
Beberapa minggu kemudian
Viviana tidak enak badan.
"Vi, sebaiknya hari ini, kamu tidak usah bekerja. Kamu istirahat dulu. Dan kamu harus berobat"
"Berobat dimana mbak. Aku tidak mau berobat kerumah sakit. Aku takut... "
"Yaelah. Klinik dekat pasar Lenteng kan ada. Periksa disitu. Kata orang-orang, disitu tokcer"
"Tokcer??"
"Iya. Cepet sembuh. Pasiennya juga banyak. Gimana kalau aku ambil nomor antrian, untuk kamu periksa nanti sore. Tahan nggak?"
"Nggak tau mbak"
"Ya udah deh, kamu berangkat bareng aku. Ntar ngantri disana sendiri, bisa?"
"Ya lah, begitu lebih baik mbak"
-
Vivi dan Wati sudah sampai diklinik tempat praktik dokter umum Hermawan
Vivi mengambil kartu antrian, dengan nomor 80
"Busyet. Jam setengah tujuh saja sudah nomor segitu. Mana pasiennya penuh lagi" Wati ngedumel, tapi tetap setia mencarikan tempat duduk untuk Viviana
"Vi, kamu aku tinggal sendiri nggak pa-pa?"
"Nggak pa-pa"
"Kalau kau pingsan, palingan kau akan diperiksa terlebih dahulu"
"Sudah, sudah sana pergi"
Waktu sudah menunjukkan pukul 08:00
Terdengar suara gaduh "Ya.. Pak dokternya keluar"
"Palingan sarapan bu" Timpal pasien lain yang sudah hafal
Dokter Hermawan keluar mengendarai motor, menggunakan jaket, dan memakai helm. Siapa sangka dia seorang dokter yang menghilang dari pasiennya, setelah 50 orang sudah ditangani dari jam 06:00
"Yuk lah, kita sarapan saja. Pak dokternya juga sarapan. Kenapa kita nggak" Ucap pasien lain yang duduk disebelah Viviana
Viviana ikut beranjak meninggalkan tempat ini
Setelah sarapan bubur ayam, Vivi kembali lagi keruang tunggu. Ternyata dokter sudah mulai praktik lagi dan sudah dinomor 66
"Jam 09:00" Vivi menunggu hingga jenuh
"Nomor antrian 77" Seorang asisten berdiri memanggil pasien dengan urutan sekian
"Kosong mbak" Jawab seseorang yang ikut mengantri didepan sana
"Baik. Lewati ya?"
"Ya mb"
"Nomor 78"
"Saya mbak"
"Ya pak, silahkan diperiksa tensi dulu ya pak"
Kemudian, nomor Viviana dipanggil juga, di jam 09:45
Viviana sudah ditanya soal biodata, dan sudah ditensi
"Ditimbang dulu bu"
Viviana menurut. Setelah urusan itu beres, Vivi dipersilakan masuk untuk segera diperiksa oleh sang dokter
"Silahkan masuk" Ucap salah satu asisten yang membukakan pintu tempat praktik dokter tersebut
"Viviana... " Dokter Hermawan mulai membaca, tetapi terhenti karena orang yang masuk, wanita yang sangat dikenalnya "Bu Vivi? Sakit apa? Duduk, duduk" Ucapnya ramah "Keluhannya apa?"
"Sering capek, pusing, dan berkunang-kunang"
"Oh, ya sudah, ayo diperiksa"
Viviana sudah berbaring dan siap diperiksa
Secara umum, perbedaan mendasar antara dokter umum dan dokter spesialis adalah pemberian layanan kesehatan yang bersifat menyeluruh terhadap pasien. Selain itu, dokter umum juga memegang peranan penting dalam memberikan perawatan medis awal dan berkelanjutan kepada pasien dari segala kelompok usia.
Dulu, dokter Hermawan ini bekerja dirumah sakit umum daerah, sebelum membuka klinik pribadinya.
Setelah klinik pribadinya ramai pengunjung, Hermawan mengajukan pensiun dini, dan fokus pada kliniknya, sampai sekarang
Memiliki keahlian anamnesis atau wawancara medis guna mencari tahu keluhan penyakit dan informasi lain berkaitan dengan penyakit yang dialami pasien, Hermawan mampu mengobati banyak pasien dengan kemampuannya meracik obat
__ADS_1
Pasien yang ditanganinya, banyak yang cocok dan cepat sembuh
Meskipun namanya melambung, pria berstatus duda berusia 50 tahun dan bermata sipit ini, tetap rendah hati dan selalu bersyukur
Dalam praktik sehari-hari, pasien yang mendatanginya, menderita beragam macam penyakit. Apabila dirinya sudah tidak mampu menangani, iapun segera merujuk ke dokter spesialis untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Viviana sudah duduk didepan dokter Hermawan, dengan meja sebagai pembatas
"Mbak Dwi, pasien yang diluar tinggal berapa?" Tanyanya pada salah satu asistennya
"Satu dok. Yang dua ntar sore aja katanya" Jawab Dwi sambil berlalu memberikan obat kepada pasien lain, yang sudah diresepkan oleh Hermawan
"Oh, suruh masuk aja tinggal satu ini. Dan diteruskan nanti sore"
"Oke dok"
Kemudian, pasien sisa satu, Hermawan periksa, meskipun masih ada Viviana yang sedang duduk anteng disana
Setelah menuliskan resep untuk pasien sisa satu tadi, Hermawan kembali fokus pada Viviana
"Maaf ya, sengaja agar saya fokus pada pengobatan bu Vivi" Ucapnya tersenyum simpul "Oiya, tadi bu Vivi sering mengalami pusing dan lemah?"
"Iya pak"
"Kalau dari pemeriksaan saya, bu Vivi mengalami darah rendah atau hipotensi"
Viviana mengangguk
Hermawan memegang lengan Viviana, untuk memeriksa tekanan darah
"Tadi didepan sudah diperiksa tekanan darahnya dok" Ujar Eka yang tugasnya memeriksa tekanan darah
"Oh"
Hermawan kesalnya tiada tara 'Anak buah tak tau diuntung' Kesal Hermawan dalam hati
Viviana tersenyum
Dokter yang baru ditemui kedua kalinya ini, sudah ingin PDKT dengannya
"Memang tadi berapa?" Tanya Hermawan pada Eka
"90/60" Jawab Viviana
Hermawan menatap Viviana 'Duh, mati kutu aku'
'Kelihatannya benar apa yang dikatakan Putri. Bahwa bu Vivi, terlihat bukan orang biasa. Dari tatapannya, selain cantik, bu Vivi wanita yang cerdas dan berpendidikan tinggi'
"Ah iya, iya"
"Bapak melamun?"
"Tidak. Sebentar, saya tulis resep dulu biar disiapkan oleh asisten saya"
Viviana mengangguk
Selagi menulis resep, Hermawan sekedar basa-basi untuk menanyakan sesuatu "Bu Vivi hari ini tidak kerja?"
"Tidak"
"Tadi yang mengantarkan kemari siapa?"
"Teman"
"Terus, temannya sekarang ada dimana?"
"Berangkat kerja"
"Oh, jadi bu Vivi pulang sendiri?" Hermawan menyodorkan kertas resep pada Dwi "Itu tolong kasih obat yang nomor satu" Ucapnya pada Dwi
Para asisten sebenarnya bingung, kenapa pasien baru tidak disuruh menunggu diluar. Padahal ini sudah waktunya untuk bersih-bersih
-
Sementara ditempat lain
Fatih setiap hari makin berwarna karena tangisan sang bayi yang ingin digendong dirinya, saat Fatih sudah siap-siap untuk pergi kerumah sakit
"Ulu ulu, bang Fahri selalu menangis ya jika daddy mau berangkat kerja"
Retno menidurkan Fahmi yang anteng, jika habis dimandikan setelah dijemur tadi
"Dulu daddynya gitu kali. Makanya obatnya pasti gendonganmu mas" Ucapnya masih membungkuk membenahi Fahmi agar nyaman tidur
Fatih ikut membungkuk
Cup
Pipi Retno dicium oleh Fatih "Kapan nifas?"
Retno meremang, lalu berdiri tegak didepan suaminya "40 hari lagi"
__ADS_1
Fatih terkekeh "Masa hampir kaya waktu iddah"
Retno tertawa
Fatih mendengus kesal. Kalender yang ia buleti, seharusnya masa nifas sudah usai
Retno berjinjit, lalu mencium bibir Fatih
Cup
"Ntar sore kramas" Ucapnya tersenyum lebar
Fatih membulatkan matanya "Yang benar?"
Retno mengangguk
"Wah.. Daddy mau pengantinan baru lagi bang" Ucapnya pada Fahri yang sudah terlelap didalam gendongannya
"Bayi sekecil Fahri belum tau pengantin baru mas. Taunya ingin tidur dan ne nen jika kelaparan"
"O.... " Fatih tersenyum menggoda
"Itu sudah tidur" Tunjuk Retno kearah Fahri dengan dagunya
"Ah iya. Suka lupa kalau menggoda emaknya" Fatih menidurkan Fahri disamping Fahmi
Fatih berdiri didepan Retno
Retno merapihkan kemeja suaminya yang agak kacau karena tangisan Fahri tadi
Fatih mengusap rambut istrinya kebelakang "Siang ini sudah bisa dipakai?" Goda Fatih membuat netra Retno membelalak dengan sempurna
"Mas"
Fatih berlari keruang tamu, dan dikejar oleh Retno
Fatih tertangkap dan digebukin oleh Retno "Dasar laki-laki me sum. Pokoknya, aku kramas 60 hari lagi" Sepuluh jari Retno sudah didepan Fatih
"Itu 10"
"Anggap aja ini 60"
"Sayang, milik mas kaku dong, karatan juga"
"Karatan, mana ada"
"Ya udah kaku deh, lama tak tengok"
"Kalau nggak kaku, mana bisa" Jawaban Retno menohok, membuat bola mata Fatih akan keluar semua
"Istriku parah"
"Itu karena ulah kamu mas"
Fatih sudah berbunga didepan istrinya "Mas cuti aja ya sehari ini"
"Mau ngapain" Retno bingung
"Persiapan pengantinan"
"Siapa??"
"Kita" Alis Fatih sudah dinaik turunkan "Iya, ya"
"Nggak bisa"
"Kenapa? Kangen banget mas, sungguh"
Retno melepas cakruk rambut yang ada dikepalanya
"Aku cakruk pakai ini ya"
"Ish, mana enak. Sakit ah, nggak mau"
"Ya udah kuambilin tang"
"Kalau tang besi mas nggak mau. Tapi kalau tanganmu, mas mau"
"Mas!!! Bener-bener ya. Lihat" Tunjuk Retno pada penunjuk waktu yang menempel di dinding
Fatih kaget "Hah!!!"
Fatih berlari keluar sambil membuka pintu. Namun tiba-tiba muncul kembali dan memeluk Retno erat
Cup
"Jangan lupa, persiapkan raga dan jiwamu, oke"
Retno mendelik, dan Fatih berlari kembali memburu waktu yang tinggal 10 menit
"Dasar ABG tua" Retno geleng-geleng sambil senyum-senyum
__ADS_1
BERSAMBUNG....