Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Kangen


__ADS_3

Sebelum melangkah memasuki lift, Fatihah berdiri menatap perut Retno


"Kakak.. Daddy bilang, kakak lagi hamil ya?"


Retno menatap perutnya, lalu memegangnya "Iya. Fatihah..." Ada jedah. Retno sedikit takut jika kehamilannya tidak disukai oleh Fatihah "Suka tidak? Maksudku, kamu malu tidak"


Fatihah terdiam sebentar, lalu mengalung diperut milik Retno "Kenapa musti malu. Asal daddy bahagia, aku ikut bahagia kak"


Retno tersenyum "Makasih" Kemudian Retno merangkul Fatihah


"Kakak kenapa merasa takut. Kakak takut, kalau aku tidak suka?"


"Bukan begitu. Kamu kan sudah besar"


"Nggak pa-pa kali kak. Kakak kan masih muda. Justru, aku tu mikirin kakak. Kakak tidur sama daddy malu nggak?"


"Kenapa musti malu"


"Daddy kan sudah tua"


Retno tersenyum kecut "Sudah jodoh Fat. Kalaupun aku ngumpet, daddymu pasti nemuin"


Mereka saling tatap, lalu


"Ahahaha"


-


Mereka berdua sudah dilantai dasar


"Mampir kelaundry dulu yuk" Ajak Retno


"Ngapain? Nyuci? Kok nggak bawa baju"


"Nggaklah, nyucinya besok lagi"


Kluning-kluning


Retno sudah membuka pintu masuk "Hai semua..." Sapanya pada semua pegawainya


"Wah, kok nggak bawa baju" Ucap Sri yang sedang sibuk menyetrika


"Nggak.. bajunya belum diberesin"


Fatihah yang mengikuti Retno dari belakang, sedikit bingung.


'Retno laundry'


"Kakak..." Panggil Fatihah


Retno menoleh, lalu menarik tangan Fatihah "Oh iya.. Bu, mak, Sri, kenalkan. Ini Fatihah, putrinya mas Fatih"


Fatihah yang baru mendengar Retno memanggil papanya dengan sebutan mas, iapun protes "Kakak... Kok kakak panggil daddy emas.."


"Bukan emas, tapi mas" Selah bu Erna


"Hehe iya bu" Merekapun bersalaman "Fatihah bu" Ucapnya ramah "Kakak, kakak nggak salah panggil"


"Loh, ya nggak toh nduk. Sebutan itu malah bagus. Kan menghormati suaminya" Masih bu Erna


"Hehe lucu bu"


"Kenapa lucu. Nah, yang lucu, itu kalau genduk Fatihah, menyebut Retno pakai sebutan kakak. Harusnya kan bunda, mama, mami, gitu"


"Ih, masa mami bu. Kak Retno kan masih muda, usia kami hampir sama bu, beda dikit"


"Tapi tetep, kak Retno itu, ibu sambung nak Fatihah"


"Iya deh bu, ntar aku latihan. Kakak.. Eh, tuh kan susah"


Semuanya tersenyum


Bu Erna tersenyum "Nggak pa-pa latihan"


"Hehe iya bu" Fatihah berbisik pada Retno "Kakak.. Ini laundry milik...."


Belum Fatihah melanjutkan ucapannya, sudah dipotong oleh Sri, yang samar-samar mendengar "Mama. Mama Retno"


"Iya" Fatihah bergelayut manja pada lengan Retno "Ih, malu" Fatihah menatap Retno "Malu kak"


"Latihan dong sayang" Selah bu Erna lagi


"Ih, gara-gara daddy nih.. Tadinya aku panggil kakak enak, sekarang harus ganti ahhhh"


Semua orang tersenyum lebar


Retno mengusap jemari milik Fatihah "Elsanya tidur ya mak" Tanya Retno pada mak Juni, yang sejak tadi diam, dan hanya menatap Fatihah


"Iya mbak.. " Jawabnya ramah


"Karyawannya ada yang tidur?" Tanya Fatihah yang tidak tau keadaan


"Bukan" Jawab Retno


"Nama kucing?"


Plok


Retno menabok tangan Fatihah yang masih setia nempel pada lengannya "Hus.. Nama bocah"


"Oh.. Maaf. Aku kan nggak tau kak, eh ma, mi. Ah.. Panggilnya jadi susah kan"


"Haha.. Ya sudah yuk.. Katanya kamu mau belanja"


"Iya" Jawabnya girang

__ADS_1


Akhirnya, Fatihah belum sempat bertemu dengan adiknya


-


Setelah mengantar Fatihah belanja, Retno kembali keatas


-


Malam harinya, Fatih pulang


"Sayang.. Mas pulang.."


Retno berjalan menyambutnya "Diluar hujan. Mas jadi kehujanan ya?"


"Iya sedikit"


"Mandi dulu mas, biar nggak sakit"


"Iya. Oiya, Fatihah sudah pulang?"


"Sudah mas" Jawabnya sambil membantu suaminya melepas baju


Fatih mengusap kepala istrinya "Emmuah, mas jadi kangen"


Kebiasaan Fatih selalu menyosor bibir istrinya


"Ini kan sudah ketemu"


Fatih semakin erat memeluk Retno "Iya, tapi masih kangen"


"Ih.. Sudah. Mandi dulu, ntar keburu dingin"


Fatih mengurai peluknya lalu menatap Retno intens "Sayang, perutku lapar"


"Iya. Mau makan apa?"


Fatih menjembel kedua pipi Retno "Mau makan kamu" Kemudian Fatih berlari kekamar mandi


Retno tersenyum simpul. Suaminya pintar menggombal


Retno berjalan kedapur, untuk membuatkan jahe geprek


Selagi Retno membakar jahe dan sereh, Fatih sudah mendekat dan langsung memeluknya


"Sayang sedang apa?"


"Bakar nyamuk" Bohongnya


"Ih... " Fatih kembali menjetol pipi tembem Retno "Belajar berbohong ini ibu hamil"


Setelah Retno meracik minuman jahenya, Retno membuka su su pouch "Mau dikasih su su nggak?"


Tangan Fatih yang tadinya melingkar diperut, ia naikkan keatas "Su su yang ini aja"


Plok


Mereka saling tatap


"Su su milik sapi enek. Mas maunya yang murni"


"Terus habis nyesap ini" Retno menunjuk seduhan jahe yang ada digelas, lalu menunjuk payu dara miliknya "Terus yang ini"


Fatih mengangguk


Retno mendorong Fatih "Ih, nggak mau" Lalu Retno menjauhi suaminya


"Kenapa nggak mau"


"Panas"


"Apanya yang panas"


"Mulut maslah. Udah gitu, ntar semut pada ngerubung. Nggak mau. Dadaku yang jadi korban"


"Ahaha. Masa gitu, ya enggaklah. Sehabis berantem kaki kan selalu mandi. Ya bersihlah nggak ada jejak"


"Iya, jejak mas sudah nyangkut disini"


"Dih istriku.." Fatih memeluk istrinya lagi dari belakang "Sekarang istriku tambah pinter, melebihi dosennya"


"Siapa dosennya. Dosenku nggak ada yang jurusan reproduksi seperti itu"


"Ya udah, dosennya mas kalau urasan reproduksi"


"Ih maunya. Jurusan mas kan jantung, mana tau tentang kandungan"


"Kata siapa. Ayo, tinggalkan meja makan. Sekarang, mas ajari tentang reproduksi. Dikamar"


"Ih, nggak mau"


"Eh, dosa loh istri menolak ajakan suami" Lalu, Fatih menyesap wedang jahe


Seruput...


"Huhu huh panas"


Fatih merangkul Retno "Kita praktik"


 "Tapi mas. Apa, hubungan ini nggak mempengaruhi keselamatan bayi kita"


Sebagian ibu hamil mungkin akan bertanya apakah bisa berhubungan badan saat hamil 2 bulan


"Ya nggak masalah, memangnya kenapa"


Sebenarnya sah-sah saja berhubungan badan, saat istrinya sedang hamil.

__ADS_1


"Oke, mas jelasin ya.. Usia kehamilan sayang, memang masih dalam tahap perkembangan awal. Baik perkembangan janin maupun plasenta. Terus, perkembangan mas bagaimana" Fatih sudah menunjuk miliknya yang sudah menonjol


"Iket pakai tali rafia"


"Hoe, sayang tega"


Fatih membanting badannya, lalu memejamkan matanya


Retno yang melihat perubahan suaminya, ada rasa kasihan bila berhari-hari tidak dilayani diatas ranjang


Ya, Fatih sekarang jarang bercocok tanam disana


Satu, tidak berselera karena sering pening dadakan. Kedua, karena usia kehamilan istrinya memang rawan.


Tetapi untuk malam ini, dia butuh kehangatan


Retno naik keatas ranjang "Wedang jahenya nggak diminum?"


"Masih panas" Jawabnya sudah tak mengenakkan


"Kata mas tadi kan kedinginan. Makanya aku buatin minuman hangat. Istrimu bikinnya perjuangan loh mas"


"Kalau mas minum seemberpun, tetep kurang hangat. Udah ah, kalau mau tidur, tidur aja" Kemudian, Fatih tidur meringkuk membelakangi Retno


Retno menghambur memeluk Fatih "Sayang, lihat dong kemari"


"Nggak ah, tidur aja. Capek"


"Oh.." Retno membenahi tubuhnya. Ia duduk dan sedikit kecewa


Akhir-akhir ini, Fatih sering tersinggungsn


Fatih tetap meringkuk mempertahankan aksinya


"Ya sudahlah.." Retno keluar dan pindah dikamar Fatihah, yang belum Fatihah tiduri sejak pertama mereka tinggal disini


Fatih menoleh "Pergi kemana dia"


Fatih terduduk, lalu berjalan mencari dimana Retno berada


Fatih sudah sedikit panik. Semua ruangan kosong, tak ada istrinya disana. Hanya satu ruangan yang belum ia buka


Gerreeeet


Fatih membuka pintu


Terlihat ada seseorang yang sedang menggelung diatas tempat tidur


Fatih mendekati, lalu naik keatas ranjang, dan menggelung dibelakangnya


"Sayang, sayang sudah tidur?" Tanyanya sambil mengendus-endus telinga Retno


Retno yang belum tidur, dan juga sama-sama butuh, akhirnya menoleh kearah Fatih


"Mas kangen. Pindah yuk"


Retno mengangguk


Dengan hati yang berbunga, Fatih segera mengangkat Retno seperti model bridal


"Mas.. Turunin mas. Aku takut jatuh"


"Sayang.. Sayang jangan menyepelehkan tenaga mas. Kaukan pernah bilang. Ingin diangkat. Ini, mas buktikan"


"Gendong. Gendong aja gendong belakang. Jangan begini"


"Sudah, pegangan aja"


Retnopun menurut


Tangan Retno mengalung dileher Fatih "Begini ya mas"


"Iya.. Nggak takutkan?"


"Enggak"


Fatih membuka pintu dengan salah satu kakinya, lalu berbelok menghadap kepintu "Kunci sayang"


"Nggak ada orang ini"


"Sudah kunci aja, takut kecoa ngintip"


"Ih, mana ada"


"Haha" Fatih tertawa "Takut kalau Fatihah tiba-tiba datang. Diakan punya kuncinya"


"Iya juga ya mas"


Fatih sudah merebahkan sang nyai, lalu iapun menindihnya sedikit


"Mas kangen, boleh ya mas tengok?"


Retno mengangguk


"Sayang juga kangen kan?"


Retno hanya tersenyum. Malu rasanya kalau bilang iya


Fatih mengusap bibir Retno "Kangen nggak"


Retno menghamburkan "Kangen banget"


"Oh...." Fatih mengeratkan pelukannya


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2