Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Rambutnya Bagus Banget


__ADS_3

Retno berdiri ingin berpamitan "Fat"


Fatihah menoleh "Kok kakak berdiri, kakak mau ngapain"


"Waktunya sudah petang, aku mau pulang. Takut ibu sama babe ngangenin aku, he" Canda Retno. Ucapnya juga sedikit sopan karena didepan orang yang lebih tua


"Ih, tanggung maghrib kak" Rengek Fatihah


"Iya betul, kata Fatihah. Kalau begitu, lebih baik, sholat dulu disini. Habis itu, boleh deh pulang, ya?" Sifa memberi solusi biar sama-sama enak


"Eng, iya deh"


"Ya sudah, ayo masuk ambil wudhu. Ajak kekamar sayang" Sifa mendorong pelan punggung cucunya


"Siap ma" Ucap Fatihah sambil menggandeng Retno "Yuk kak"


Fatihah naik bersama Retno kekamarnya


Sifa memegang lengan Fatih yang sejak tadi belum duduk "Kamu juga. Buruan bersihin badanmu. bau"


"Ah mama"


"Buruan ah, maghrib"


"Iya"


Retno memasuki kamarnya Fatihah, mulai terkagum-kagum melihat kamarnya yang serba berwarna pink.


Dari aksesoris tembok juga berwarna pink. Jam dinding, seluruh piguranya berwarna pink semua


Jam weker, boneka, sprei, selimut. Apapun berwarna pink. Sampai baju rumahannya saja, semuanya berwarna pink


"Kamu suka warna pink?"


"Iya kak. Ini kak mukenanya. Aku ambilin yang jumbo ya" Fatihah menarik mukena yang bersih dari lemari, yang berwarna pink juga


"Ini nggak ada warna yang lain?"


"Ada sih, putih" Fatihah mau menariknya lagi ditumpukan khusus mukena, namun paling bawah


"Sudah-sudah, biarin yang ini aja. Yang itu jarang dipakai?" Tunjuk Retno


"Itu khusus kalau aku ke masjid kak. Biar sama kayak yang lain"


"Oh, jadi kalau kamu sholat dirumah selalu pakai warna yang pink?"


"Iya. Dan kalau ke masjid, aku dilarang sama grandma memakai yang berwarna. Grandma bilang kayak anak kecil. Disamping itu, dimasjid kebanyakan makainya warna putih. Biar tidak mencolok gitu katanya, biar nggak ganggu jama'ah yang lain"


"Oh, ya betul"


"Yuk, wudhu dulu kak. Disini" Tunjuk Fatihah sekaligus membukakan pintu kamar mandi untuk Retno "Kakak duluan ya, aku mau ganti pakaian dulu"


"Iya"


Kamar mandi juga semuanya berwarna pink. Sampai tirainya saja, semuanya pink


Setelah Retno usai, iapun keluar kamar mandi dengan rambut yang terurai


"Ih, bagus sekali rambutnya" Fatihah memutari badan Retno "Kriting, tebal, berkilau, kayak rambutnya Arin, hahaha"


Sambil menggulung rambutnya "Arin siapa?"


"Sepupuku. Rambutnya kribo, tapi nggak mau dikuncir. Dijilbabin juga nggak mau. Mama Alana sampai pusing sama tuh bocah"


"Oh, masih bocah"

__ADS_1


"Iya, paling masih SD kelas satu. Tapi jahilnya tidak ketulungan. Kalau jalan sama kakak pantes deh, jadi anaknya"


"Hus, berarti aku hamil duluan dong, kalau sudah punya buntut anak SD"


"Iya, ya. Belum lulus SMA, kakak sudah hamil, hahaha"


"Sayang........ " Panggilan dari bawah sudah berkumandang


"Walah, walah. Suara daddy sudah menggema kak. Aku wudhu dulu" Fatihah langsung berlari menuju kamar mandi


Setelah usai berwudhu, iapun buru-buru berlari


"Yuk kak, turun"


"Eh, jangan lari"


"Iya mama muda" Ucapnya lepas begitu saja. Padahal tidak ada niat sedikitpun


Fatih berjalan didepan, menuju musolah yang ada disamping dapur


-


"Temannya disuruh makan dulu sayang" Sifa menyuruh Fatihah, untuk mengajak Retno makan malam bersama


"Kakak, jangan pulang dulu" Tangan Retno ditarik paksa oleh Fatihah, menuju ke meja makan


Ilham dan Fatih sudah duduk dikursi ujung dan ujung. Sifa masih berdiri mengambilkan nasi untuk suami tercinta


"Sini-sini. Biar papa yang ambilin" Ilham selalu membantu melayani Sifa


Ademnya kalau melihat pasangan ini


Dan ternyata, Fatihpun demikian. Bukannya Fatihah yang mengambilkan makanan untuk papanya, tapi papanya yang selalu mengambilkan makanan untuknya


Kemarin waktu dirumah Retno, semuanya Retno yang ambilkan


"Sudah om sudah, biar aku yang ambil sendiri" Lalu Retno mengambil makanan sendiri


"Seharusnya kamu sayang, yang ambilin" Sifa menyindir Fatihah "Anak cewek kok nggak bisa apa-apa"


"Hehe" Fatihah hanya nyengir kuda


-


Setelah makan, Retno benar-benar ingin pamit


"Fat, pak, bu, om. Saya permisi. ibu dan babe pasti menunggu. Terimakasih atas makan malamnya, SMP ya bu" Cengirnya sambil bersalaman


"Apa tuh SMP ?" Saut Fatih


"Sudah makan pulang"


"Oh hoho" Ilham ikut tertawa


Yang lain juga ikut tertawa. Sedangkan Fatih hanya manggut-manggut dan tersenyum


Semuanya mengantarkan sampai keteras


"Bener kak, kakak berani pulang sendiri" Fatihah masih pegangan stang motor milik Retno


"Iya"


"Ih kakak, kok buru-buru pulang sih. Nginep disini aja ya" Larang Fatihah


"Maaf, lain kali aja ya.. Ntar babe sama ibu kasihan nungguin aku sampai pagi. Ntar pada nggak bisa tidur. Dikira aku minggat beneran Fat"

__ADS_1


"Ih, mana ada minggat. Minggat kok izin. Dan itu, tau perginya denganku. Ya, nginep ya kak" Rayu Fatihah


"Lain kali ya.. Nggak pantas. Biarpun malam, lebih baik anak prawannya babe harus pulang. Dah ya"


"Ih, kak. Anterin dad" Fatihah sekarang merayu bapaknya


"Nggak usah, nggak usah. Jalanan ramai kok, pasti aman" Tolak Retno tidak mau dianter


"Yah.. Daddy sih, kaku"


Retno yang pergi, Fatihah yang galau. Sedangkan Fatih hanya terdiam seperti patung pancoran


-


Setahunan lebih, malam yang sunyi terus menyelimuti Fatih


Terkadang sudah tidak sanggup untuk melaluinya, tapi kembali kepada Fatihah yang butuh dirinya


Andaikan bisa pergi, Fatih ingin pergi dari hiruk pikuknya kota metropolis ini


Tapi dibalik lagi, Fatihah dengan siapa. Kehilangan Viviana saja susah untuk menghapusnya


Malam mulai dingin, tapi Fatih belum bisa memejamkan matanya


Fatih bangun, dan keluar dari kamar.


Ia memasuki kamar putrinya yang selalu terang lampunya


Fatih mulai mematikan lampu utama, dan menggantinya dengan lampu tidur. Mengecup kepalanya, mengusapnya, lalu keluar lagi


Hanya itu yang bisa ia lakukan setiap malam, untuk memastikan bahwa putrinya baik-baik saja


Fatih kembali kekamar


Semuanya sudah terlihat sepi dan sunyi. Seluruh penghuni rumah ini, semuanya sudah terlelap dikamar masing-masing


Fatih merebahkan tubuhnya yang lelah, namun fikirannya melayang keangkasa


Tidak ada yang bisa mengukur kepedihan hati seorang Fatih, yang ditinggalkan sosok wanita yang ia cintai


Selalu ada luka yang mendalam, yang sulit disembuhkan ketika ia melihat orang yang dicintai melenggang didepannya


Itulah yang dialami Fatih


Seorang pria dewasa, pendiam, seorang suami yang harus rela menerima kepergian istrinya, untuk pindah kepelukan laki-laki lain


Entah butuh berapa tahun lagi dirinya harus menerima kenyataan ini


Ketiga saudaranya gedek dengan kelakuannya


Sampai Fariz pernah membuktikan bahwa istri Fatih pada saat itu, bermain serong dengan pria yang kini menjadi suaminya


Viviana sering pergi dengan teman sosialitanya, namun ada pria-pria muda yang bergabung dengannya, termasuk laki-laki bayangan yang menjadi benalu dikehidupan Viviana. Tetapi Viviana buta hatinya


Viviana selalu mengeluh dengan Ratna istri Husayn. uangnya selalu habis. Dan menjelek-jelekkan Fatih yang selalu pelit dengan keuangannya


Lalu, jatah Fatih dan uang gajinya dimana? Untuk apa?"


Dan ternyata, uang habis bukan karena untuk membeli perhiasan ataupun mengikuti arisan, melainkan untuk menjatah lelaki bayaran Viviana


Terbukti, aksinya ketahuan Fariz, Viviana langsung melayangkan gugatan cerai kepada Fatih


Tadinya, Fatih bersih keras tidak mau bercerai, sampai jadi pelayanpun dirumahnya, Fatih selalu menerima


Inilah salah satu putra Ilham, ada yang melehoi didepan wanita, yaitu Fatih orangnya

__ADS_1


Dari situlah, Fatih keluar dari rumahnya karena tarikan dari ketiga saudaranya


BERSAMBUNG......


__ADS_2