Retno jadi santapan juga
Sambil mempersiapkan piring, sendok dan lain sebagainya, termasuk nasi, kembali ia mencium pipi Retno sebelah kiri
"Emmuah... Biar imbang"
"Imbang-imbang apa. Modus mulu.." Retno mematikan kompornya "Ah, matang" Retno mengendus-endus, sambil menuang ikannya kedalam piring
"Emmmp" Fatih ikut-ikutan mengendus-endus asap yang masih menguap dari kedua ikan yang masih panas "Sedapnya... Sini sayang, biar mas yang bawa kesana"
Mereka sudah diruang makan
Retno berdiri mengambilkan nasi kedalam piring "Segini cukup ?"
"Cukup sayang..."
Lalu mengambilkan satu ikan itu pada piring suaminya
Fatih menerimanya "Emmm perut mas sudah tak tahan.."
"Masih panas hati-hati"
"Iya sayang.."
Merekapun makan salah waktu dengan lahapnya
Setelah selesai makan siang menjelang sore, Fatih kembali mencium pipi kanan istrinya "Makasih sayang.. Masakanmu benar-benar enakkk"
__ADS_1
-
"Sayang.. Petang ini, keluarga besar kita akan mengadakan bulan madu"
"Bulan madu?? Maksudnya? Bulan madu diawan biru"
"Itu nyanyian. Kita akan bulan madu ke Bali. Siap-siap"
"Kenapa baru ngomong"
"Sebenarnya sudah lama digagas oleh keluarga. Hanya kita saja yang menjadi korban keganasan mereka"
"Kok, keganasan"
"Yaiyalah. Sudah tau bulan madu itu butuh tenaga, waktu. Ini malah maksa, udah gitu rombongan lagi. Mending disini nggak ada yang ganggu"
"Ahahaha ahaha. Mas lucu kalau marah. Tapi menyebalkan lagi kalau kayak kemarin"
"Sudah, jangan ngeledek begitu" Fatih mulai mengambil baju yang perlu dikemas
Retno mulai mengabsen kopernya, yang tadi pagi mengeprank suaminya, seakan dia yang mau minggat "Mas, koperku mana"
"Koper yang mana"
"Yang, tadi pagi aku tata"
"Lah, bukannya sayang membawanya kebawah" Bohongnya, padahal dia yang menyembunyikan
"Enggak. Orang tadi pagi aku hanya membawa sarapan" Retno sedikit menoleh kearah suaminya. Tapi dilihat dari lagaknya, Suaminya tau dimana kopernya berada "Mas manaaaa... Dimana kopernya..."
"Mas nggak ngerti"
"Bohong!! Mas pasti tau. Mana ada tuyul mau narik koper. Palingan tuyul yang berambut. Mas, manaaaa"
"Memangnya isinya apa sih. Yaudah pakai koper ini aja"
"Nggak bisa. Ntar kita berlibur, aku nggak pakai CD. Nggak mau"
"Cocok itu"
"Cocok apanya. Masuk angin iya. Ah.. Mana kopernya.. Itu isinya CD sama Bh semua"
"Ahaha" Fatih tertawa terpingkal pingkal "Jadi, tadi pagi itu mau minggat, tapi bawanya daleman doang?"
"Iya... Ih, buruan"
"Haha.. Yaudah, sayang keluar duluan" Fatih mendorong Retno, agar Retno keluar sebentar
"Enggak" Ucapnya sambil menoel dagunya Retno
Retno sudah manyun berdiri didepan pintu kamar yang sudah ditutup oleh Fatih
"Sayang masuuuukkk" Teriak Fatih dari dalam
Retno membuka pintu, lalu melongok "Tuh.." Retno langsung menubruk kopernya "Diumpetin dimana tadiiii.."
"Sulapan"
"Sulapan apa !! Harus ngeluarin aku dari kamar. Bohong!!"
"Udah, yang penting ketemu"
Retno mau membuka kopernya, tetapi Fatih mengintip
"Ngapain ngintip. Nggak boleh !!"
"Isss sedikit"
Retno memeluk kopernya "Kalau ngintip terus, akan aku peluk nih koper, sampai pagi"
"Iya, ya.. Itu bajuku. Sekalian dimasukin ya, emmuah"
Kembali, bibir Retno sebagai santapan empuk
Retno manyun sambil melirik orang yang melintas, yang sudah berkali-kali mencuri cium bibirnya
Selagi Retno sibuk menata koper, Fatih tidak henti-hentinya menggoda
"Masssss.... Hentikan...."
"Ahaha" Fatih berlari keluar, karena Retno mengejarnya, menggunakan sapu lidi pembersih kasur
Retno sudah berdiri diambang pintu "Sekali lagi ganggu, aku nggak mau ikut bulan madu" Teriaknya
"Ahaha.. Terus, mas bulan madunya sama siapa"
"Sama pohon pisang"
"Lah.. Nggak enak. Nggak cantik kaya kamu"
"Tempelin aja poto pengantinku di batang pohonnya. Dan bayangkan"
__ADS_1
"Ih nggak mau, keras"
"Oh, berarti mas pernah coba ya"
"Enak aja. Bengkok entar. Nggak sampai kekamu"
"Ahaha"
Brakk
Pintu ditutup dari dalam
-
Beberapa jam kemudian, mereka berkumpul untuk berbulan madu ke Bali, bersama rombongan keluarganya
Papa Ilham, mama Sifa, keluarga Fariz, keluarga Husayn, serta pasangan baru yang akan berbulan madu, tetapi pengirimnya banyak sekali
Mereka sudah siap terbang menuju ke Bali
Belum lagi keluarga Hanan, yang langsung menuju bali. Serta Aaliyah bersama bik Lis, yang juga langsung menuju ke Bali
Pulau Bali, sangat terkenal sebagai salah satu tempat terbaik bulan madu dikalangan wisatawan Indonesia, bahkan sampai terkenal ke mancanegara.
Faktanya, ini ditunjukan dari banyaknya villa, hotel dan tour agent yang menawarkan Bali paket wisata honeymoon.
Salah satu paket honeymoon yang disukai pasangan yang sedang bulan madu di Bali adalah paket tour Ubud.
Namun tidak semua pasangan honeymoon memiliki kemampuan atau budget untuk membeli paket honeymoon ke Bali.
Nah yang menjadi pertanyaan, apakah ada alternatif aktifitas dan tempat bulan madu di Bali yang romantis & murah?
Mereka sudah sampai dirumah, yang Fariz miliki
Fariz sengaja mengajak seluruh keluarganya, untuk mengawali numpang dipenginapannya, sebelum penginapan ini ia sewakan kepada tamu lokal, ataupun turis mancanegara
"Wow, jadi itu didepan, rencananya mau kamu bangun kamar-kamar gitu ya?" Tanya Fatih
"Iya. Dananya masih kurang. Makanya, sambil kita berjumpa disini, aku ingin minta sumbangan duit dari kalian" Ucap Fariz pada semua kakak-kakaknya "Terutama sama kamu kak, pengantin baru"
"Aku??" Jawab Fatih
"Yaiyalah, amplopnya kan masih tebal"
"Ahaha" Semua orang tertawa
"Iya betul itu.. Laundry nya juga laris manis. Tanam saham yang banyak" Ujar Husayn, membuat Retno malu teringat kemarin
"Hebat" Fariz tepuk tangan sambil menepuk-nepuk punggung Fatih
"Itu bisnisnya Retno" Jawab Fatih
"Nggak masalah. Duitmu banyak kan? Keluarin ah"
Ahaha
Mereka bercanda begitu hangat di gazebo yang ada ditengah-tengah bangunan
Dengan kayu yang diukir, cocok sekali dengan perabotan milik Orang-orang kaya dulu. Klasik, tapi bernilai seni tinggi
-
Pagi harinya, dihari pertama
Mereka akan perkunjung ke pulau penyu
Untuk menuju kepulau penyu Tanjung Benoa, mereka akan menggunakan perahu glass bottom boat, dengan kapasitas maksimum 10 orang.
Fatih dan Retno sudah naik perahu rombongan 1. Husayn dan Ratna juga sudah duduk rapih disana
"Bund.. Bunda sama daddy, ikutnya kapal pengantin baru aja" Usir Imran
"Lah terus, adik-adik sama siapa" Tanya Alana
"Itu urusan kami bund" Saut Altaaf
"Iya, disitu kan ada 5 pasang pengantin" Selah Fatihah "Jadi aku pilih perahu ini aja. Bareng bik Lis, ya bik"
"Iya" Jawab Lis
Akhirnya, perahu 1 ditumpangi oleh pasangan Fatih, Hanan, Husayn, Fariz. Dan tidak ketinggalan pasangan lawas papa Ilham dan mama Sifa
Perahu 2 ditumpangi oleh Fatihah, Imran, Altaaf, Zira, Arin, Sayra, Fawaz, Ghoziya, Faruq, Aaliyah, dan bik Lis
Di dasar perahu yang mereka tumpangi, terdapat kaca, sehingga para penumpang dapat melihat dasar laut pantai Tanjung Benoa.
Duduk dalam perahu sambil menikmati pemandangan laut Tanjung Benoa, seharusnya sangat romatis bagi pasangan bulan madu.
Tetapi, karena pengiringnya terlalu banyak, romantisnya hilang berantakan
BERSAMBUNG......
__ADS_1