
Retno masuk kekamar, tetapi ia belum tau jika suaminya sudah pulang. Retno hanya melihat Fatihah yang sedang duduk dan menjaga kedua adik-adiknya seperti sebelum ia keluar dari kamar
"Fat, Daddy belum pulang ?" Tanya Retno sambil memegang punggung Fatihah
Fatihah mendongak "Udah tadi" Jawabnya sibuk dengan rambutnya yang sedikit berantakan
"Dimana?"
"Dikamar mandi"
Retno menoleh kepintu kamar mandi yang masih tertutup "Oh" Retno mengusap rambut Fatihah "Dari tadi kau tidak tidur?" Kemudian Retno duduk disamping Fatihah sambil membenahi selimut pada kedua bayinya
"Udah. Dibangunin daddy. Diancem barusan"
"Diancem bagaimana ?"
"Suruh pindah. Katanya awas kalau Fahri dan Fahmi tercecer. Emang apaan tercecer. Air??" Kesalnya
Retno tersenyum sambil melirik suaminya yang barusan keluar dari kamar mandi "Sudah, jangan diladenin daddymu"
Fatih ingin protes, tetapi tangan Retno seakan menyetopnya 'Jangan'
Fatihah langsung berbinar dan memegang kedua tangan Retno "Jadi, aku boleh tidur disini kan? Bersama mereka" Tunjuk Fatihah pada kedua adiknya
"Tidak boleh !!" Ucap Fatih melarangnya "Kau tidur dikamarmu. SENDIRI !!!" Lalu Fatih sibuk mengusap rambutnya dengan handuk
Fatihah berdiri sambil hentak-hentak lantai "Daddy ih. Pelit"
"Pelit. Memangnya kamu bisa menjaganya??" Cecar Fatih karena belum percaya Fatihah itu bisa menjaganya
"Bisalah. Aku kan udah gede dad. Suudzon amat sih, sama anak sendiri"
"Gede wujudnya. Tapi tidurnya kayak anak kecil"
"Dad"
"Nggak!! Daddy nggak ngijinin kamu tidur bareng mereka"
"Kenapa dilarang. Mami Retno aja enggak"
Mereka sudah berhadapan adu dada
"Karena mami belum tau model tidurmu. Yang persis, kayak komedi putar. Nggak bisa" Fatih tetap kokoh melarangnya
"Heran, kokoh banget kayak gapura kabupaten. Kaku" Gerutunya membuat Retno cengar-cengir ingin tertawa
Fatih ingin mengeluarkan jurusnya lagi, begitupun dengan Fatihah. Mereka sama-sama ingin aduh kekuatan
"Eit eit eit, udah. Maksud daddy apa? Yang tidurnya kayak komedi putar itu siapa??" Kata Retno menengahi
Mereka saling tunjuk "TUH !!"
"Enak aja daddy. Kamu !!" Protes Fatih
"Ehehe" Fatihah mendorong daddynya "Itu kan dulu daddy... Dulu banget. Sebelum daddy nikahin mami" Tunjuk Fatihah pada Retno "Lagi jamannya daddy nangis mulu" Goda Fatihah
"Hus" Fatih sudah mencubit pantat Fatihah
"Adda da dah" Fatihah mengibaskan tangan papanya dan mendorongnya, lalu garuk-garuk karena sakit biar cepat memudar "Cie malu.." Godanya lagi sambil menunjuk-nunjuk papanya
Tangan Fatih sudah diudara ingin mencubitnya lagi
Tangan Fatihah segera memegang tangan papanya untuk menghentikan aksi sang papa "Daddy.. Pantatku sakit tau, beneran. Jangan cubit-cubit terus ya? Ya daddy sayang, ya"
__ADS_1
Fatih menurunkan tangannya "Sukurin. Salah sendiri berani sama orang tua"
"Kan daddy yang menghakimi aku duluan"
"Menghakimi bagaimana?? "
"Sekarang aku enggak dad. Tidurku anteng suwer"
"Tetap saja daddy sangsi. Sana keluar dari kamar daddy"
"Ish. Aku kangen sama adik-adikku dad. Mosok dilarang"
"Mosak mosok. Kalau daddy bilang nggak boleh, ya nggak boleh"
"Daddy masih sangsi padaku??" Suara Fatihah mulai meninggi karena rayuannya belum berhasil
"Iyalah jelas"
"Daddy... Aku tuh dah gede. Prawan. Aku tuh sudah jago ngedepin orang. Kenapa ngadepin tidur bareng adiknya saja dilarang. Salahku dimana, daddy"
"Ck. Baru ngadepin orang aja begaya"
Fatihah sudah ingin menangis, karena kalah perang argumen sama papanya
"Ah, daddy payah. Ihhhhhh" Fatihah mencubit lengan papanya sambil mencak-mencak
"Eh, eh, eh. Lepasin, daddy sakit"
-
Pagi harinya
Keluarga papa Ilham sudah sibuk untuk menyambut para tamu-tamunya yaitu anak, menantu, Dan juga cucu-cucunya
Mama Sifa sungguh beruntung tidak capek untuk melakukan ini dan itu. Urusan dapur, semuanya Retno yang meng handle
Meskipun usia Retno belia, masalah menu makanan, ia jagonya. Bahkan mama Sifa yang notabenenya pemegang restoran, itupun kalah
"Sudah ya bik, aku kedepan" Pamit Retno pada kedua asisten rumah tangga disini
-
Retno kedepan, ternyata sudah berkumpul dan sudah ramai
Ratna sudah tersenyum menatap Retno, setelah memeluk papa Ilham barusan
Ratna memeluk Retno "Hei, apa kabar. Sibuk ya?"
Mereka mengurai
"Sedikit mbak"
Kemudian bersalaman dengan Husayn "Gimana laundrynya, lancar ?"
"Lancar kak"
Husayn dan Ratna saling senyum, dan duduk dengan rapih
Selagi Retno menyambut pasangan Hanan dan Alana, terlihat Hawa sedang berisik didepan Fatihah
"Hallo Fatihah, katanya kamu KKN. Kok dirumah?" Tanya Hawa "Hayo.. Bolos kamu ya??"
"Ish, mama. Mana ada anak baik-baik kayak aku main bolos. Bisa-bisa digiling lembut persis bakso ma, sama si daddy" Jawab Fatihah ngadu
__ADS_1
"Huh, kejam banget daddymu. Daddymu berani giling kamu mentah-mentah?? Mana orangnya?? Langkahin dulu mayatku" Ucap Hawa berapi-api
"Hei hei hei. Ini aku. Pikun banget. Tadi kan barusan bersalaman" Fatih sudah berdiri didepan Hawa
Hawa menatapnya "Hehe, kirain bang Hanan"
"Aku disini Hawa" Hanan sudah melambaikan tangan
"Aku sudah tau bang. Aku pura-pura nggak liat dia hihi" Hawa terkekeh sambil berjinjit ingin kabur dari Fatih
Fatih menarik kerah milik Hawa
Hawa mematung
"Katanya ingin melawanku. Dengan cara apa?"
Hawa berbelok "Enggak jadi bang. Sepertinya aku kalah sama abang. Abang terlihat muda dibanding bang Fariz dan bang Husayn"
"Hei, sini kamu" Suara Husayn sudah menyaut sambil berdiri
Hawa melongoh "Wah, musuhku ternyata banyak"
Fatihah mengompori "Iya. Hajar aja ma. Fatihah dukung 1 kilometer dari belakang"
"Yang ada mama remuk duluan sebelum kamu datang Fat" Hawa mencubit pipi Fatihah pelan
Semuanya geleng-geleng dengan kegaduhan ini
"Terus, terus. Saling dukung sana" Ucap Fatih yang sudah mulai duduk berbaur dengan saudaranya
"Jangankan anak orang. Ayam aja didukung" Selah Fariz
"Iyakah. Pernah tuh kejadian" Timpal Husayn
"Ya pernah, barusan"
"Iya Wa ??" Tanya Husayn penasaran
"Orang aku tidak bersalah kok. Tau-tau dilabrak sama ibu berdaster, disuruh ganti rugi. Ah, heran aku"
"Maksudnya, maksudnya?" Hanan mulai ikut-ikutan nyrimbung
"Begini bang. Tadi tuh bang Fariz katanya capek, dan nyuruh aku yang nyetir. Eh, digang bakso, ada ayam lewat tanpa aba-aba. Ya aku tabraklah. Salahku dimana?? Eh, yang punya ayam marah-marah minta ganti rugi 250 ribu rupiah. Ya aku belain ayamnya lah"
"Aku belum ngeh kamu cerita" Ucap Husayn lagi
"Duh bang Husayn. Ayam itu biasanya bermainnya dimana coba aku tanya"
"Kebun"
"Nah, itu maksudnya. Kenapa dia berlarian dijalan. Dijalankan banyak kendaraan. Harusnya hati-hati dong. Kalau aku nabraknya dikebun, bolehlah aku disalahin. Berarti aku yang salah. Sampai disitu faham kan, para dokter ??" Hawa mengabsen ketiga dokter kembar yang berbeda keahliannya
"Oh"
Kemudian Hawa melanjutkan cipika cipikinya pada Retno yang paling ujung "Heii.." Hawa memeluk Retno "Apa kabar"
"Baik mbak"
"Sini, sini, sini. Duduk bersama kami para mantu. Urusan dapur, biarin diurus sama bibik, ya ma" Hawa menarik lengan Retno sambil meminta izin sama mama Sifa
Retno hanya menurut, karena Hawa memang bisa bercanda dengan siapa saja diberbagai usia
Mama Sifa hanya tersenyum. Menantu yang satunya memang agak somplak. Jadi keluarga ini sudah hafal
__ADS_1
BERSAMBUNG....